Rumah Hilang

Kakek tua itu kerap sering tertawa keras di siang hari lalu menangis di malam hari. Tidak ada yang ingat siapa dia sebenernya. hanya guru mengaji di mesjid yang masih mau memberinya makan setiap hari. Pakaiannya kerap tidak diganti berhari-hari, kotor meski untuk ukuran kami anak-anak kampung. Aku sendiri selalu takut ketika dia mulai berteriak-teriak dimalam hari. Dengan suara nyaring dia sering bertanya. “dimana rumahku?” “dimana rumah yang lain?” hanya itu yang dia ucapkan sambil menangis kebingungan, kadang dari tengah malam hingga adzan subuh berkumandang.

Kampungku terletak di sebuah lembah, dikabupaten terbesar di Garut selatan. Untuk mencapai kampungku harus menuruni puluhan anak tangga dari jalan aspal diatas. Cukup jauh untuk mencapai rumah pertama dan terus turun kebawah hingga rumah terakhir kampung kami. Sehingga orang kadang tidak sadar bahwa ada perkampungan di bawah sana jika tidak memperhatikan gapura yang kepala desa kami bangun puluhan tahun lalu. Orang yang lewat kebanyakan Hanya mampir untuk beristirahat sejenak di mesjid yang terletak beberapa meter diseberang gapura. Dimana kakek tua itu tidur dan makan sehari-harinya.

Nenek sebelum meninggal pernah bercerita bahwa tidak jauh dari kampung kami ada kampung lain yang terletak hanya beberapa kilometer dari kampung kami. Tapi kata nenek sekarang kampung itu tidak berpenghuni karena orang-orang sudah pergi ke kota mencari pekerjaan. Aku sempat berpikir bahwa kakek tua itu berasal dari kampung sebelah. Tapi aku sempat mencari kampung yang nenek bicarakan ketika aku bermain bersama teman-teman, tetapi hingga sekarang tidak pernah aku menemukan kampung tersebut.

Mendekati bulan januari hujan terus menerus turun setiap hari, kadang dalam beberapa jam dari sore hingga malam. Ayah selalu menasehatiku agar berhati-hati menaiki atau turun tangga dari jalan karena tangga akan menjadi licin. Selepas magrib ibu menyuruhku untuk membawa makanan untuk Pak Arief guru mengaji di mesjid, sehari-hari beliau tinggal disana di kamar kecil dibelakang mesjid. Aku enggan untuk beranjak karena saat itu hujan cukup lebat dan aku tahu diatas sana ada si kakek tua dan biasanya Ayah yang mengantarkan makanan kemesjid.

“tapi bu…” belum sempat melanjutkan perkataanku,ibu sudah melolot melihatku. Aku segera mengambil payung besar dan berjalan keluar.

Aku berjalan menaiki tangga yang terbut dari semen seadanya untuk berjalan ke jalan aspal diatas. Satu-satu anak tangga kuinjak perlahan-lahan dan berhati-hati karena licin. Aku terus menggerutu karena buat apa bersusah payah mengantarkan makanan untuk kakek gila yang hanya bisa berteriak “dimana rumahku?” itu. tidak beberapa lama aku sampai didepan mesjid dan segera dihampiri oleh Pak Arief penjaga mesjid. Aku melihat sekeliling dan segera menemukan kakek itu memperhatikanku dari dalam.

Pandangan Kakek tua itu tidak terlepas dariku saat aku membawa masuk makanan. bahkan ketika aku pulang kakek itu bangkit dan mengikutiku meski dalam hujan hingga ke arah Gapura. bahkan sampai di depan pintu rumah aku masih bisa melihat kakek itu melihat kearah rumahku. Aku menutup pintu dan sedikit merasa takut dengan tatapan kakek tua tadi.

…………………………….

Semakin malam hujan semakin besar, aku memutuskan untuk tidak segera tidur meski jam sudah menujukan waktu 10 malam. Aku hendak mengambil air wudhu ketika terdengar suara keras dari luar rumah.

“KELUAR!!” terdengar suara teriakan kakek tua sambil terus menggedor pintu rumahku. “KELUAR SEKARANG!!”

Aku panik dan segera keluar dari kamar, marah dengan kakek tua yang kini berteriak-teriak diluar rumah hingga membangunkan ayah dan ibuku. Aku segera membuka pintu dan hendak membentak kakek tua agar diam. Belum kata-kataku keluar aku melihat Kakek tua itu berdiri dengan wajah yang seperti penuh penyesalan, air matanya terus keluar dari kedua matanya… “ke…lu…ar.. se…karang” katanya perlahan sambial menangis melihatku. Aku melihat kedua tangannya yang penuh lumpur , air hujan yang turun dengan lebat diluar sana dan kaki kakek yang gemetaran. “rumah… hilang….” Ujar kakek itu sambil memperlihatkan lumpur ditangannya ke arahku. aku terhenyak sesaat dan mengerti apa maksud kakek ini.

