Rumah Hilang

Kakek tua itu kerap sering tertawa keras di siang hari lalu menangis di malam hari. Tidak ada yang ingat siapa dia sebenernya. hanya guru mengaji di mesjid yang masih mau memberinya makan setiap hari. Pakaiannya kerap tidak diganti berhari-hari, kotor meski untuk ukuran kami anak-anak kampung. Aku sendiri selalu takut ketika dia mulai berteriak-teriak dimalam hari. Dengan suara nyaring dia sering bertanya. “dimana rumahku?” “dimana rumah yang lain?” hanya itu yang dia ucapkan sambil menangis kebingungan, kadang dari tengah malam hingga adzan subuh berkumandang.

Kampungku terletak di sebuah lembah, dikabupaten terbesar di Garut selatan. Untuk mencapai kampungku harus menuruni puluhan anak tangga dari jalan aspal diatas. Cukup jauh untuk mencapai rumah pertama dan terus turun kebawah hingga rumah terakhir kampung kami. Sehingga orang kadang tidak sadar bahwa ada perkampungan di bawah sana jika tidak memperhatikan gapura yang kepala desa kami bangun puluhan tahun lalu. Orang yang lewat kebanyakan Hanya mampir untuk beristirahat sejenak di mesjid yang terletak beberapa meter diseberang gapura. Dimana kakek tua itu tidur dan makan sehari-harinya.

Nenek sebelum meninggal pernah bercerita bahwa tidak jauh dari kampung kami ada kampung lain yang terletak hanya beberapa kilometer dari kampung kami. Tapi kata nenek sekarang kampung itu tidak berpenghuni karena orang-orang sudah pergi ke kota mencari pekerjaan. Aku sempat berpikir bahwa kakek tua itu berasal dari kampung sebelah. Tapi aku sempat mencari kampung yang nenek bicarakan ketika aku bermain bersama teman-teman, tetapi hingga sekarang tidak pernah aku menemukan kampung tersebut.

Mendekati bulan januari hujan terus menerus turun setiap hari, kadang dalam beberapa jam dari sore hingga malam. Ayah selalu menasehatiku agar berhati-hati menaiki atau turun tangga dari jalan karena tangga akan menjadi licin. Selepas magrib ibu menyuruhku untuk membawa makanan untuk Pak Arief guru mengaji di mesjid, sehari-hari beliau tinggal disana di kamar kecil dibelakang mesjid. Aku enggan untuk beranjak karena saat itu hujan cukup lebat dan aku tahu diatas sana ada si kakek tua dan biasanya Ayah yang mengantarkan makanan kemesjid.

“tapi bu…” belum sempat melanjutkan perkataanku,ibu sudah melolot melihatku. Aku segera mengambil payung besar dan berjalan keluar.

Aku berjalan menaiki tangga yang terbut dari semen seadanya untuk berjalan ke jalan aspal diatas. Satu-satu anak tangga kuinjak perlahan-lahan dan berhati-hati karena licin. Aku terus menggerutu karena buat apa bersusah payah mengantarkan makanan untuk kakek gila yang hanya bisa berteriak “dimana rumahku?” itu. tidak beberapa lama aku sampai didepan mesjid dan segera dihampiri oleh Pak Arief penjaga mesjid. Aku melihat sekeliling dan segera menemukan kakek itu memperhatikanku dari dalam.

Pandangan Kakek tua itu tidak terlepas dariku saat aku membawa masuk makanan. bahkan ketika aku pulang kakek itu bangkit dan mengikutiku meski dalam hujan hingga ke arah Gapura. bahkan sampai di depan pintu rumah aku masih bisa melihat kakek itu melihat kearah rumahku. Aku menutup pintu dan sedikit merasa takut dengan tatapan kakek tua tadi.

…………………………….

Semakin malam hujan semakin besar, aku memutuskan untuk tidak segera tidur meski jam sudah menujukan waktu 10 malam. Aku hendak mengambil air wudhu ketika terdengar suara keras dari luar rumah.

“KELUAR!!” terdengar suara teriakan kakek tua sambil terus menggedor pintu rumahku. “KELUAR SEKARANG!!”

Aku panik dan segera keluar dari kamar, marah dengan kakek tua yang kini berteriak-teriak diluar rumah hingga membangunkan ayah dan ibuku. Aku segera membuka pintu dan hendak membentak kakek tua agar diam. Belum kata-kataku keluar aku melihat Kakek tua itu berdiri dengan wajah yang seperti penuh penyesalan, air matanya terus keluar dari kedua matanya… “ke…lu…ar.. se…karang” katanya perlahan sambial menangis melihatku. Aku melihat kedua tangannya yang penuh lumpur , air hujan yang turun dengan lebat diluar sana dan kaki kakek yang gemetaran. “rumah… hilang….” Ujar kakek itu sambil memperlihatkan lumpur ditangannya ke arahku. aku terhenyak sesaat dan mengerti apa maksud kakek ini.

