IMG-20180805

“Gege, aku……takut” matamu terlihat redup seolah tak ada semangat hidup didalamnya.

“cobalah untuk tidur” jawabku. Kau enggan menutup mata tapi akhirnya kau lakukan dengan terus menggengam tanganku.

Jika saja kau tahu, Takut adalah hal yang pertama aku rasakan ketika pertama bertemu denganmu 2 tahun lalu. Bukan karena aku takut bahwa dirimu bukan berasal dari dunia ini. Tapi takut bahwa mungkin doaku ketika aku kecil sudah terkabul. Doa yang kuacapkan di hari ini 20 tahun yang lalu. Aku berdoa bahwa diumur 30 nanti aku akan berkeluarga dan tidak akan sendiri lagi.

Tumbuh dewasa akupun melupakan doa kecilku dulu. Besar dipanti asuhan aku sudah terbiasa sendiri, tidak ada yang salah dengan hal itu. Aku malah ingin menunjukan kepada semua orang bahwa aku mampu berdiri sendiri. tanpa membutuhkan orang lain. Dan aku bisa, aku tidak pernah meminta bantuan siapapun hingga saat ini. aku memperoleh gelarku sendiri, pekerjaan ku sendiri, rumahku sendiri.

Lalu sehari sebelum ulangtahun ke 30 ku, kau tiba-tiba hadir. Di dalam photo yang seolah mengarahkanku untuk bertemu denganmu di taman. Lalu disaat kau menyebutkan namamu, saat itu pula ketakutan terbesarku hadir, kau akan menjadi sesuatu yang aku butuhkan.

Dua tahun sudah kita lalui bersama, tapi setelah kau hilang didalam photo yang kuambil tadi. aku baru menyadari bahwa sudah lama aku menyayangimu.

I love how you always be the first who makes me happy but also the first who makes me worried.

I love how you’ve never complained about my life and yours, which I know it has not been easy.

I love how you see the world as your play ground and how you invite me to be part of it.

I admire you so much.. at some point around you, it felt like I was nothing.

Aku selalu merasa kecil dihadapanmu, selalu takut bahwa aku akan mengecewakanmu. Tapi hingga kemarin, saat kau hilang diphoto itu baru aku tersadar bahwa kau pun membutuhkanku. Bahwa dua tahun ini bersamamu aku tetap mempertahankan dinding tinggi agar aku tidak terlihat kecil dihadapanmu, tanpa menyadari bahwa kaupun sama sepertiku. Rapuh.

Kau sudah tertidur, tanpa melepas tanganku. Aku terus berdoa dalam hati agar kau segera sembuh. Jam sudah menunjukan jam 3 pagi. Mataku sudah sangat berat ketika aku baru menyadari kau sudah mengenakan cincin yang kuberikan tadi dijarimu.

………………………………….

Kamar ini masih sama seperti dulu, kita berdua masih di posisi yang sama Kau masih terbaring menahan sakit, dan aku hanya mampu mencoba meringankan sakitmu disebelahmu.

“Gege, aku…..”

Kau tidak pernah melanjutkan kalimatmu, Tapi aku tahu kau takut. Dan selama aku mengenalmu hanya satu kali kau pernah mengakuinya. Dan kau mengucapkan dirumah sakit ini persis dikamar ini dua tahun lalu.

“kau ingin melihat sesuatu?”ujarku. dan kau masih terlihat sedih tanpa menjawab pertanyaanku. Aku bangkit dan menunjukan handphoneku kepadamu.

“aku mengambil photo kita berdua ini tadi” ujarku. Wajahmu berubah seketika melihat handphone ku dan mulai menunjukan senyuman.

“ini photo kita?” seolah tak percaya, dan aku hanya bisa mengangguk.

Lama kau terus memandangi photo itu, seolah hanya itu yang ingin kau lihat didunia ini.

“sudah siap?” seorang pria paruh baya dengan muka yang ramah tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kami

“siap Dok” ujarku,

Aku bangkit dan mencium keningmu “semua akan baik-baik saja”

Aku mengelus perut buncitmu, dan kau meletakan tanganmu diatas tanganku.

“aku siap” ujarmu tersenyum kepadaku.

Tak lama dokter dan suster pun membawa mu pergi ke kamar operasi. Aku menunggu diluar ruangan dan terus berdoa mengamati photo bertuliskan IMG-20180805, photo yang bertuliskan tanggal esok hari. Photo yang terus kau lihat tadi.

Aku tersenyum, baru menyadari bahwa ternyata Tuhan benar mengabulkan doa yang dipanjatkan untuknya, meski itu hanya doa anak kecil 10 tahun. Tiba-tiba suara tangis bayi dari dalam ruangan membuyarkan lamunanku. Aku bangkit dan menaruh handphone di saku baju. Handphone dengan photo Aku dan Arin yang sedang menggendong bayi mungil yang cantik.