Aku menoleh kearah ayah dan ibu yang berdiri di belakang ku.”AYAH IBU SEGERA KE MESJID SEKARANG!” Aku menarik lengan kedua orang tuaku dan mereka untuk sesaat seperti ragu.”TAK ADA WAKTU UNTUK MENJELASKAN, PERGI SEKARANG” Teriakku sambil memaksa mereka keluar rumah

Dalam hujan lebat Aku sempat menoleh ke arah tangga untuk memastikan kedua orangtuaku sudah beranjak keatas sebelum menggedor pintu tetangga dan menyuruh mereka keluar rumah. Dan terus berteriak agar tetangga lain pun ikut bangun. Dan segera keluar. beberapa tampak ragu tapi setelah melihat kedua orang tuaku diatas jalan mereka pun segera menyusul. Dalam hitungan menit aku berasa semua warga kampungku sudah keluar dari rumahnya masing-masing. Dan saat itulah aku mendengar suara gemuruh dari atas jalan.

Tanah mulai bergetar cukup kencang, aku melihat keatas dan tanah dari arah jalan mulai bergerak turun, aku segera berlari dan melompati anak tangga dengan cepat. Tanah longsor yang kakek tua coba beritahu kepadaku sudah terjadi. Aku melompati dua anak tangga sekaligus agar lebih cepat. Beberapa anak tangga berhasil kulompati dengan cepat, tetapi tanah yang licin dan hujan yang lebat membuatku salah berpijak, aku kehilangan keseimbangan dan kepalaku terbentur anak tangga. Segera hanya gelap yang dapat kulihat.

…………………………….

Ketika ku buka mata, ibu sudah berada disebelahku. Pakaianku masih penuh lumpur dan kotor juga pakaian ibu dan beberapa warga lain yang sekarang berada didalam mesjid.

“siapa yang menolongku bu?”

“Kakek tua itu” ujarnya hampir menangis.

Aku bangkit dan menghiraukan peringatan ibu utnuk tetap tidur. Aku berjalan keluar dari mesjid mencari kakek tua yang telah menyelamatkan kami semua. Beberapa menit berlalu aku menemukan kakek tua duduk di pinggir jalan. Aku menghampiri dan duduk disebelahnya. “terima kasih sudah mencoba memperingatkan kami kek” kakek tua itu hanya mengangguk tanpa menjawab apapun. “ini yang terjadi dikampungmu yah kek?” kakek tua tidak menjawab dan hanya menundukan kepalanya. Kami terdiam dan untuk beberapa sesaat kami hanya menatap kampung kami yang kini berupa timbunan tanah

Bandung – Januari 2015

Advertisements

Blank Space

Tidak ada twist dalam cerita ini, ini hanya cerita seorang pria dalam perjalanannya mendekati seseorang selama beberapa bulan (and yet somehow you know its not gonna end well for him). It’s not the writer story, since the writer is already happy now. anyway, Here we go..

………………..

Dimulai 4 bulan lalu ketika kamu datang ke Bandung dan meminta diantar berkeliling. Setelah pertama bertemu setahun lalu, mungkin ini adalah pertama kali kita bertemu langsung hanya berdua. Sedikit canggung, karena what can I say? YOU ARE BEAUTIFULL (notice the two L) sedangkan saya? Saya hanyalah… (insert da-aku-mah-atuh-atuh jokes here). Saya hanya pria yang baru saja gagal dalam percintaan…………………….. (Long pause, for dramatic effect) ……………………………untuk kesekian kalinya. dan kamu adalah teman mantanku dulu, yang dulu tidak sedikitpun ingin saya lihat, karena……………………..……… takut suka (as simple as that).

Tapi karena sekarang kita berdua single, tidak ada salahnya kita bertemu, bukan? Cukup menarik untuk saya,karena saya selalu gugup ketika bertemu orang yang saya anggap menarik. I keep behaving clumsy while we talk and you just keep smiling at me, which makes me more nervous. Since I tense to talk with sharp pitch sound that could attract bats when I’m nervous. Saya menjadi lebih banyak diam. Basically that day I have dropped my spoon, my phone even myself like more than 5 times and spoke like a screaming little girl on sugar rush, but that seems not to bother you.

After movie and lunch, it was holycow and the expendables 3 (I still don’t know why we watched a bunch of old guys showing off their botox for our first movie together). It was you who texted me first. Dan lagi, setelah kamu harus pulang ke Jakarta, days later it was you who called me first. Yes… you, not me. That’s a bit odd isn’t it? Awalnya saya terus berkata pada diri sendiri bahwa tidak mungkin ada kelanjutan dari cerita ini. tapi entah mengapa kamu seperti membuka peluang untuk itu. Lalu respon natural saya sebagai pria kesepian (dan sepertinya pria-pira lain yang mudah pisan kege-eran) adalah.. mencoba mengejarmu. (Not literally chase you like a satpol PP lihat bencong di jalan, but more like… a hint that maybe there’s a slight chance you could be mine)

Days later we got intense on texting, we both show the same interest in movie and tv series. You showed me your EW magazine and I was like you-cannot-be-more-awesome-than-this. Apalagi setelah mengetahui bahwa dirimu juga sangat mengutamakan keluarga dan pekerjaan. Prioritas yang sama kita miliki. Dan juga yang paling kental dapat saya lihat dari dirimu adalah selera humormu yang menurut saya, membuatmu menjadi orang yang menyenangkan.