Aku menoleh kearah ayah dan ibu yang berdiri di belakang ku.”AYAH IBU SEGERA KE MESJID SEKARANG!” Aku menarik lengan kedua orang tuaku dan mereka untuk sesaat seperti ragu.”TAK ADA WAKTU UNTUK MENJELASKAN, PERGI SEKARANG” Teriakku sambil memaksa mereka keluar rumah

Dalam hujan lebat Aku sempat menoleh ke arah tangga untuk memastikan kedua orangtuaku sudah beranjak keatas sebelum menggedor pintu tetangga dan menyuruh mereka keluar rumah. Dan terus berteriak agar tetangga lain pun ikut bangun. Dan segera keluar. beberapa tampak ragu tapi setelah melihat kedua orang tuaku diatas jalan mereka pun segera menyusul. Dalam hitungan menit aku berasa semua warga kampungku sudah keluar dari rumahnya masing-masing. Dan saat itulah aku mendengar suara gemuruh dari atas jalan.

Tanah mulai bergetar cukup kencang, aku melihat keatas dan tanah dari arah jalan mulai bergerak turun, aku segera berlari dan melompati anak tangga dengan cepat. Tanah longsor yang kakek tua coba beritahu kepadaku sudah terjadi. Aku melompati dua anak tangga sekaligus agar lebih cepat. Beberapa anak tangga berhasil kulompati dengan cepat, tetapi tanah yang licin dan hujan yang lebat membuatku salah berpijak, aku kehilangan keseimbangan dan kepalaku terbentur anak tangga. Segera hanya gelap yang dapat kulihat.

…………………………….

Ketika ku buka mata, ibu sudah berada disebelahku. Pakaianku masih penuh lumpur dan kotor juga pakaian ibu dan beberapa warga lain yang sekarang berada didalam mesjid.

“siapa yang menolongku bu?”

“Kakek tua itu” ujarnya hampir menangis.

Aku bangkit dan menghiraukan peringatan ibu utnuk tetap tidur. Aku berjalan keluar dari mesjid mencari kakek tua yang telah menyelamatkan kami semua. Beberapa menit berlalu aku menemukan kakek tua duduk di pinggir jalan. Aku menghampiri dan duduk disebelahnya. “terima kasih sudah mencoba memperingatkan kami kek” kakek tua itu hanya mengangguk tanpa menjawab apapun. “ini yang terjadi dikampungmu yah kek?” kakek tua tidak menjawab dan hanya menundukan kepalanya. Kami terdiam dan untuk beberapa sesaat kami hanya menatap kampung kami yang kini berupa timbunan tanah

Bandung – Januari 2015

Blank Space

Tidak ada twist dalam cerita ini, ini hanya cerita seorang pria dalam perjalanannya mendekati seseorang selama beberapa bulan (and yet somehow you know its not gonna end well for him). It’s not the writer story, since the writer is already happy now. anyway, Here we go..

………………..

Dimulai 4 bulan lalu ketika kamu datang ke Bandung dan meminta diantar berkeliling. Setelah pertama bertemu setahun lalu, mungkin ini adalah pertama kali kita bertemu langsung hanya berdua. Sedikit canggung, karena what can I say? YOU ARE BEAUTIFULL (notice the two L) sedangkan saya? Saya hanyalah… (insert da-aku-mah-atuh-atuh jokes here). Saya hanya pria yang baru saja gagal dalam percintaan…………………….. (Long pause, for dramatic effect) ……………………………untuk kesekian kalinya. dan kamu adalah teman mantanku dulu, yang dulu tidak sedikitpun ingin saya lihat, karena……………………..……… takut suka (as simple as that).

Tapi karena sekarang kita berdua single, tidak ada salahnya kita bertemu, bukan? Cukup menarik untuk saya,karena saya selalu gugup ketika bertemu orang yang saya anggap menarik. I keep behaving clumsy while we talk and you just keep smiling at me, which makes me more nervous. Since I tense to talk with sharp pitch sound that could attract bats when I’m nervous. Saya menjadi lebih banyak diam. Basically that day I have dropped my spoon, my phone even myself like more than 5 times and spoke like a screaming little girl on sugar rush, but that seems not to bother you.

After movie and lunch, it was holycow and the expendables 3 (I still don’t know why we watched a bunch of old guys showing off their botox for our first movie together). It was you who texted me first. Dan lagi, setelah kamu harus pulang ke Jakarta, days later it was you who called me first. Yes… you, not me. That’s a bit odd isn’t it? Awalnya saya terus berkata pada diri sendiri bahwa tidak mungkin ada kelanjutan dari cerita ini. tapi entah mengapa kamu seperti membuka peluang untuk itu. Lalu respon natural saya sebagai pria kesepian (dan sepertinya pria-pira lain yang mudah pisan kege-eran) adalah.. mencoba mengejarmu. (Not literally chase you like a satpol PP lihat bencong di jalan, but more like… a hint that maybe there’s a slight chance you could be mine)

Days later we got intense on texting, we both show the same interest in movie and tv series. You showed me your EW magazine and I was like you-cannot-be-more-awesome-than-this. Apalagi setelah mengetahui bahwa dirimu juga sangat mengutamakan keluarga dan pekerjaan. Prioritas yang sama kita miliki. Dan juga yang paling kental dapat saya lihat dari dirimu adalah selera humormu yang menurut saya, membuatmu menjadi orang yang menyenangkan.

