Still

Aku berdiri menghadap pintu rumah, kakiku ingin bergerak keluar, tapi aku tetap bertahan. Aku ingin semua selesai sekarang. Aku melihat sekeliling,kini semua semua ruangan sudah diwarnai kuning keemasan yang bergerak seperti menari, sungguh indah.

……………………..

Berawal ketika dia mengajakku bertemu teman lamanya, saat kami semua sedang makan malam dia mencoba untuk berkata-kata serius, lalu aku membuat lelucon atas kata-katanya. Semua temannya tertawa dan dia pun tertawa. Dalam perjalanan pulang dia hening tidak mengajakku berbicara. Tetapi tepat ketika mobil berhenti ,aku hendak turun dan membuka pintu dia memegang tanganku dengan kencang. “mengapa kau permalukan aku di depan teman-temanku?” tanya dia. Aku hanya menjawab bahwa itu hanya bercanda. Mukanya tampak begitu merah, aku bingung apakah dia sedang bercanda atau marah, selanjutnya hanya dengungan keras yang dapat kudengar, tamparannya sangat keras hingga aku terjatuh dari mobil. Esoknya ketika dia berangkat kantor dia tetap mencium keningku, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Berikutnya kadang hanya berupa ancaman, kata-kata kasar yang dia ucapkan ketika aku membuat kesalahan sepele. Baju yang kurang rapih, minuman yang terlalu panas, atau makanan yang dingin. Tetapi lama-lama berubah menjadi doroangan dan tamparan. Aku kadang masih terkejut mengapa dia bisa berubah. Sebelum menikah tidak ada kata-kata seperti ini. Aku sekarang tidak bisa menebak apa yang ada dipikirannya, lembut keras, sayang benci, hangat dingin semua dapat berubah seketika.

Dua bulan setelah kejadian pertama, aku masuk rumah sakit untuk pertama kali. Dia mendorongku jatuh dari tangga setelah mendengar aku sering bercerita tentangnya kepada ibu tetangga didepanku. Dia tak ingin apa yang terjadi dirumah ini diketahui orang lain. Aku berpikir untuk meninggalkannya tetapi aku dapat lari kemana, aku yatim piatu tanpa sanak saudara. Bertahun-tahun aku mencurahkan hidupku untuknya, aku meninggalakan semua temanku hanya untuk dia.

Berbulan-bulan aku terus berdoa agar dia berubah, pasti ada alasan Tuhan membawa dia masuk kedalam hidupku. Berulang kali aku mencoba menguatkan diriku untuk berkata cerai kepadanya. Karena Aku tahu bercerai itu halal, tetapi aku juta tahuTuhan sangat membencinya. Lalu apa yang sudah aku siapkan sehingga aku siap untuk di benciNya?

Suatu malam dia menangis dalam tidurnya, aku mencoba mengajak bicara dan akhirnya dia pun mau berkata jujur, mengenai hutang yang sudah menumpuk , dan kantor yang baru saja memecatnya. Aku terkejut, semua harta yang kami miliki bersama tak akan mampu untuk menutup semua hutang yang dia buat. Aku hanya bisa memeluknya dan berkata bahwa kami bisa melalui ini bersama, dia menangis sekencang yang dia bisa. Untuk sesaat aku merasa inilah titik balik dari hubungan kami bersama.

02.30 aku terbangun karena terasa sulit bernafas, aku melihat cahaya warna kuning dari bawah pintu kamar. aku cepat bangkit dan mencoba membuka pintu kamar tetapi pandanganku terhenti pada lemari pakaian yang terbuka dan kini hanya terisi separuh, seluruh pakaian dibagian lemari suamiku sudah kosong. Laci lemari yang berisi perhiasan dan uang terakhirku kosong dan terjatuh dilantai. Koper diatas lemaripun sudah hilang. Aku tertunduk lemas, aku tahu apa arti semua ini. Untuk beberapa saat aku hanya mampu duduk ditepi kasur dan terus bertanya, mengapa dia sampai setega ini.

Aku berjalankeluar kamar dan berdiri menghadap pintu rumah, kakiku ingin bergerak keluar, tapi aku tetap bertahan. rangka kayu di sampingku mulai berjatuhan menimpa foto perkawinan. Sengaja ku tunggu hingga api membakar fotoku perlahan-lahan. Aku mempehatikan api yang mulai membakar foto ku, aku berpikir mungkin ini yang pantas untukku. Aku ingin semua selesai sekarang. Aku melihat sekeliling,kini semua semua ruangan sudah diwarnai kuning keemasan yang bergerak seperti menari, sungguh indah. Aku terbuai dengan warna kuning yang terus menari mendekat ke arahku, hingga aku melupakan asap pekat yang mulai membuatku sulit bernafas.

Aku merasakan rasa hangat di kulitku dan sekarang aku bisa tersenyum, setidaknya aku pergi dengan merasakan sesuatu kehangatan mendekapku, meski itu datang dari api yang membara. Aku rasa ini sudah saatnya, tidak ada artinya lagi aku didunia ini. Aku dapat mendengar suara kayu yang jatuh dibelakangku, tidak lama lagi rumah ini akan rubuh, Sudah saatnya.

Tiba-tiba Sekejap cahaya putih bersinar terang didepanku arahnya berasal dari pintu depan. Kedua kakiku tidak sanggup menahan berat badanku, dan akhirnya akupun terjatuh.

Kini aku seolah berada dalam ruangan yang tidak berdinding, hanya ada cahaya putih terang disekitarku, dan cahaya paling terang berada didepanku. Semua hening untuk beberapa saat hingga tiba-tiba terdengar suara dari depan

“Mengapa kau tetap bertahan” aku mendengar suara yang pelan dari cahaya itu.

Aku diam tak ingin menjawab, tetapi rasa aman yang seolah diberikan cahaya itu membuatku membuka mulut.

“aku….. takut”

Cahaya di depanku sepertinya meredup, aku merasa dia kecewa akan jawabanku. Sesungguhnya akupun kecewa dengan diriku sendiri. Rasa takut membuatku membiarkan semua ini terjadi. Mataku terasa berat, aku tak kuasa menahan tangis. Aku terus bertanya “Mengapa?” kepada Tuhan diatas, padahal aku sudah tahu, jawabannya. Ini terjadi karena aku membiarkannya, tak akan ada pertolongan yang akan diberikan jika aku sendiri tidak mencoba berubah

Aku merasa sangat kecil, aku berpikir aku tak akan pantas diberikan kesempatan kedua. Tapi aku tetap ingin mencoba hidup jiika Tuhan mengizinkan. “kapan rasa sakit ini berhenti?” aku ingin tahu apakah ini saatnya aku pergi untuk selamanya

Cahaya didepanku pun menjawab.

“ketika kau bangun dan membuka mata”

……………………

Beberapa orang berlarian didepanku, asap hitam masih keluar dari dalam rumahku, sepertinya semua orang di sekitar sedang mencoba membantu untuk mematikan api dari dalam rumah. Aku sekarang tertidur di teras rumah depan, seorang ibu yang sudah beruban, menahan kepalaku dipahanya dan terus memelukku. Sudah lama aku tak merasakan rasa amanseperti ini. Rasa sakit menyebar di seluruh tubuhku, karena luka bakar. Air mata terasa dipipiku. Aku tak dapat menahan tangis, bukan karena aku masih merasa sakit. Tetapi aku lega, cahaya itu benar, semua hilang ketika aku membuka mata.

 

Jakarta – January 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s