Creep

“Kamu mau makan?”

Minum?” aku bertanya kembali

Kamu masih terdiam, duduk diatas kursi. Tidak mengalihkan sedikitpun pandanganmu dariku

“kamu harus makan sesuatu, kita akan berada disini untuk waktu yang lama”

Kamu tidak berkedip, dadamu bergerak naik turun, mencoba bernafas melalui kain yang kuikat menutup mulutmu agar kau tidak berteriak.

“kamu harus tahu alasanku…….”

“Aku hanya ingin…..”

Terdengar suara dobrakan keras dari pintu dibelakangku. Sial.. semua harus berakhir sebelum aku menjelaskan alasanku.

……………………………………….

Pertama kali melihatmu adalah ketika kau datang sebagai pegawai baru dikantor. Meski datang dengan blouse putih dan rok hitam, kau tetap tampak berbeda. Semua ingin berkenalan denganmu. Bukan karena mereka ramah, tapi karena kau memang orang yang menarik, seperti lebah pada bunga, kami semua sibuk mengitari dirimu.

“Dewi” katamu ketika berjabat tangan denganku. Aku tak berani menatap ke arah matamu, karena aku sangat malu untuk memperlihatkan mukaku yang biasa ini. Kau tidak banyak berbicara banyak padaku yang hanya diam. Kau pun berlalu dan ketika kau berjalan kau tidak melangkah, tapi melayang seperti bulu yang tertiup angin, sangat mulus.

Setiap hari aku hanya dapat mengamati mu dari jauh dan entah mengapa setiap ku melihatmu kau selalu seperti bercahaya, seolah ada cahaya yang terpancarkan darimu. Dan hari ini satu tahun sudah aku mengenalmu. Kau sekarang sudah menjadi bagian dari manajemen, kau cepat sekali menaiki tangga karirmu. Dan tampak tidak ada satupun orang dikantor ini yang keberatan. Kau sangat istimewa, aku berharap aku juga seistimewa kamu.

Tiap hari sejak pertama bertemu aku selalu memikirkanmu. Banyak yang aku inginkan darimu. Aku ingin kau lebih memperhatikanku, aku ingin kau tahu ketika aku tak ada. Aku ingin kau selalu berada disampingku.

Sial, Aku tak tahan lagi, aku harus memlikimu sekarang, aku tak perduli jika ada yang terluka. Aku ingin tubuh yang sempurna. Tidak… aku lebih ingin jiwa yang sempurna.

Malam hari selepas jam kantor aku sengaja menunggu mu pulang. Kau selalu lembur dan ini adalah kesempatanku. aku membuntuti mu dari belakang. Di tempat parkir, Saat kamu lengah aku segera membungkam mulutmu dengan kain yang sudah diisi chlorofom. Seketika kau terjatuh lemas, aku segera menahan tubuhmu dari belakang. Sebisa mungkin aku tidak akan membuatmu terluka. tak ada niatku untuk mencelakaimu, aku hanya ingin melihat keindahanmu setiap saat.

Aku hanya ingin….. kontrol.

……………………………………………

Aku berpaling ketika melihat beberapa orang polisi masuk setelah mendobrak pintu apartemenku.

“turunkan pisaumu sekarang!” teriak salah satu polisi

Semua terasa begitu cepat ketika aku mundur ke arahmu sambil membawa pisau yang kugenggam dari tadi, aku berniat untuk melindungimu

Ledakan peluru itu terdengar begitu keras. Tidak sakit, hanya saja tiba-tiba kakiku terasa sangat lemas, dan aku pun terjatuh, badanku lemah tak dapat digerakan. Beberapa polisi bergerak ke arahmu, aku tidak bisa menggerakan leherku hingga yang dapat kulihat hanya kaki dan sepatu polisi-polisi tadi lewat di depanku

Hanya dalam Beberapa saat, mereka berhasil membebaskan ikatanmu. Polisi –polisi tadi sepertinya mencoba menuntunmu keluar. Dan kau berjalan diantara mereka. Kau pura-pura jatuh terjongkok, sesaat kamu melihat ke arahku, dan aku berani bersumpah bahwa kau tersenyum

Kau bangkit berdiri dan sayap dibelakangmu pun mulai terbuka seolah siap terbang. Dan entah mengapa sepertinya hanya aku yang melihat wujud aslimu ini.

 

Bandung, November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s