Long story short.. I go back and forth (I did this before, dan anehnya gak kapok-kapok juga) to Jakarta just to see you. And you, whenever you have plan in bandung, you spare some time just to see me. You take me to see your friends and family; they seem nice and welcome me. Saya tidak ingat kapan tepatnya ada yang berubah setiap melihatmu. Dari yang awalnya hanya suka berubah menjagi kagum. Dan itu lah kesalahan pertama saya, karena ketika saya mengagumi seseorang, saya selalu berasa sangat kecil dihadapan orang itu. dan bagaimana saya bisa menjadi diri sendiri ketika saya selau merasa kecil didepan kamu? Dan untuk apa kamu mau bersama orang yang tidak bisa menunjukan terbaiknya di depan kamu.

3 bulan berlalu dan saya mulai bertanya-tanya, are we ever taking the next step? Are we serious with what we want? Meskipun saya tahu, selama kita bersama saya hanya berasa sebagai bayangan kamu saja yang hanya berada dibelakang, tidak pernah memimpin di depan. Meskipun saya tahu bahwa pulang pergi bandung Jakarta itu tidak mudah, hanya bertemu selama satu hari dalam beberapa minggu pun rasanya tidak cukup.

Karena kita jarang berbicara serius dan cendrung hanya merasa nyaman saat berada berdua (atleast for me) saya mulai banyak berpikir kapan waktu yang tepat untuk menanyakan keseriusan kamu. Dan seperti layaknya film komedi romantis dimana karakter utamanya selalu memposisikan diri diposisi canggung. Saya pun melakukan hal bodoh itu. ingat ketika saya bertanya 5 menit sebelum pulang ke bandung tentang arah tujuan kita? Di parkiran.. di depan antrian motor… di pombensin.. di bekasi. (enough said) Yap.. I could not make it any more romantic, right? Dan tentunya kamu tidak menjawab langsung, karena kamu cukup pintar untuk tidak memberi jawaban di bekasi (this is funny, if you keep in mind all the memes about bekasi).

You said you need time and I said I will give it to you. You said you need space and I said you got the whole miles from Bandung to Jakarta. You said you need to set your priority, and that’s when I knew I will never be one. Sejak perjalanan pulang hingga pertemuan kita terakhir hanya satu yang ada dalam benak saya. Why I push thing like this. Saya sudah tahu bahwa terlalu banyak hal yang berlawanan dengan yang saya inginkan, tetapi tetap saja saya mengejar itu. mungkin saya hanya orang bodoh, who can take any rejection from others but not from himself.

Dua minggu kemudian kamu datang kembali ke bandung, saya sangat menghargai itu karena kamu mau untuk menjawab pertanyaan ku dengan bertemu langsung, tidak lewat email, sms, wasap maupun burung merpati. Kita memutuskan untuk makan bersama ditempat kita pertama bertemu (ironis sekali bukan) and then finally you were brave enough to said “no”. I know I’ve been preparing myself to hear your answer. but right after you said that, I got this blank space in my head. I could no longer hear anything.. only silent that goes on for a couple of minute. And finally it stops after I see you smile. (Seriously, I’m not joking). Guess it was my way to reboot; you’ve been a great deal for me for a couple months. And I need to erase that in an instant.

Setelah beberapa minggu, akhirnya saya punya keberanian untuk mengajak mu berbicara lagi. Dan kamu cukup ramah untuk menanggapinya. Meski singkat. Karena ya memang seperti itu seharusnya. Our past should be handle in 3 ways. Keep is short, keep it simple and mostly keep it away (minjam ini dari aditya mulya). Ada satu lagu korea (yes, I listen to korea music, I even hear to country music. Dan harusnya sih gak ada yang boleh tau… tapi saya tulis aja gitu disini, D’oh) judulnya, “I wonder if you hurt like me?”. Entah mengapa lagu itu sekarang lagu terus ada di ipod saya meski di shuffle (jawabannya, ya karena saya yang taruh lagu itu di ipod, iya gak sih). Ok mulai ngelantur.. jadi intinya, menurut saya apa yang disampaikan dilagu itu kurang tepat, karena buat apa kita mengetahui orang lain merasakan sakit yang sama ketika berpisah. Karena saya ingin kamu menjadi kenangan yang menyenangkan bukan menyedihkan. Justru yang ingin saya tahu, ketika kita bersama, Apakah kamu bahagia, sebanyak yang saya rasakan?