Long story short.. I go back and forth (I did this before, dan anehnya gak kapok-kapok juga) to Jakarta just to see you. And you, whenever you have plan in bandung, you spare some time just to see me. You take me to see your friends and family; they seem nice and welcome me. Saya tidak ingat kapan tepatnya ada yang berubah setiap melihatmu. Dari yang awalnya hanya suka berubah menjagi kagum. Dan itu lah kesalahan pertama saya, karena ketika saya mengagumi seseorang, saya selalu berasa sangat kecil dihadapan orang itu. dan bagaimana saya bisa menjadi diri sendiri ketika saya selau merasa kecil didepan kamu? Dan untuk apa kamu mau bersama orang yang tidak bisa menunjukan terbaiknya di depan kamu.

3 bulan berlalu dan saya mulai bertanya-tanya, are we ever taking the next step? Are we serious with what we want? Meskipun saya tahu, selama kita bersama saya hanya berasa sebagai bayangan kamu saja yang hanya berada dibelakang, tidak pernah memimpin di depan. Meskipun saya tahu bahwa pulang pergi bandung Jakarta itu tidak mudah, hanya bertemu selama satu hari dalam beberapa minggu pun rasanya tidak cukup.

Karena kita jarang berbicara serius dan cendrung hanya merasa nyaman saat berada berdua (atleast for me) saya mulai banyak berpikir kapan waktu yang tepat untuk menanyakan keseriusan kamu. Dan seperti layaknya film komedi romantis dimana karakter utamanya selalu memposisikan diri diposisi canggung. Saya pun melakukan hal bodoh itu. ingat ketika saya bertanya 5 menit sebelum pulang ke bandung tentang arah tujuan kita? Di parkiran.. di depan antrian motor… di pombensin.. di bekasi. (enough said) Yap.. I could not make it any more romantic, right? Dan tentunya kamu tidak menjawab langsung, karena kamu cukup pintar untuk tidak memberi jawaban di bekasi (this is funny, if you keep in mind all the memes about bekasi).

You said you need time and I said I will give it to you. You said you need space and I said you got the whole miles from Bandung to Jakarta. You said you need to set your priority, and that’s when I knew I will never be one. Sejak perjalanan pulang hingga pertemuan kita terakhir hanya satu yang ada dalam benak saya. Why I push thing like this. Saya sudah tahu bahwa terlalu banyak hal yang berlawanan dengan yang saya inginkan, tetapi tetap saja saya mengejar itu. mungkin saya hanya orang bodoh, who can take any rejection from others but not from himself.

Dua minggu kemudian kamu datang kembali ke bandung, saya sangat menghargai itu karena kamu mau untuk menjawab pertanyaan ku dengan bertemu langsung, tidak lewat email, sms, wasap maupun burung merpati. Kita memutuskan untuk makan bersama ditempat kita pertama bertemu (ironis sekali bukan) and then finally you were brave enough to said “no”. I know I’ve been preparing myself to hear your answer. but right after you said that, I got this blank space in my head. I could no longer hear anything.. only silent that goes on for a couple of minute. And finally it stops after I see you smile. (Seriously, I’m not joking). Guess it was my way to reboot; you’ve been a great deal for me for a couple months. And I need to erase that in an instant.

Setelah beberapa minggu, akhirnya saya punya keberanian untuk mengajak mu berbicara lagi. Dan kamu cukup ramah untuk menanggapinya. Meski singkat. Karena ya memang seperti itu seharusnya. Our past should be handle in 3 ways. Keep is short, keep it simple and mostly keep it away (minjam ini dari aditya mulya). Ada satu lagu korea (yes, I listen to korea music, I even hear to country music. Dan harusnya sih gak ada yang boleh tau… tapi saya tulis aja gitu disini, D’oh) judulnya, “I wonder if you hurt like me?”. Entah mengapa lagu itu sekarang lagu terus ada di ipod saya meski di shuffle (jawabannya, ya karena saya yang taruh lagu itu di ipod, iya gak sih). Ok mulai ngelantur.. jadi intinya, menurut saya apa yang disampaikan dilagu itu kurang tepat, karena buat apa kita mengetahui orang lain merasakan sakit yang sama ketika berpisah. Karena saya ingin kamu menjadi kenangan yang menyenangkan bukan menyedihkan. Justru yang ingin saya tahu, ketika kita bersama, Apakah kamu bahagia, sebanyak yang saya rasakan?

Lembang, Bandung – Desember 2014