Euthanasia

Jam 7 malam, hanya komputer di mejaku yang masih menyala. Sudah tidak ada orang lain lagi di ruangan ini. Aku melihat ke balik komputer, kau berdiri hanya  beberapa meter didepanku. Tahu aku melihatmu, Kau pun tersenyum ke arahku. Aku segera mematikan komputer dan mematikan lampu. Kau pun berjalan di belakang, mengikuti ku untuk pulang.

Hujan deras belum berhenti dari sejam yang lalu, aku berdiri di halte bersama beberapa orang lain. Kau berdiri di seberang jalan. Terus mengamatiku dari jauh. Beberapa orang berlalu dibelakangmu, tapi hanya kau yang menjadi perhatianku. Entah sudah berapa lama kau tidak pernah mengajakku berbicara, dulu kita biasa untuk saling menunggu pulang di halte ini.  makan malam bersama untuk menunggu jakarta beristirahat dari ribuan kendaraan yang lewat.

Di dalam  taxi, Aku duduk dan melihat kursi disamping yang sekarang kosong. Dulu kau selalu berada disana. Menggenggam tanganku, sambil terus mengajakku berbicara tentang hariku ataupun harimu. Kau selalu memberi perintah jelas pada supir taxi agar melalui jalan yang kau inginkan. Kau selalu punya komentar akan apa yang kau lihat  dan aku senang akan hal itu. Kau seolah selalu mengawasi dunia, tanpa pernah tau bahwa aku selalu memperhatikanmu.

Aku membuka pintu kamar, aku lupa kapan aku terakhir membereskan kamar ini. Semua berantakan seperti tidak pernah dihuni beberapa bulan. Mungkin sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi memperhatikan apa yang ada di kamarku ini. aku meletakan tas kerja, dan melihat keluar dari jendela, Kau berada di seberang sana. Wajahmu terlihat sangat lelah. Tapi tetap kau memaksakan untuk tersenyum.

Aku duduk di tepi kasur. Menundukan kepala, aku bingung harus berbuat apalagi. Setelah kejadian itu kau selalu menemaniku tetapi aku tetap merasa bahwa ada sesuatu yang hilang. Mau tak mau Aku harus mengambil keputusan. esok semua akan berubah.

…………………………….

Suasana rumah sakit sangat sepi. Aku tidak pernah menyukai rumah sakit. Tidak pernah ada rasa gembira setiap aku kembali dari sana. Tetepi sejak peristiwa itu aku berdamai dengan dinding dingin dan suasana yang kelam ini. mau tak mau aku harus kembali kesini setiap hari. Memaksakan diri melalui orang-orang yang tertidur lelah, orang-orang penuh iba yang berdoa sepanjang malam, orang-orang yang putus asa dan lupa caranya bersyukur.

Dokter memanggilku ke ruangannya, dia tetap bertanya apakah aku sudah merubah keputusanku. Aku hanya menghela nafas panjang dan diam. Aku sudah lelah menghabiskan waktu berdebat dengannya. menjelaskan bagaimana selama ini aku masih bisa melihatmu setiap malam, bagaimana kau masih bisa tersenyum kepadaku. Mereka menganggap itu hanya omong kosong. Semua perdebatan dengan mereka hanya menghasilkan keputusan bahwa kita harus berpisah.  Aku mengakhiri debatku dengan dokter. Aku keluar dari ruangan, form Euthanasia yang dokter berikan aku masukan kedalam saku celanaku.

Aku membuka pintu kamar, kau tertidur diatas kasur. Dengan lilitan selang yang membantu mu untuk bertahan hidup. Mesin penompang terus berbunyi disebelahmu. Aku duduk disebelahmu dan mengusap rambut panjang  yang menutupi wajahmu yang terlihat layu. Beratmu sekarang hanya 40 kg, jauh dari ketika kau sehat. Semua asupan makanan harus dalam bentuk cairan. Dulu dokter bilang dalam 3 hari kau akan bangun kembali, sekarang sudah lebih dari 3 bulan dan kau masih saja tertidur.

Kau terkena serangan asma, aku terlambat menyadari ketika kau jatuh sendirian di tengah malam. oksigen berhenti mengalir ke otakmu lebih dari 30 menit, sekarang 93% dari otakmu sudah berhenti bekerja. Kau hanya mampu tertidur tanpa memberikan reaksi apapun. Aku duduk disamping kananmu. Aku tundukan wajah dengan terus menggenggam tangamu, aku bingung harus berbuat apa lagi, aku sudah mencoba berbagai cara, agar kita tetap bersama.

“jangan paksakan genggamanmu”

Aku terhentak dan segera berdiri. Aku yakin itu suara mu yang kudengar. Aku melihat kau sudah tidak ada di atas kasur, kau sekarang berdiri di belakangku. Wajahmu sekarang cerah, tidak seperti orang sakit.

Aku bangkit dan segera memelukmu,

“I miss you so much, Na……” aku tak kuasa menahan tangis

 “kau harus izinkan aku pergi….. “ kau berbisik di telingaku.

tangisku semakin keras dan aku semakin erat memelukmu.

Entah berapa lama kau seperti membiarkanku memelukmu. Rasa hangat yang tidak pernah kudapatkan selama beberpa bulan ini datang kembali. Seluruh beban yang ada di pundakku seolah kau angkat. Kau memberikan kesempatan untuk ku mengucapkan selamat tinggal

“maaf, aku tidak ada saat kau membutuhkanku, Na..”

Kau mengecup keningku. Seolah kau memaafkanku. Kau menghapus tangisku dengan tangan kananmu. Dan memberikan senyum untuk yang terakhir. Perlahan-lahan rasa hangat itu menghilang, kau kembali menjadi udara hampa di depanku.

Aku berdiri untuk beberapa menit, mencoba menerima semua yang terjadi. Aku mengambil nafas panjang dan mengeluarkan kertas yang tadi dokter berikan kepadaku, aku membacanya dan yakin inilah jalan yang terbaik.

 

*euthanasia = a good death

Bandung – February 2016