Lembang, Bandung – Desember 2014

A

“What were you thinking? Kamu harus punya prioritas, Keluarga, Kerja, baru “teman-temanmu” itu” kakang membuat tanda kutip dengan jarinya.

Aku melanjutkan memijat kaki ibu, tidak berani melihatnya. Ibu sedikit demam dan kelelahan karena harus berjalan pulang dalam hujan karena aku tidak menjemputnya. Aku masih tertawa bersama teman-teman baseball unit sekolah ku ketika ibu menelepon.

“sudah tidak apa-apa” ujar ibu, mencoba membesarkan hatiku.

Kakang masih bertolak pinggang, mengawasiku. Dia marah karena aku belum bisa menyusun prioritasku. Kakang memang sangat sayang dengan Ibu, hanya mendengar Ibu sakit dia bisa tiba di rumah hanya dalam 1.5 jam meski kakang sedang berada di Jakarta.

“Kang, apa aku berhenti saja dari baseball?”

“jangan! You quit that team now and you’ll be a quitter for the rest of your life!”

Aku terdiam, terlalu takut untuk menjawab.

Tinggal aku dan kakang yang menjaga ibu, dan kakang memiliki standard sendiri untuk semua yang dia kerjakan. Sejak dia bekerja di Jakarta, aku harus mampu mengerjakan semua yang dia tinggalkan. Dan itu tidak mudah, dia selalu berkomentar bagaimana harusnya mengerjakan sesuatu. Kami selalu berbeda pendapat. Tapi entah mengapa, aku merasa dia melakukan itu karena dia takut aku tidak memiliki arah yang benar ketika tumbuh dewasa.

…………………………………..

Aku membuka pintu rumah, hanya lampu teras yang masih menyala. Suara jam berdentang 10 kali. Badanku sangat lelah, aku memutuskan untuk duduk dalam gelap.

“Jaga kesehatan, jangan sepertiku” suara kakang terdengar sangat jelas dikepalaku.

Akupun tersenyum, diabetes yang kakang derita memang mungkin bisa juga menurun kepadaku. Sejak kakang sakit memang aku sudah mengurangi gula dan mencoba merutinkan berolahraga.

Aku memijat kakiku yang pegal, tetapi karena aku dalam posisi duduk, perut buncitku mengalangi gerakan. Sehingga aku cukup kesulitan meraih kakiku.

“jangan perdulikan apa kata orang tentang fisikmu, asal kau sehat” perkataan kakang kembali terdengar lagi.

Aku memegang perutku, memang besar. akupun tertawa dalam hati. Tapi meskipun gemuk seperti ini aku sudah memiliki seseorang yang menungguku setia ketika pulang. Aku mengeluarkan telepon genggamku dan melihat foto keluarga yang aku jadikan wallpaper.

“istrimu cantik, pastikan dia tahu itu”

Diluar semua rutinitas dan kerja yang akan menghabiskan waktu kakang selalu mengingatkan agar jangan menghabiskan waktu dengan bekerja. Karena tujuan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi yang keluarga butuhkan adalah waktuku bersama mereka.

“Bagaimana pemakamannya mas?” Rita tiba-tiba menyalakan lampu ruang tengah dan menghampiriku, sepertinya dia menungguku pulang.

“Alhamdulillah lancar”

“kau harus istirahat, masih banyak yang perlu dikerjakan besok, ayo tidur”

Rita memaksakan untuk tersenyum kepadaku. Dan berjalan kembali kedalam kamar.

Aku bangkit untuk mematikan lampu, terdiam sejenak mengingat kata-kata terakhir kakang dirumah sakit.

…………

Kakang terbaring dikasur. Hanya aku yang ada disana, Ibu dan istri kakang sudah pulang ke rumah, mereka butuh istirahat. Tengah malam kakang bangun dia meminta segelas air.

“sudah shalat?” Tanya kakang. Aku menggeleng.

“Sesibuk apapun kamu, luangkan waktu untuk selalu berdoa yah. Mungkin kau akan berdoa untukku nanti” ujar kakang dalam nada bercanda.

Aku tersenyum, kakang pun tersenyum kembali ke tidurnya.

………..

Aku berdiri dan memandang photo keluarga kami di sebelah pintu kamar.

“kau memang sudah tidak disini kang, tapi aku masih bisa mengingat semua perkatanmu”

“it makes me who I am”

 

Bandung – November 2014

We miss you, A.

Belum Terlambat

“ini yang kedua”

Ujar Ari dalam hati. Dia mengamati frame di mejanya, kacanya retak tepat diatas photo Ari dan istrinya. Membentuk garis membagi dua dia dan dirinya. Ari mencoba mengacuhkan hal itu, tapi karena hal ini sudah terjadi sebelumnya dengan frame yang ada di rumah, diapun mulai berpikir apakah ini pertanda buruk.

Dia mencabut photo dalam frame itu. photo 4 tahun lalu dia dan istrinya berbulan madu. Sudah lama dia menginginkan berpergian bersama dengan istrinya kembali, just to spice things up. Berbulan-bulan ini kehidupannya serasa hambar, penuh dengan rutinitas berbeda antara dia dan istrinya. Sepertinya mereka sekarang hidup di dunia yang berbeda.

