Chapter 5 – Ana

Pesta pernikahan itu meriah, diisi tenda, lampion, bunga-bunga yang semua berwarna warni. Kedua mempelai duduk di ujung taman, diatas panggung yang sudah dihias hingga tampak seperti sebuah pohon besar. Para tamu saling bercengkrama di dalam taman, tertawa, bercanda, merayakan hari bahagia kedua mempelai itu.

Ana duduk di salah satu kursi di ujung taman yang berlawanan dengan mempelai. Taman ini cukup luas sehingga ana sendiri tidak bisa melihat wajah kedua mempelai dari tempat duduknya. kakek berpesan untuk tidak memperhatikan pesta yang sedang berlangsung, tapi perhatikan langit diatasnya. Ana bingung mengapa dia harus memperhatikan langit diatas sana. Dia melihat tidak ada satupun awan disana, matahari sore yang sedang tenggelam sudah memberikan cahaya yang cukup untuk pesta ini. dia tidak mengerti apa yang harus dia perhatikan. Tak tahan untuk duduk terus menerus Ana akhirnya bangkit dan mendatangi salah satu tenda. Dia sudah memperhatikan chocolate fondue yang berwarna warni dari tadi.

Antrian chocolate fondue tidak terlalu panjang, hanya dalam waktu beberapa menit Ana sudah dapat memilih apa yang ingin dia celupkan kedalam coklat. Ana mengambil strawberry yang sudah ditusuk oleh batang kayu dan sebuah marshmallow putih yang besar. Ana berhati-hati ketika mengambil marshmallow yang sudah dia celupkan, dia tidak ingin coklatnya mengenai baju putih yang sudah kakek belikan. Dan saat itulah dia melihat laki-laki seumur dia yang memainkan air di telapak tangannya. Air bergerak seolah berada di daun talas diatas telapak tangan anak tadi. Bergerak diantara sela jari-jarinya tanpa jatuh ke tanah. Ana tanpa sadar berjalan mendekat ke arah anak laki-laki tadi. Ketika hanya berjarak 2 langkah dari dirinya, baru anak laki-laki itu tersadar. Dia menarik lengannya ke belakang dan seketika air pun terjatuh ke tanah. Yang aneh, air jatuh sangat perlahan seolah lengket dari lengan anak itu.

Untuk beberapa saat Ana bertukar pandang Anak laki laki tadi tanpa berbicara.

“hi.. saya Eky” ujar anak tadi memecahkan keheningan

“Ana….” Ana menyambut uluran tangan Eky “bagaimana bisa tadi kau melaku….

“melakukan apa?” ujar Eky tersenyum lebar. Menjawab pertanyaan Ana yang bahkan sebelum selesai diucapkan

“Anak SMU 2 ya? Kayanya sering lihat”

Ana mengangguk, baru tersadar bahwa dia sering melihat anak laki-laki ini di sekolah. Dia pertama melihatnya ketika acara penerimaan siswa baru beberapa minggu lalu. Dia yang diceburkan oleh kakak senior di sekolah kedalam kolam entah karena apa.

“kesini dengan siapa?” ujar Eky. Mengajak Ana terus berbicara berbicara

Ana menjawab dengan seperlunya. Dengan terus mengingat kelakuan aneh yang Eky lakukan sejak dia pertama melihatnya. Ana ingat bahwa Eky sering duduk di dekat kolam setiap jam istirahat, sendirian tidak bermain seperti anak-anak lain. Atau Botol minuman yang sering Eky bawa kemanapun dia berada disekolah. Atau bagaimana dia bisa menggerakan air ditelapak tangannya tadi

“kau mau minum?” ujar Eky menyerahkan gelas berisi air ke arah ana. Belum ana mengambilnya dari tangan Eky. Eky sudah berbicara lagi.

“Eh lihat langitnya semakin hitam, sepertinya akan hujan” Kata-kata Eky terdengar sangat berantusias di telinga Ana. Dan Ana pun segera melihat keatas. Awan hitam betul sudah mengelilingi langit diatas taman ini.

Ana tersadar, mungkin ini lah yang kakek pesankan untuk dia perhatikan. Panik, Ana berlari meninggalkan Eky dan kembali ke ujung taman. Ketika ana berlari dia memperhatikan tangannya sudah basah oleh beberapa rintik air yang turun. Ana menatap ke langit yang kini sudah hampir ditutupi oleh awan hitam. Dia tak ingin hujan mengakhiri pesta ini. dan menghilangkan kesempatan dia untuk bertanya kepada Eky.

Dalam kebingunan ana mencoba menutup mata dan berdoa supaya ada angin yang dapat meniup awan gelap dari tempat ini. dan saat itulah dia merasa ada angin berputar dibawah kakinya. Ana membuka mata dan melihat kebawah, angin yang dia rasakan berputar mengelilinginya mengangkat daun-daun kering yang berputar naik dari dasar tanah ke atas dengan semakin kencang. Ana terkejut, dia sekarang berada di dalam pusaran angin yang terus membesar. Ana memejamkan mata berharap angin ini agar tiba-tiba hilang, tetapi semakin ana membayangkan angin di sekitar nya, semakin dia merasakan angin ini sudah melewati batas kepalanya.

Ana membuka mata dan melihat angin sudah cukup tinggi diatas kepalanya, meski tidak terlihat dengan jelas tapi ana dapat merasakan bahwa angin di sekelilingnya tidak bertambah kencang, angin hanya berputar mengelilinya. Ana kemudian mengepalkan tangannya dengan kencang dan seketika Angin yang berputar mengelilingi Ana membesar secara tiba-tiba dan nyaris menjatuhkan Ana.

“jangan terlalu besar” ujar kakek Ana tiba-tiba sudah berada dibelakang Ana, menahan tubuh Ana agar tidak terjatuh

Kakek membuka telapak tangannya dan mengangkat tangannya keatas, seketika angin yang Ana ciptakan bergerak keatas dengan cepat. Menuju awan hitam diatas sana. Kakek kemudian merangkul pundak ana dan mengajaknya melihat keatas.

“diatas sana anginnya sangat kencang kau minta saja mereka untuk berhembus menjauh dari tempat ini”

Kakek seolah sedang melambaikan tangannya keatas dan mengarahkan sesuatu dengan tangannya. Awan hitam diatas sana seolah bergerak menuruti kemauan Kakek. Ana terus mempehatikan awan diatas sana dan bagaimana seolah awan-awan itu bergerak menjauh. Kagum dengan apa yang sudah kakeknya lakukan. Beberapa saat kemudian Ana tersadar, bagaimana jika ada orang yang melihat apa yang sudah dia dan kakeknya lakukan.

Ana melihat kebelakang dan menghela napas lega bahwa tak ada seorang pun memperhatikan mereka

Dari Kejauhan Eky berdiri melihat apa yang sudah terjadi. Ketika Ana menoleh kebelakang. Eky baru sadar dia memegang sesuatu yang sangat dingin di lengannya. Lengannya reflek melepas apa yang digengam. Gelas yang kini penuh berisi es menggilinding menjauhi kaki Eky.

–$$–