Pangeran Kesiangan

Dia tinggal di negeri barat. Paling ujung dibanding negeri yang lain. Ketika matahari terbit di timur dan negeri lain sudah beraktivitas, Negeri barat masih dalam gelap gulita. Dan Saat itulah pangeran lahir, terlambat dari pangeran di negeri lain.

Ketika dia kecil, dia merasa sedikit tertinggal dari pangeran sebayanya. Ketika ada kabar bahwa ada putri dikurung di menara tinggi oleh naga, dia bertekad suatu hari dia akan menyelamatkan putri itu. Belum genap satu hari berita itu dia dengar, kini berhembus kabar bahwa putri itu sudah diselamatkan oleh pangeran dari negeri jauh dan kini sudah hidup bahagia bersama. Sejak itu dia berjanji tidak akan lagi dia hanya menjadi pendengar cerita romansa pangeran dan putri. Tapi dia sendiri yang akan menjadi tokoh utama seperti dongeng-dongeng yang dia dengar ketika kecil

Akhirnya Ketika umurnya sudah cukup, dia memutuskan untuk berpetualang. “mencari putri” ujarnya, mustahil di negeri lain yang luas itu tidak ada satupun putri untuk dia selamatkan. Dan Pangeran pun berjalan ke timur ke negeri yang tidak pernah dia datangi, menuju matahari terbit.

……………….

Di negeri pertama yang dia datangi, ketika sedang berada di sebuah restoran dia membaca selebaran bahwa pangeran negeri ini sedang mencari pasangan dengan mengadakan pesta dansa dan semua orang diundang. Ketika dia selesai makan, seorang wanita datang untuk membereskan mejanya. Wajah wanita ini cantik, rambutnya pirang, kulitnya coklat tapi yang paling pangeran ingat adalah senyumnya yang sangat manis. Di dadanya ada lebel nama dengan tulisan Cindy. Saat cindy membereskan piring pangeran berniat untuk mengajaknya berkenalan, tetapi dia urungkan karena Cindy hanya seorang pelayan, bukan putri yang dia cari. Akhirnya dia bangkit pergi tanpa sempat mengucapkan satu katapun pada Cindy.

Malamnya pangeran datang ke datang ke pesta dansa, terlambat dari waktu di undangan, seperti biasa. Belum sempat masuk kedalam istana dia sudah melihat seorang putri dengan gaun putih dan sepatu kaca berdansa dengan pria tampan di dalam istana. Dia terkejut melihat kecantikan putri itu, terlebih ketika dia menyadari bahwa itu adalah Cindy, pelayan yang dia temui sebelumnya. Dia tak berani masuk kedalam. Dia merasa telah melewatkan kesempatannya untuk berkenalan dengan Cindy yang ternyata adalah seorang putri. Pangeran akhirnya pulang dengan penyesalan, tapi kini dia sadar bahwa dia telah menjadi seorang yang angkuh, yang enggan untuk melihat kebawah.

………………….

Di negeri kedua yang dia datangi pangeran mengetahui bahwa tidak ada istana di negeri ini. Yang ada hanya cerita mengenai seorang wanita cantik yang disekap dalam rumah besar oleh seorang mahluk buas. Kabarnya mahluk ini tinggi besar seperti beruang dengan muka anjing liar dan cakar singa. Dan Wanita itu bernama belle yang menggantikan posisi ayahnya untuk disekap dirumah besar itu. Mendengar cerita itu hati pengeran panas, dia mengambil pedang beserta perisai dan mengajak kudanya berlari sekencang mungkin menuju rumah itu.