“mas, aku meeting nasional besok pagi di bali, earliest flight”

Ari membaca text dari istirnya kembali. Dan kembali bertanya-tanya apakah ada hubungannya pertanda buruk ini dengan penerbangan istrinya besok.

Ari segera menekan nomor istrinya. Menunggu beberapa saat hingga hanya terdengar nada sibuk diteleponnya. Dia mengulang kembali dan kembali hanya terdengar nada sibuk. Dia pun memutuskan untuk mengirim text.

“sinyal nya jelek ya dikantor?”

“tidak, baik-baik saja sepertinya, ada apa Mas?”

“nothing, tapi apa kamu bisa cancel meeting besok, aku kok kayanya ada firasat buruk”

“Firasat apa? Ini meeting penting, saya harus ada disana besok”

Ari paham betul watak istrinya yang keras kepala, tanpa alasan yang masuk akal dia tidak akan membatalkan perjalannya. Ari mengamati photo tadi. Ari masih mengingat Wajah cantik istrinya ketika pertama bertemu, yang Ari lupa adalah kapan dia terakhir memuji istrinya atas kecantikannya tersebut.

Jam 10 malam Ari baru tiba dirumah, istrinya sudah tertidur, Koper berisi pakaian sudah ada di dekat pintu. Bahkan pakaian yang akan istrinya kenakan sudah siap tergantung di depan lemari. Ari mendekat dan mencium Indah di keningnya dan berbisik

“I miss you, Indah”

Jam 5.30 pagi Ari terbangun dan sudah tidak menemukan istrinya disamping. Indah sudah pergi tanpa membangunkan Ari. Ari segera mengambil teleponnya. Seharusnya dia masih bisa menghubungi istrinya. Ari segera menekan nomor istrinya. Menunggu beberapa saat hingga hanya terdengar nada sibuk diteleponnya. Dia mengulang kembali dan kembali hanya terdengar nada sibuk, sama seperti kemarin dia tidak bisa menghubungi istrinya.

“Indah dimana? Telpon mu kenapa? Kok tidak bisa dihubungi?”

“aku dah di soeta. Telponku baik-baik saja Mas, ada apa?”

Ari membaca text dari istirnya, dan berpikir apakah ini pertanda lain, berkali-kali dia tidak bisa menghubungi istrinya. Dan dia pun baru menyadari sudah lama dia tidak pernah berbicara lebih dari basa basi kepada istrinya. Bangun pagi Indah sudah berangkat kerja, dan ketika dia pulang kantor, pasti istrinya tertidur. Weekend lebih mereka habiskan dengan istirahat dirumah tanpa percakapan berarti.

“aku mau boarding sekarang, text you when im arrive”

Pesan dari istrinya membuyarkan lamunan ari. Dia mengambil nafas panjang, tidak ada kesempatan lagi untuk membujuk istirnya untuk tidak pergi.

……………………….

Ari tidak beranjak dari rumah menunggu kabar dari istirnya .tepat Setelah2 jam akhirnya muncul text dari istrinya.

“sudah mendarat, sedikit guncangan, but its ok”

Ari segera membalas pesan istrinya. Dan dikepalanya pun muncul ide untuk menyusul istrinya ke Bali

“syukurlah, sayang, aku akan book penerbangan berikutnya, malam ini kita berbulan madu di Bali ya, seperti 3 tahun lalu”

“are you sure? Bukannya mas sibuk?”

“I need to see you today, sayang”

“ok”

Ari tersenyum sendiri, dan segera membuka laptop untuk membeli tiket ke bali. Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu istrinya. Ternyata firasat dia beberapa hari ini tidak benar. Istrinya sudah selamat sampai di Bali. Dia bersyukurmasih ada waktu untuk memperbaiki hubungan dengan istrinya.

“belum terlambat” ujar Ari dalam hati.

…………………………..

“Sudah di soeta, pesawat jam 3 sore. Harusnya sampai sekitar jam 5, love you Indah”

Indah membuka kembali pesan terakhir dari Ari. Ini pertama kali dia menambahkan kata love di text nya setelah berbulan-bulan. Indah tertunduk, dia sendiri tidak bisa mengingat kapan terakhir menyampaikan kata-kata itu kepada suaminya.

Suasana bandara sangat ramai, Beberapa orang berlarian di depan kursi yang Indah duduki dari tadi, semua tampak panik dan cemas, karena Jam sudah menunjukan pukul 8 malam dan pesawat Ari belum kunjung mendarat.

Bandung – November 2014

IMG-20180805

“Gege, aku……takut” matamu terlihat redup seolah tak ada semangat hidup didalamnya.

“cobalah untuk tidur” jawabku. Kau enggan menutup mata tapi akhirnya kau lakukan dengan terus menggengam tanganku.