Bandung – Oktober 2014

Advertisements

IMG-20160805

“Hai Gege, Saya Arin..” itu adalah kata-kata pertama yang kau ucapkan ketika kita pertama bertemu. Dua tahun berlalu, aku masih sering tersenyum mengingat pertemuan yang mungkin aku pikir agak sedikit aneh. Aneh karena aku memiliki photo dirimu sehari sebelum aku bertemu langsung denganmu di taman itu. my bestfriend call it magic, but I call it fate. Iya, takdir kita untuk bertemu, bagaimana caranya, melalui apa, kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu karena aku tidak ingin kau khawatir dan mulai bertanya. yang perlu kau tahu adalah, sudah dua tahun berlalu dan tidak seharipun aku ingin berpisah denganmu. Setiap hari, baik atau buruk, aku selalu berada disampingmu bukan?

Aku sadar tidak selamanya kita bersama menjadi sesuatu hal yang membahagiakan. Tapi aku selalu mencoba agar tidak seperti itu. Ada alasan mengapa kita bertemu dan aku ingin alasan itu kita ketahui bersama suatu hari nanti. Aku senang karena meski beberapa minggu terakhir kita hanya bisa menghabiskan waktu dirumah sakit kau tidak pernah menunjukan bahwa kau bersedih. Kau tidak pernah menyesal berada disampingku.

Ada satu hal yang kau tidak ketahui, ketika siang tadi kau memaksaku untuk membawamu pergi ke taman tempat kita bertemu. Ketika kau ingin merayakan dua tahun kita bertemu ditaman itu. aku mengambil photo kita berdua secara diam-diam. Aku mengambilnya ketika kau tertidur dipundakku saat kita duduk dibangku taman. Mungkin kau lelah karena kita harus diam-diam keluar dari rumah sakit tapi Saat itu kau terlihat sangat cantik meskipun tertidur. Aku pikir kau menginginkan kenangan dua tahun kita bertemu dengan sebuah photo lalu aku pun mengambilnya.

Tetapi sayangnya, hal yang terjadi dua tahun lalu kini terjadi kembali. Dan hingga saat ini aku masih belum bisa menjelaskannya, karena kali ini……. kau yang tidak ada diphoto itu, hanya ada aku sendiri duduk ditaman, kau tidak bersandar dipundakku. Aku sempat mengambil photo yang kedua dengan mengarahkan kamera tepat berada di depan kita. Dan hasilnya kau tetap tidak ada. Melihat itu aku segera memeriksa informasi di photo itu. yang tertulis adalah IMG-20160805, sepertinya aku sudah mengambil photo untuk esok hari.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hal itu padamu, karena itu aku menulis surat ini. setelah melihat photo itu aku segera membawamu kembali ke rumah sakit. Aku tidak ingin menjelaskannya langsung kepadamu karena kau pasti akan panik. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat ini dan meletakannya disamping tempat tidurmu, agar kau bisa membacanya dengan tenang setelah terbangun.

-gege-

………………………………

“kau sudah selesai membaca surat itu?” Ujarku

“kau dari tadi ada disini?” tanyamu, terkejut karena aku tiba-tiba ada didalam kamar.

“aku tadi di ruang suster,mengamatimu dari monitor menunggumu bangun dan membaca surat itu”

Kau meletakan surat tadi disebelah obat-obat mu di atas meja.

“apa semua itu benar?”

“iya Arin semua itu benar”

“lalu apa artinya?” tanyamu kembali dengan suara yang makin pelan, sepertinya kau sudah tak kuat menahan tangismu.

“Jujur aku tak tahu”

Aku berlutut di samping kasurmu, menggengam tangan kananmu yang lemah

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi esok, yang aku tahu saat ini kau ada bersamaku, meski entah berapa sisa waktu yang Tuhan berikan untuk kita”

Aku mengambil kotak hitam kecil dari saku dan meletakannya di telapak tanganmu.

“Arin… mau kah kau menghabiskan sisa hidup kita bersama?” wajahmu berubah karena terkejut

“Apapun yang terjadi esok itu adalah takdir dan aku berjanji kau akan selalu menghadapinya denganku”

Air matamu kini sudah menetes jatuh ke baju, kau menggengam tanganku dengan sisa tenaga mu yang lemah dan berkata

“Gege, Aku….

Bandung – Oktober 2014

Kemeja itu..

Kemeja itu berwarna hitam, berkain tipis, berlengan panjang, dengan saku di dada kiri. Digantung di dalam lemari, berjejer rapih dengan kemeja yang lain. Di sudut saku tampak tanda bekas terbakar, sedikit berwarna lebih hitam dari warna kemeja. Rupanya semalam wanita paruh baya itu menyetrika bagian saku terlalu lama, sehingga meninggalkan bekas disana.

Pintu lemari dibuka, pria gendut berumur dua puluhan mengambil kemeja itu, melepaskan dari gantungan dan memakainya. Kancing kemeja nyaris lepas ketika harus menutupi perut buncitnya. Pria itu lalu bercermin dan mulai memperhatikan bekas hitam di sudut saku. Dia langsung membuka kemeja itu dan membuangnya ke lantai.