Akhirnya pangeran sampai di lokasi yang diberitahukan. 30 menit dia menyusuri pagar belum juga dia menemukan pintunya. Tersadar dia hentikan kudanya. Negeri ini bukannya tidak memiliki istana, tapi rumah besar inilah istana tersebut. Dia memperhatikan ujung istana di kiri dan kanan, tidak ada batasnya, yang ada hanya pagar besi tua yang memanjang. Hati kecilnya berbicara, Mahluk buas didalam sana pasti sang pangeran negeri ini. meskipun dia bisa menyelamatkan Belle dia tidak mungkin dapat bersaing dengan harta sebanyak ini. pangeran membalikan arah kudanya. Meski dalam hati dia menyadari bahwa dia hanya pengecut yang kalah sebelum berjuang.

…………

Di negeri ketiga yang pangeran datangi dia mendengar berita bahwa, negeri ini dikuasai oleh penyihir jahat yang sudah meracuni putri putih hingga tertidur abadi. Dan putri putih sekarang berada di hutan hitam dengan dijaga oleh 7 orang kurcaci. Mendengar berita tersebut pangeran bergegas menuju hutan. Dari pagi hingga malam pangeran berjuang menebas semak dan belukar yang menghalangnya hingga akhirnya di tengah malam dia melihat cahaya putih dari balik pepohonan. Di balik sana dia dapat melihat putri putih tertidur terlentang diatas batu yang panjang. Pangeran mendekat dan duduk bersandar dipohon. Dia bahagia dapat menemukan putih, tapi dia juga sadar bahwa dia kelelahan. Akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat dulu sebelum membangunkan putih. Istirahat dengan mata yang terpejam.

Sebuah tamparan di pipi membangunkan pangeran. Ketika dia membuka mata dia melihat kurcaci dengan hidung merah dan wajah yang marah dibelakangnya matahari sudah tinggi diatas kepalanya.

“sedang apa kau disini?” Tanya kurcaci itu

“menunggu pagi, aku ingin mencium putih untuk membangunkannya” ujar pangeran sambil bangkit berdiri.

“kau kesiangan, putih sudah bangun dan dia sudah kembali ke istana dengan pangeran yang menciumnya”

Pangeran kesiangan terduduk. Pasti jam biologisnya yang tinggal di negeri paling barat yang mengakibatkan dia terlambat bangun. Dalam pikirnya dia hanya bisa bertanya mengapa dia bisa sesial ini? Lama dia terduduk disana hingga kurcaci itu mulai berbicara kembali.

“sudah jangan bersedih… diatas sana putih memang tertulis bukan untukmu. Kau sudah berjalan jauh, pulanglah kerumah dan belajar lah sesuatu dari ini”

…………..

Beberapa hari kemudian Pangeran kesiangan duduk di depan tangga istana barat, memikirkan apa yang sudah dia lakukan. Dan belajar memperbaiki diri agar tidak lagi menjadi pria bodoh selama diperjalannya. Tapi tetap dia bertanya Apa benar sesulit itu mencari putri yang dia inginkan? Mengapa orang lain bisa begitu beruntung mencari pasangannya. Pikiran pangeran sangat berkabut sekarang, lamunan membuatnya tak melihat ada wanita yang sudah lama berdiri memandangnya dari tadi.

“sudah melamunnya?” wanita itu tiba-tiba mengajak pangeran kesiangan berbicara

“si.. siapa kau?” ujar pangeran, terkejut

“Aku Merida, putri dari seberang, Aku disuruh Ayah untuk menyampaikan undangan kepada Ayahmu, Kau pangeran barat kan?”

Pangeran belum sempat berkata apa-apa, dia hanya memperhatikan wajah merida yang bulat, rambut ikalnya yang berwarna merah dan panah besar yang dia taruh dipunggungnya.

“minggir, aku ikut duduk” ujar Merida. Mulut pangeran belum tertutup ketika tiba-tiba merida duduk disebelahnya dan mulai bercerita mengengai perjalannnya menyusuri laut. Bagaimana dia bisa berlayar sendiri hingga negeri Viking. Dan kemampuan panahnya yang luar biasa.