Jika saja kau tahu, Takut adalah hal yang pertama aku rasakan ketika pertama bertemu denganmu 2 tahun lalu. Bukan karena aku takut bahwa dirimu bukan berasal dari dunia ini. Tapi takut bahwa mungkin doaku ketika aku kecil sudah terkabul. Doa yang kuacapkan di hari ini 20 tahun yang lalu. Aku berdoa bahwa diumur 30 nanti aku akan berkeluarga dan tidak akan sendiri lagi.

Tumbuh dewasa akupun melupakan doa kecilku dulu. Besar dipanti asuhan aku sudah terbiasa sendiri, tidak ada yang salah dengan hal itu. Aku malah ingin menunjukan kepada semua orang bahwa aku mampu berdiri sendiri. tanpa membutuhkan orang lain. Dan aku bisa, aku tidak pernah meminta bantuan siapapun hingga saat ini. aku memperoleh gelarku sendiri, pekerjaan ku sendiri, rumahku sendiri.

Lalu sehari sebelum ulangtahun ke 30 ku, kau tiba-tiba hadir. Di dalam photo yang seolah mengarahkanku untuk bertemu denganmu di taman. Lalu disaat kau menyebutkan namamu, saat itu pula ketakutan terbesarku hadir, kau akan menjadi sesuatu yang aku butuhkan.

Dua tahun sudah kita lalui bersama, tapi setelah kau hilang didalam photo yang kuambil tadi. aku baru menyadari bahwa sudah lama aku menyayangimu.

I love how you always be the first who makes me happy but also the first who makes me worried.

I love how you’ve never complained about my life and yours, which I know it has not been easy.

I love how you see the world as your play ground and how you invite me to be part of it.

I admire you so much.. at some point around you, it felt like I was nothing.

Aku selalu merasa kecil dihadapanmu, selalu takut bahwa aku akan mengecewakanmu. Tapi hingga kemarin, saat kau hilang diphoto itu baru aku tersadar bahwa kau pun membutuhkanku. Bahwa dua tahun ini bersamamu aku tetap mempertahankan dinding tinggi agar aku tidak terlihat kecil dihadapanmu, tanpa menyadari bahwa kaupun sama sepertiku. Rapuh.

Kau sudah tertidur, tanpa melepas tanganku. Aku terus berdoa dalam hati agar kau segera sembuh. Jam sudah menunjukan jam 3 pagi. Mataku sudah sangat berat ketika aku baru menyadari kau sudah mengenakan cincin yang kuberikan tadi dijarimu.

………………………………….

Kamar ini masih sama seperti dulu, kita berdua masih di posisi yang sama Kau masih terbaring menahan sakit, dan aku hanya mampu mencoba meringankan sakitmu disebelahmu.

“Gege, aku…..”

Kau tidak pernah melanjutkan kalimatmu, Tapi aku tahu kau takut. Dan selama aku mengenalmu hanya satu kali kau pernah mengakuinya. Dan kau mengucapkan dirumah sakit ini persis dikamar ini dua tahun lalu.

“kau ingin melihat sesuatu?”ujarku. dan kau masih terlihat sedih tanpa menjawab pertanyaanku. Aku bangkit dan menunjukan handphoneku kepadamu.

“aku mengambil photo kita berdua ini tadi” ujarku. Wajahmu berubah seketika melihat handphone ku dan mulai menunjukan senyuman.

“ini photo kita?” seolah tak percaya, dan aku hanya bisa mengangguk.

Lama kau terus memandangi photo itu, seolah hanya itu yang ingin kau lihat didunia ini.

“sudah siap?” seorang pria paruh baya dengan muka yang ramah tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kami

“siap Dok” ujarku,

Aku bangkit dan mencium keningmu “semua akan baik-baik saja”

Aku mengelus perut buncitmu, dan kau meletakan tanganmu diatas tanganku.

“aku siap” ujarmu tersenyum kepadaku.

Tak lama dokter dan suster pun membawa mu pergi ke kamar operasi. Aku menunggu diluar ruangan dan terus berdoa mengamati photo bertuliskan IMG-20180805, photo yang bertuliskan tanggal esok hari. Photo yang terus kau lihat tadi.

Aku tersenyum, baru menyadari bahwa ternyata Tuhan benar mengabulkan doa yang dipanjatkan untuknya, meski itu hanya doa anak kecil 10 tahun. Tiba-tiba suara tangis bayi dari dalam ruangan membuyarkan lamunanku. Aku bangkit dan menaruh handphone di saku baju. Handphone dengan photo Aku dan Arin yang sedang menggendong bayi mungil yang cantik.

