A

“What were you thinking? Kamu harus punya prioritas, Keluarga, Kerja, baru “teman-temanmu” itu” kakang membuat tanda kutip dengan jarinya.

Aku melanjutkan memijat kaki ibu, tidak berani melihatnya. Ibu sedikit demam dan kelelahan karena harus berjalan pulang dalam hujan karena aku tidak menjemputnya. Aku masih tertawa bersama teman-teman baseball unit sekolah ku ketika ibu menelepon.

“sudah tidak apa-apa” ujar ibu, mencoba membesarkan hatiku.

Kakang masih bertolak pinggang, mengawasiku. Dia marah karena aku belum bisa menyusun prioritasku. Kakang memang sangat sayang dengan Ibu, hanya mendengar Ibu sakit dia bisa tiba di rumah hanya dalam 1.5 jam meski kakang sedang berada di Jakarta.

“Kang, apa aku berhenti saja dari baseball?”

“jangan! You quit that team now and you’ll be a quitter for the rest of your life!”

Aku terdiam, terlalu takut untuk menjawab.

Tinggal aku dan kakang yang menjaga ibu, dan kakang memiliki standard sendiri untuk semua yang dia kerjakan. Sejak dia bekerja di Jakarta, aku harus mampu mengerjakan semua yang dia tinggalkan. Dan itu tidak mudah, dia selalu berkomentar bagaimana harusnya mengerjakan sesuatu. Kami selalu berbeda pendapat. Tapi entah mengapa, aku merasa dia melakukan itu karena dia takut aku tidak memiliki arah yang benar ketika tumbuh dewasa.

…………………………………..

Aku membuka pintu rumah, hanya lampu teras yang masih menyala. Suara jam berdentang 10 kali. Badanku sangat lelah, aku memutuskan untuk duduk dalam gelap.

“Jaga kesehatan, jangan sepertiku” suara kakang terdengar sangat jelas dikepalaku.

Akupun tersenyum, diabetes yang kakang derita memang mungkin bisa juga menurun kepadaku. Sejak kakang sakit memang aku sudah mengurangi gula dan mencoba merutinkan berolahraga.

Aku memijat kakiku yang pegal, tetapi karena aku dalam posisi duduk, perut buncitku mengalangi gerakan. Sehingga aku cukup kesulitan meraih kakiku.

“jangan perdulikan apa kata orang tentang fisikmu, asal kau sehat” perkataan kakang kembali terdengar lagi.

Aku memegang perutku, memang besar. akupun tertawa dalam hati. Tapi meskipun gemuk seperti ini aku sudah memiliki seseorang yang menungguku setia ketika pulang. Aku mengeluarkan telepon genggamku dan melihat foto keluarga yang aku jadikan wallpaper.

“istrimu cantik, pastikan dia tahu itu”

Diluar semua rutinitas dan kerja yang akan menghabiskan waktu kakang selalu mengingatkan agar jangan menghabiskan waktu dengan bekerja. Karena tujuan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi yang keluarga butuhkan adalah waktuku bersama mereka.

“Bagaimana pemakamannya mas?” Rita tiba-tiba menyalakan lampu ruang tengah dan menghampiriku, sepertinya dia menungguku pulang.

“Alhamdulillah lancar”

“kau harus istirahat, masih banyak yang perlu dikerjakan besok, ayo tidur”

Rita memaksakan untuk tersenyum kepadaku. Dan berjalan kembali kedalam kamar.

Aku bangkit untuk mematikan lampu, terdiam sejenak mengingat kata-kata terakhir kakang dirumah sakit.

…………

Kakang terbaring dikasur. Hanya aku yang ada disana, Ibu dan istri kakang sudah pulang ke rumah, mereka butuh istirahat. Tengah malam kakang bangun dia meminta segelas air.

“sudah shalat?” Tanya kakang. Aku menggeleng.

“Sesibuk apapun kamu, luangkan waktu untuk selalu berdoa yah. Mungkin kau akan berdoa untukku nanti” ujar kakang dalam nada bercanda.

Aku tersenyum, kakang pun tersenyum kembali ke tidurnya.

………..

Aku berdiri dan memandang photo keluarga kami di sebelah pintu kamar.

“kau memang sudah tidak disini kang, tapi aku masih bisa mengingat semua perkatanmu”

“it makes me who I am”

 

Bandung – November 2014

We miss you, A.

Advertisements

6 thoughts on “A

  1. You’re such a good writer actually.
    Saya terlena ke dalam ceritamu.

    Saya suka ‘genre-genre’ fiksi yg seolah-seolah menggambarkan kisah nyata penulisnya.

    May be it’s your kisah nyata or just sekedar fiksi, gak ada yg tahu.

    Ayo dong buat “30 hari mencari cinta”, eerr I mean “30 hari menulis cerita. I dare you. :))
    Hehehe.

    • thx you, saya seneng kalo ada yang baca dan suka. saya ada ide dan ada waktu buat nulis sebulan sekali aja saya udah seneng, jadinya susah lah mau bikin 30 hari menulis cerita hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s