Senyumnya, ceritanya dan canda Merida berasa sangat familiar di telinga pangeran. Seperti dejavu dia merasa sudah pernah bertemu dengan sebelumnya. Dia hanya bisa mendengar Merida bercerita dan tersenyum. Dalam benaknya mungkin Merida putri yang sudah tertulis untuknya. Tapi ini tidak masuk akal, harusnya dia yang mencari putri dan menyelamatkannya, bukan putri yang menemukannya, ini terbalik. Tapi tunggu, setelah beberapa lama pangeran berpikir ,semua kini menjadi masuk akal. Karena mungkin saja wanita yang hadir tiba-tiba didepannya ini adalah…..

Putri yang kesiangan.

 

Bandung – Agustus 2014

Advertisements

Bunga Tidur

Bunga tidur salah satu lagu di album Gajah dari Tulus. Ini yang saya interpretasikan dari lagu itu, dengan mengambil sebagian liriknya untuk membantu bercerita.

Bunga tidur

Berat rasanya membuka mata apalagi ketika pipiku menempel lengket dengan sarung bantal. Tapi bunyi alarm tua itu terus menggangu, tak akan berhenti hingga kutekan kepala besinya. Aku terpaksa bangun, mengelap muka dengan sebelah tangan. Aku memperhatikan telapak tanganku yang kini sebagian sudah tertutup warna merah. Didepan cermin aku melihat, ada bekas gincu di pipi kiriku. Aku tersenyum. kuharap itu oleh mu, bunga tidur.

Aku lupa kapan aku pulang, aku rasa aku mabuk. Teman-teman memaksaku ikut bersama mereka, memaksaku minum di tengah malam. Awalnya aku ingin menolak, tetapi kulakukan juga, hanya berharap perasaan ini larut bersama minuman yang ku tegak. Bodoh jika ku berharap bisa melupakan mu karena satu kali minum, buktinya aku masih ingat ini sabtu pagi. Tanggal yang sama ketika ku meninggalkanmu satu bulan lalu.

Telepon genggam ku berbunyi, ada pesan singkat lagi yang masuk.
“kau tak apa?, kau harus kuat ya” pesan dari temanku.
Ah Kau salah kawan, bila kau pikir aku sekuat itu dua empat tujuh aku akan bahagia.

Tak lama telepon gengamku berbunyi kembali. Pesan lain dari temanku
“jangan sedih, perasaanmu akan berubah seiring waktu”
Kini kau benar kawan, memang hati ini perlu waktu. Kadang aku kembali jatuh cinta, kadang aku naik pitam, kadang pikiranku gelap bagai malam, kadang aku pura-pura tuli.

Bunyi benda jatuh mengalihkan perhatianku dari telepon genggam. sebuah buku tebal bertuliskan arab yang sudah berdebu lama tak kubuka. Aku tertegun, lupa kapan terakhir kali aku membacanya. Terduduk aku melihat keatas, kain sarung itu sudah lama kusimpan diatas lemari. Malu, sudah dewasa tapi hanya saat tertekan aku ingat untuk bersujud. Harusnya aku kembali kepada yang satu, yang mampu melindungiku.

………………….

Kulepas pakaian kerjaku, Di depan cermin aku berdiri, muka kusam, kantung mata hitam, bahkan aku merasa aku semakin kurus. “mustahil kau tanpa cela” ujarku pada pantulan di cermin. Mencoba meyakinkan diri sendiri dengan apa yang kujalani. Aku tahu aku sudah membuat kesalahan, tapi apa yang bisa seseorang lakukan ketika tanpa memiliki pilihan. Yang ada hanya jalan lurus, dan kamu bukan di jalan itu. Tak kusangka bulan lalu aku masih bisa melihatmu setiap hari. kini, aku sudah merasa beruntung bisa memimpikanmu dimalam hari.

“kamu lagi dekat dengan siapa?”
pesan singkat terakhir darimu
“tak ada” jawabku.
Kau tak perlu tahu tentangku, asal aku mendengar engkau senang, asal kau bertemu dengannya setiap minggu, asal jalan lurusmu menuju kearah dia, semua perasaanku masih bisa kusimpan sendiri.

