Maukah Kau Berdansa Denganku?

Jam 10 Malam, lampu ruangan sudah dimatikan, badan ini terasa lelah, aku sudah berada dibalik selimut, ketika suara itu terdengar di telingaku..

“hi.. sudah tidur kah?”

mata ku masih belum bisa jelas melihat tapi aku sangat hapal suara itu, suara Riza.

“Riza, kok ada disini?” “saya ingin ketemu kamu” jawab Riza

Sambil duduk dipinggir kasur, aku sekarang sudah bisa melihat wajah dan senyum Riza. “kamu tampak kelelahan Din”

“saya cuma lelah, itu saja” aku berusaha untuk mengangkat badanku ddalam posisi duduk agar aku bisa jelas meliaht Riza.

“kamu terlihat sangat cantik” ujar Riza, aku membalasnya dengan senyum “kamu sudah lama tidak mampir,aku pikir kamu sudah lupa denganku Za”

“aku hanya tidak ingin mengganggumu Din”

Tangannya kini menggengam kedua tanganku, hangat sudah hampir 5 tahun aku tidak melihat Riza, ingin rasanya aku memeluk Riza, sudah bertahun-tahun aku kuat sendiri, tapi dengan dia di hadapanku aku lemah kembali. Senyum dia membawa kehangatan, yang sudah lama tidak pernah kurasakan.

“Saya tahu saya jarang datang menemuimu, tapi saya tidak pernah berhenti memikirkan mu, Dira dan Sara” “kami pun selalu mendoakan mu terus” aku tak kuasa untuk menahan tangis, dulu aku tiap hari bisa melihat wajahnya, namun sejak 5 tahun lalu semua berubah. sekarang saat aku bisa bertemu kembali harus dalam keadaan seperti ini.

“Jangan menangis, jika kamu izinkan , aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi Din” Tangan Riza sudah memelukku dengan erat, aku menangis di bahunya. “Jangan menangis, sudah 5 tahun kita tak bertemu, aku tak ingin melihat kau menangis” ujar Riza

Dalam kehangatan darinya Riza memegang kedua pundakku dan menatapku seraya berkata “Maukah Kau berdansa denganku?” Sekejap aku mengingat dansa pertama kami di kencan pertama, dansa pertama kami di pernikahan, dansa pertama kami di rumah yang kami bangun bersama dan dansa terakhir kami sebelum Riza pergi.

Aku mengangguk, aku bangkit dari tempat tidur dengan terus menggengam tangannya. Dalam satu gerakan tangan kanan Riza sudah berada dibelakang pinggangku dan tangan kirinya menggegam tangan kananku, aku sandarkan tubuhku di tubuhnya, dengan tegas Riza memimpin gerakan kami, langkah kaki kami bersamaan di atas lantai.

Saat berdansa dengannya aku dapat mengingat semua perjalanan hidupku dan Riza, bagaimana dia bisa membahagiakanku dan kedua putriku. Aku ingat kebahagian itu hilang saat dia pergi dan sekarang seolah itu tak berarti, aku sudah bahagia bersama dia disini.

Entah berapa lama kami berdansa tapi aku tau ini sudah saatnya. Kami berhenti berdansa, Riza menatapku dan bertanya “Kau sudah mengerti kan? apa kau sudah siap?” sejenak kulihat wajah Dira dan Sara lalu aku menjawab “Aku sudah siap, aku sudah tenang sekarang”

 

 

“kak, bangun kak, Ibu…” Suara Sara sangat kecil tapi Dira kini sudah bangun, Air mata menetes dari kedua pipi Sara. “Ibu kak…” Dira segera berlari ke arah tempat tidurku. Selang alat bantu pernapasan lepas dari mulutku. Dira tak mencoba untuk membetulkanya, dia hanya senang bisa melihat senyum di wajahku.

Sara kini sudah berada disebelahnya, Dira pun menggenggam tangan Sara, “Tak apa dik, ibu sudah tenang, tadi kaka bermimpi Ayah ada disini menjemput ibu, tak perlu kita sedih…… mereka sudah berdansa”