Bandung – Oktober 2014

IMG-20160805

“Hai Gege, Saya Arin..” itu adalah kata-kata pertama yang kau ucapkan ketika kita pertama bertemu. Dua tahun berlalu, aku masih sering tersenyum mengingat pertemuan yang mungkin aku pikir agak sedikit aneh. Aneh karena aku memiliki photo dirimu sehari sebelum aku bertemu langsung denganmu di taman itu. my bestfriend call it magic, but I call it fate. Iya, takdir kita untuk bertemu, bagaimana caranya, melalui apa, kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu karena aku tidak ingin kau khawatir dan mulai bertanya. yang perlu kau tahu adalah, sudah dua tahun berlalu dan tidak seharipun aku ingin berpisah denganmu. Setiap hari, baik atau buruk, aku selalu berada disampingmu bukan?

Aku sadar tidak selamanya kita bersama menjadi sesuatu hal yang membahagiakan. Tapi aku selalu mencoba agar tidak seperti itu. Ada alasan mengapa kita bertemu dan aku ingin alasan itu kita ketahui bersama suatu hari nanti. Aku senang karena meski beberapa minggu terakhir kita hanya bisa menghabiskan waktu dirumah sakit kau tidak pernah menunjukan bahwa kau bersedih. Kau tidak pernah menyesal berada disampingku.

Ada satu hal yang kau tidak ketahui, ketika siang tadi kau memaksaku untuk membawamu pergi ke taman tempat kita bertemu. Ketika kau ingin merayakan dua tahun kita bertemu ditaman itu. aku mengambil photo kita berdua secara diam-diam. Aku mengambilnya ketika kau tertidur dipundakku saat kita duduk dibangku taman. Mungkin kau lelah karena kita harus diam-diam keluar dari rumah sakit tapi Saat itu kau terlihat sangat cantik meskipun tertidur. Aku pikir kau menginginkan kenangan dua tahun kita bertemu dengan sebuah photo lalu aku pun mengambilnya.

Tetapi sayangnya, hal yang terjadi dua tahun lalu kini terjadi kembali. Dan hingga saat ini aku masih belum bisa menjelaskannya, karena kali ini……. kau yang tidak ada diphoto itu, hanya ada aku sendiri duduk ditaman, kau tidak bersandar dipundakku. Aku sempat mengambil photo yang kedua dengan mengarahkan kamera tepat berada di depan kita. Dan hasilnya kau tetap tidak ada. Melihat itu aku segera memeriksa informasi di photo itu. yang tertulis adalah IMG-20160805, sepertinya aku sudah mengambil photo untuk esok hari.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hal itu padamu, karena itu aku menulis surat ini. setelah melihat photo itu aku segera membawamu kembali ke rumah sakit. Aku tidak ingin menjelaskannya langsung kepadamu karena kau pasti akan panik. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat ini dan meletakannya disamping tempat tidurmu, agar kau bisa membacanya dengan tenang setelah terbangun.

-gege-

………………………………

“kau sudah selesai membaca surat itu?” Ujarku

“kau dari tadi ada disini?” tanyamu, terkejut karena aku tiba-tiba ada didalam kamar.

“aku tadi di ruang suster,mengamatimu dari monitor menunggumu bangun dan membaca surat itu”

Kau meletakan surat tadi disebelah obat-obat mu di atas meja.

“apa semua itu benar?”

“iya Arin semua itu benar”

“lalu apa artinya?” tanyamu kembali dengan suara yang makin pelan, sepertinya kau sudah tak kuat menahan tangismu.

“Jujur aku tak tahu”

Aku berlutut di samping kasurmu, menggengam tangan kananmu yang lemah

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi esok, yang aku tahu saat ini kau ada bersamaku, meski entah berapa sisa waktu yang Tuhan berikan untuk kita”

Aku mengambil kotak hitam kecil dari saku dan meletakannya di telapak tanganmu.

“Arin… mau kah kau menghabiskan sisa hidup kita bersama?” wajahmu berubah karena terkejut

“Apapun yang terjadi esok itu adalah takdir dan aku berjanji kau akan selalu menghadapinya denganku”

Air matamu kini sudah menetes jatuh ke baju, kau menggengam tanganku dengan sisa tenaga mu yang lemah dan berkata

“Gege, Aku….

Bandung – Oktober 2014

Kemeja itu..

Kemeja itu berwarna hitam, berkain tipis, berlengan panjang, dengan saku di dada kiri. Digantung di dalam lemari, berjejer rapih dengan kemeja yang lain. Di sudut saku tampak tanda bekas terbakar, sedikit berwarna lebih hitam dari warna kemeja. Rupanya semalam wanita paruh baya itu menyetrika bagian saku terlalu lama, sehingga meninggalkan bekas disana.

Pintu lemari dibuka, pria gendut berumur dua puluhan mengambil kemeja itu, melepaskan dari gantungan dan memakainya. Kancing kemeja nyaris lepas ketika harus menutupi perut buncitnya. Pria itu lalu bercermin dan mulai memperhatikan bekas hitam di sudut saku. Dia langsung membuka kemeja itu dan membuangnya ke lantai.

“bibi!” ujar pria berumur 20an itu. wanita paruh baya dengan muka yang lelah menghampiri pria tadi

“buang!” menunjuk kemeja dilantai. “tapi den…”

“buang!!” bentak pria gendut itu dengan suara yang tinggi meski wanita tadi belum selesai bicara.