Kuambil tas kerja, mencari kotak kecil hitam di dalamnya. Kubuka kotak hitam kecil itu, didalamnya cincin bermata satu memantulkan cahaya putih dari lampu diatasku. Tidak terlalu mewah tapi pasti akan indah dijari manismu.
Kurebahkan badanku diatas kasur. Terus aku pandangi cincin itu, warnanya terasa makin terang setiap aku memandangnya. Kugenggam cincin itu erat hingga sinarnya tak terlihat lagi. Kupejamkan mata mencoba tertidur

Siapa tahu, mungkin aku bisa melamarmu malam ini, bunga tidur.

Bandung – Agustus 2014
F.

IMG-20140805

Hari pertama masuk kerja setelah liburan panjang, semua orang tampak tidak bersemangat. Bahkan setelah perut diisi makan siang aku tetap berjalan menunduk tanpa berbicara. Aku dan rekan kerja kembali berjalan menyurusi taman untuk sampai di kantor. Taman ini dulu gelap, kotor dan sedikit angker, tapi berkat usaha wali kota baru, taman ini tampak lebih bersahabat. Kini sudah tersedia bangku taman untuk duduk, jalan setapak yang rapih dan orang-orang. Ya betul, orang-orang adalah pemandangan yang dulu jarang terlihat ditaman ini, karena dulu taman ini betul-betul hanya berupa sebuah ruang yang diisi pohon-pohon yang tinggi dan setumpuk sampah.

Aku berhenti sejenak untuk memandangi taman ini. entah pohon apa yang ada di dalam taman ini, tetapi batangnya sangat tinggi. Hingga meskipun di tengah hari seperti ini, cahaya matahari tidak membuat taman ini menjadi panas. Aku melihat rekan kerjaku sudah berjalan agak jauh, dan menengok ke belakang ke arahku. “duluan aja” teriakku. Aku memutuskan untuk duduk sebentar di dalam taman ini.

Aku duduk di salah satu bangku di ujung taman, tidak banyak orang yang lewat karena ini bukan jalan setapak yang umumnya orang lewati. Sesaat aku mengeluarkan telepon menjawab beberapa text yang belum terjawab dari tadi. Setelah selesai, aku kembali memperhatikan taman ini, didepanku ada dua pohon tinggi yang beberapa daunnya yang berwarna coklat berserakan di tanah. Jalan setapak yang ditutupi oleh grass block tampak baru saja disapu. Beberapa daun berguguran tertiup angin turun dari atas pohon. Menarik untuk aku ambil gambarnya. Segera aku pergunakna kamera di handphoneku. Ketika kuperiksa gambar di handphone, yang tampak hanya warna putih dari cahaya matahari diatas. Aku berpikir lebih baik mencoba mengambil gambar kebawah dulu, agar tidak terlalu silau oleh matahari. Akhirnya Aku mencobanya dengan mengambil gambar sepatuku. Dan ketika kulihat gambarnya cukup baik, tapi ada satu hal yang mengganguku, ada kaki wanita dengan sepatu kulit berwarna coklat tepat disebelah kakiku.

Aku terkejut dan bangkit dari bangku taman. Aku segera memperhatikan gambar di handphoneku. Disana ada dua pasang kaki, kakiku yang menggunakan celana dan sepatu hitam. Dan kaki wanita yang menggunakan stocking dengan sepatu berwana coklat. Aku melirik kearah bangku taman, dan memang tidak ada orang disana. aku melihat kesekeliling, juga tidak ada seorang pun. Aku menelan ludah dan mencoba untuk mengambil gambar sekali lagi. Kali ini aku mengarahkannya ke bangku taman. Sesaat setelah tombol kamera itu kutekan, di dalam photo yang kuambil ada seorang wanita cantik duduk di bangku taman tersenyum ke arahku. Tak sadar aku berjalan mundur menjauhi bangku taman, hal ini terlalu membingungkan untukku. Aku melirik jam di tanganku sudah hampir setengah 2 siang. Aku membalikan badan dan berjalan meninggalkan bangku taman yang kosong itu.
……………………