“bibi!” ujar pria berumur 20an itu. wanita paruh baya dengan muka yang lelah menghampiri pria tadi

“buang!” menunjuk kemeja dilantai. “tapi den…”

“buang!!” bentak pria gendut itu dengan suara yang tinggi meski wanita tadi belum selesai bicara.

Wanita tadi memungut kemeja sambil melipatnya dengan rapi. Diluar rumah Wanita paruh baya itu meletakan kemeja di dalam tong sampah. Belum sempat menutup tong, awan sudah meneteskan hujan dengan deras. Wanita itupun berlari ke dalam tanpa sempat menutup tong sampah.

Tong sampah itupun cepat dipenuhi air hujan. Kemeja itu terdorong luapan air keluar dari tong, terbawa mengikuti arus air. Jalan di perumahan ini besar tapi sama seperti kebanyakan perumahan mewah, drainasenya buruk. Kemeja itu terus bergerak mengikuti air di jalanan, terbawa hingga hujan reda.

………………….

Kemeja itu sekarang berada diatas tumpukan sampah. Tepat dibelakang perumahan mewah tadi, ada perkampungan yang sore hari ramai oleh anak anak pulang dari sekolah. Seorang anak kecil berseragam mengamati kemeja hitam yang tergeletak itu lalu memungutnya dari tanah. dari saku celana pendeknya dia mengeluarkan kapur yang dia ambil dari sekolah. Diatas kemeja hitam dia menggambar simbol tengkorak dan tulang yang disusun silang. Lengan kemeja itu diikat ke bambu seukuran badannya, satu lengan diikat diatas, satu ditengah. Setelah cukup puas anak membawa tongkat itu berlari dan memanggil teman-temannya. “Bendera Bajak Laut” jawab anak itu ketika ditanya oleh teman-temannya.

Bambu itu diikat didahan pohon tempat anak-anak bermain diatas bukit. Angin yang berhembus kencang,mengangkat kemeja hitam seolah bendera. Anak-anak itu menghabiskan waktu dari siang hingga matahari terbenam disana. kadang mereka bawa kemeja itu berlari bekejaran seolah membawa bendera dalam perang. Kadang mereka kembali menaruhnya di dahan pohon, dan menjadikan bukit sebagai pulau perompak. Sederhana tapi imajinasi mereka juga bermain. Berhari-hari kemeja itu terikat diatas pohon, hingga sebuah angin besar membawa terbang kemeja itu di sore hari.

……………………

Perempatan jalan itu selalu ramai. Kendaraan-kendaraan selalu berusaha menjadi paling depan ketika lampu hijau menyala. Dan motor selalu berusaha menerobos ketika lampu berubah merah. Kadang hal itu yang mengakibatkan kemacetan dijalan itu hingga berjam-jam karena tidak ada pengendara yang mau mengalah. Tapi hari ini tidak seperti itu, salah satu lampu lalulintas tertutup oleh kemeja berwarna hitam sehingga tidak ada pengedara yang yakin apa warna lampu jalan saat ini, apakah sudah berubah hijau atau masih merah. Sehingga mereka lebih menunggu kendaraan di seberang berhenti sebelum mereka jalan. Begitu pula ketika akan berhenti, mereka tidak berani menerobos dengan alasan yang sama.

Berhari-hari kemeja hitam itu tergantung diatas lampu jalan. Bahkan polisi pun membiarkannya seperti itu. mereka malas untuk memanjat keatas lampu lalu lintas yang cukup tinggi. Hingga Suatu malam seorang penarik becak, melewati perempatan itu. Penarik becak itu banyak melamun dari sore hari, masih tidak percaya dengan apa yang anaknya sudah lakukan. Belum sempat dia menunggu lama, sebuah kain hitam jatuh tepat keatas becaknya. Dia mengambil dan memperhatikan ternyata kain itu adalah kemeja hitam yang sepertinya masih cukup baik. Dia baru tersadar dan segera mengucapkan syukur, kemeja ini pas untuk sidang anaknya minggu ini.

……………………..

Beberapa tahun berlalu pria gendut berumur dua puluhan itu kini duduk di sebuah ruang tunggu, dengan map berisikan kertas hasil kerjanya. Pria gendut ini menunggu resah sebelum akhirnya dipanggil oleh sekertaris untuk masuk ruangan wawancara. Sebelum masuk dia memastikan pakaian mahalnya sudah rapih, memastikankan kancing kemeja masih menahan perut buncitnya dan dasi menutupi kancing itu.

Pria itu akhirnya duduk didepan sebuah meja dengan miniature becak menghiasi sudut kanan meja. Disampingnya terdapat frame photo seorang remaja dengan laki-laki paruh baya dengan handuk melingkar di lehernya. Belum sempat dia memperhatikan foto lain seorang pria yang sepertinya memiliki umur yang sama dengannya masuk dan memperkenalkan dirinya sebagai calon atasannya. Pria gendut tadi tidak banyak memperhatikan apa yang terjadi, dia hanya memperhatikan kemeja yang dipakai calon atasannya. Berwarna hitam dengan noda bekas terbakar di sudut sakunya.

Le Mer – September 2014