Lift

Aku tidak pernah menyukai lift. Ruangan sempit yang bergerak naik turun membuatku sering pusing. Kadang untuk 3, 4 lantai aku lebih memilih untuk naik tangga saja. Sama seperti sekarang saat aku harus menjaga mama yang sedang di rawat inap di lantai 5 rumah sakit pemerintah di Bandung. Aku memilih untuk menggunakan tangga untuk naik turun.

Setelah beberapa hari menjaga mama di Rumah Sakit. Aku sudah hapal dengan beberapa Dokter yang merawatnya. Tapi hanya satu yang menarik perhatiannku. Dokter Rita, warna kulitnya putih, matanya sipit dan rambutnya sepundak. Aku belum resmi berkenalan dengannya hanya aku sempat memperhatikan nametag di baju dokternya. Namanya Rita Dania.

Seperti malam-malam sebelumya, jika aku bosan dikamar menemani mama, aku biasa duduk di depan lift, di selasar yang mengarah ke ruangan inap. Karena mama diruangan nomor 1 aku masih bisa mendengar mama jika beliau memanggilku.

Sudah beberapa menit aku duduk di depan lift, belum ada satu pun yang keluar dari dalam lift, aku sebenernya berharap Dokter Rita yang keluar dari lift. Karena beberapa kali aku melihatnya aku memperhatikan dia belum mengenakan cincin di jari manisnya, jadi siapa tahu terbuka peluangku untuk berkenalan. 10 menit berlalu dan masih tidak ada orang yang keluar dari lift, aku terus menunggu sambail mempeharikan handphone, agar pesan kaka tidak terlewat olehku. Kakak tadi memberitahu bahwa dia akan membutukan bantuan membawa barang ketika dia akan menggantiku menjaga mama.

“ding” suara pintu lift terbuka dan Dokter Rita keluar dari dalam lift menuju ke arahku duduk. Aku sangat senang dan segera tersenyum dan menyapanya “dok”

Dokter Rita tersenyum balik ke arahku dan meneruskan jalannya dan berjalan masuk ke arah ruang mama. Aku tadinya mau bergerak ke ruangan mama dan mengajak dokter Rita berbicara untuk lebih mengenalnya.

Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk dari handphoneku. Rupanya ada pesan masuk dari Kaka

“KAKAK DIBAWAH, CEPAT TURUN PAKE LIFT AJA!”

Aku bangkit, Sambil membaca pesan kakak, aku berjalan ke lift dan menekan tombol turun. Tidak berapa lama pintu lift terbuka dan aku pun segera masuk ke dalam dan menerkan tombol 1 sambil terus tertunduk membaca pesan kakak. Dan pintu lift pun tertutup

“sendiri aja?”

Aku terkejut karena tiba-tiba terdengar suara dari belakangku, aku teringat tadi ketika masuk aku memang berjalan menunduk. Aku menoleh ke arah suara tadi dan melihat Dokter Rita sedang berada di bagian kiri lift.

“oh dokter Rita. Iya dok…. Ini…… mau…… tu…run”

Semua kata-kataku semakin terdengar kecil. Aku teringat bahwa sebelum aku didalam lift ini, Dokter Rita baru saja keluar dari lift dan masuk ke dalam ruangan mama

Seketika hatiku berdegap kencang. Aku segera membalikan badan ke arah pintu lift. Dan menekan tombol buka berulang-ulang. Sedangkan angka di lift baru menunjukan angka 4.

“kok buru-buru mau keluar? Mau kemana?”

Aku tertawa canggung, bingung mau menjawab apa kepada suara dibelakangku. Keringat dingin mulai bercucuran dari kepalaku. Dan angka di lift baru saja menunjukan angka 3

Suasana di dalam lift tiba-tiba menjadi sangat hening dan lebih dingin dengan tiba-tiba, aku bahkan bisa mendengar gerakan kaki yang digeser dari belakangku. Aku melihat angka baru saja berubah menjadi 2

Aku menutup mata dan mencoba berdoa, berdoa apapun yang aku ingat. Aku nyaris berteriak ketika aku merasakan tepukan di bahu kiriku. Aku memutuskan untuk menutup mata dan berdoa hingga terdengar bunyi pintu terbuka dan segera berlari keluar

Detik-detik berikutnya terasa sangat lama dan aku masih bisa meraskan hingga sekarang dinginnya tangan yang menepukku dari belakang, aku berpikir mengapa aku bisa sesial ini. Hingga tiba-tiba terdengar bunyi “ding” dari pintu lift. Aku tahu bahwa aku sudah sampai di lantai 1 dan pintu lift akan segera terbuka

Aku memberanikan membuka mata dan mendorong pintu lift agar terbuka lebih cepat. Aku berhasil keluar dari lift dan berlari tanpa melihat ke belakang. Tetapi Belum juta tiga langkah berlari aku menghentikan langkahku. Karena aku baru saja tersadar aku keluar lift masih dilantai 5. Tampaknya aku beberapa saat lalu hanya diam di dalam lift dengan mahluk apa entah dibelakangku.

Tanpa berpikir mengapa aku masih di lantai 5 aku segera berlari masuk ke ruangan mama dan untungnya Mama masih terbangun, terkejut dengan kehadiranku yang terengah-engah.

“Ma, apa tadi dokter Rita masuk ke dalam ruangan?” ujarku tanpa mempedulikan nafas yang masih terengah-engah

“Dokter Rita? Dokter Mama namanya Dokter Ari”

“Dokter Rita, Ma. Dokter yang selalu masuk ke ruangan ini Yang rambutnya sebahu”

“Dokter Ari rambutnya pendek”

“yang kulitnya putih Ma”

“kulitnya coklat”

“yang matanya sipit”

“dia pake kacamata”

Ibu tiba-tiba memotong kata-kataku.

“kulit putih, rambut sebahu, mata sipit” maksudmu seperti perempuan itu?” ibu menunjuk ke arah pintu dibelakangku

Aku terdiam dan menelan ludah, mencoba mengingat apa pernah aku melihat Dokter Rita memeriksa mama, yang aku tahu dia hanya keluar masuk ruang mama, dan apa aku pernah melihatnya mengobrol dengan orang lain selain aku.

pelan-pelan aku menoleh ke belakang, memberanikan diiri untuk membuktikan kata-kata ibu. Seketika lututku menjadi lemas, karena diarah ibu menunjuk hanya ada pintu yang kosong.

Bandung, Maret 2015

Advertisements

3 thoughts on “Lift

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s