Malam harinya sambil tidur diatas kasur aku terus memperhatikan photo wanita di bangku taman tadi. Meskipun hal ini sangat menggangu tapi entah mengapa aku tidak merasa takut sedikitpun. Mungkin karena wanita ini memang tampak seperti photo yang wajar diambil di taman, bedanya hari ini wanita didalam photo ini tidak pernah ada disana. Aku memperhatikan baju wanita ini, aku yakin bahwa itu adalah baju kerja dari Bank yang ada disebelah kantorku, warnanya blazernya abu denga pita kuning, begitu juga dengn rok pendek yang dia kenakan. Aku sering mengunjungi bank itu, tapi aku yakin belum pernah bertemu dengannya. Aku memperhatikan wajahnya, rambutnya pendek dan rapih hingga bahu. Dia tersenyum dengan manis, seperti senyum orang yang sangat menyenangkan. Aku sendiri jadi tersenyum setelah melihat senyumnya. Aku memperhatikan informasi di photo tadi, tertulis: IMG-20140805 13:25. Aku segera bangkit dari tidur, dan memeriksa kembali bahwa informasi tadi benar, bahwa foto tadi diambil 5 Agustus 2014 pada jam 13:25. Aku melihat ke kalender diatas meja dan kembali melihat informasi di photo tadi, terus seperti itu hingga berulang kali. Karena aku yakin sekarang baru hari Senin tanggal 4 Agustus.
………………………

13:15 aku sudah berdiri diluar taman. Aku ragu untuk masuk kedalam taman, tapi dalam hati aku harus membuktikan teori yang aku pikirkan semalam. Akhirnya aku memberanikan diri dan berjalan ke arah bangku taman kemarin sambil terus membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi. Karena mungkin saja photo itu adalah objek supernatural yang sering aku lihat di acara televisi. Atau mungkin itu adalah photo dari akun social media yang tidak sengaja aku save kedalam handphone. atau kemungkinan terakhir bahwa saat ini wanita itu memang betul sedang duduk di bangku taman pada pukul 13:25. Aku berjalan menunduk sambil berpikir, hingga tanpa sadar aku sudah berada di dekat bangku taman yang kemarin. Aku berhenti, mengangkat wajahku dan tertegun.

Wanita dalam photo itu sekarang benar sedang duduk di bangku taman. Dia mengenakan seragam berwarna abu dengan pita kuning. Diatas bangku taman itu aku dapat melihat tempat makan yang kosong, sepertinya dia baru saja selesai makan siang disana. Sama sepertiku kemarin, dia juga sedang mengambil photo dari handphonenya. Awalnya dia mengambil foto keatas sepertiku kemarin lalu kemudian melihat hasilnya dan wajahnya berubah kecewa. Lalu dia tanpa sadar mengambil gambar ke arahku, dia menghentikan gerakannya dan menurunkan handphonenya. Dia tahu bahwa aku berdiri disana mengamatinya.

Aku menelan ludah dan berjalan ke arahnya. Saat menuju arahnya, Entah mengapa aku merasa yakin bahwa saat ini aku memang harus berada di taman ini untuk bertemu dengan wanita itu. Dan dari wajah yang dia tunjukan saat melihatku aku merasa diapun seperti memang harus bertemu denganku saat ini. Saat sudah berada di depannya, Aku mencoba tersenyum dan berkata kepadanya “Hai.. saya Gege” sambil mengulurkan tangan mengajaknya berkenalan.
Wanita cantik itu berdiri dan tersenyum, menjabat tanganku dan berkata “Hai Gege, Saya ….

Bandung, Agustus 2014