Wanita tadi memungut kemeja sambil melipatnya dengan rapi. Diluar rumah Wanita paruh baya itu meletakan kemeja di dalam tong sampah. Belum sempat menutup tong, awan sudah meneteskan hujan dengan deras. Wanita itupun berlari ke dalam tanpa sempat menutup tong sampah.

Tong sampah itupun cepat dipenuhi air hujan. Kemeja itu terdorong luapan air keluar dari tong, terbawa mengikuti arus air. Jalan di perumahan ini besar tapi sama seperti kebanyakan perumahan mewah, drainasenya buruk. Kemeja itu terus bergerak mengikuti air di jalanan, terbawa hingga hujan reda.

………………….

Kemeja itu sekarang berada diatas tumpukan sampah. Tepat dibelakang perumahan mewah tadi, ada perkampungan yang sore hari ramai oleh anak anak pulang dari sekolah. Seorang anak kecil berseragam mengamati kemeja hitam yang tergeletak itu lalu memungutnya dari tanah. dari saku celana pendeknya dia mengeluarkan kapur yang dia ambil dari sekolah. Diatas kemeja hitam dia menggambar simbol tengkorak dan tulang yang disusun silang. Lengan kemeja itu diikat ke bambu seukuran badannya, satu lengan diikat diatas, satu ditengah. Setelah cukup puas anak membawa tongkat itu berlari dan memanggil teman-temannya. “Bendera Bajak Laut” jawab anak itu ketika ditanya oleh teman-temannya.

Bambu itu diikat didahan pohon tempat anak-anak bermain diatas bukit. Angin yang berhembus kencang,mengangkat kemeja hitam seolah bendera. Anak-anak itu menghabiskan waktu dari siang hingga matahari terbenam disana. kadang mereka bawa kemeja itu berlari bekejaran seolah membawa bendera dalam perang. Kadang mereka kembali menaruhnya di dahan pohon, dan menjadikan bukit sebagai pulau perompak. Sederhana tapi imajinasi mereka juga bermain. Berhari-hari kemeja itu terikat diatas pohon, hingga sebuah angin besar membawa terbang kemeja itu di sore hari.

……………………

Perempatan jalan itu selalu ramai. Kendaraan-kendaraan selalu berusaha menjadi paling depan ketika lampu hijau menyala. Dan motor selalu berusaha menerobos ketika lampu berubah merah. Kadang hal itu yang mengakibatkan kemacetan dijalan itu hingga berjam-jam karena tidak ada pengendara yang mau mengalah. Tapi hari ini tidak seperti itu, salah satu lampu lalulintas tertutup oleh kemeja berwarna hitam sehingga tidak ada pengedara yang yakin apa warna lampu jalan saat ini, apakah sudah berubah hijau atau masih merah. Sehingga mereka lebih menunggu kendaraan di seberang berhenti sebelum mereka jalan. Begitu pula ketika akan berhenti, mereka tidak berani menerobos dengan alasan yang sama.

Berhari-hari kemeja hitam itu tergantung diatas lampu jalan. Bahkan polisi pun membiarkannya seperti itu. mereka malas untuk memanjat keatas lampu lalu lintas yang cukup tinggi. Hingga Suatu malam seorang penarik becak, melewati perempatan itu. Penarik becak itu banyak melamun dari sore hari, masih tidak percaya dengan apa yang anaknya sudah lakukan. Belum sempat dia menunggu lama, sebuah kain hitam jatuh tepat keatas becaknya. Dia mengambil dan memperhatikan ternyata kain itu adalah kemeja hitam yang sepertinya masih cukup baik. Dia baru tersadar dan segera mengucapkan syukur, kemeja ini pas untuk sidang anaknya minggu ini.

……………………..

Beberapa tahun berlalu pria gendut berumur dua puluhan itu kini duduk di sebuah ruang tunggu, dengan map berisikan kertas hasil kerjanya. Pria gendut ini menunggu resah sebelum akhirnya dipanggil oleh sekertaris untuk masuk ruangan wawancara. Sebelum masuk dia memastikan pakaian mahalnya sudah rapih, memastikankan kancing kemeja masih menahan perut buncitnya dan dasi menutupi kancing itu.

Pria itu akhirnya duduk didepan sebuah meja dengan miniature becak menghiasi sudut kanan meja. Disampingnya terdapat frame photo seorang remaja dengan laki-laki paruh baya dengan handuk melingkar di lehernya. Belum sempat dia memperhatikan foto lain seorang pria yang sepertinya memiliki umur yang sama dengannya masuk dan memperkenalkan dirinya sebagai calon atasannya. Pria gendut tadi tidak banyak memperhatikan apa yang terjadi, dia hanya memperhatikan kemeja yang dipakai calon atasannya. Berwarna hitam dengan noda bekas terbakar di sudut sakunya.

Le Mer – September 2014