Sekarang atau 50 tahun lagi

8 tahun lalu (ya 2006, benar 8 tahun yang lalu), warna mengeluarkan single ini.. Sampai sekarang masih suka dengar dan tiap didengar (sekaligus bernyanyi dengan suara pas… hancurnya) interpretasi ini yang terbayang..

 

Ketika kau berumur 70 kau pasti akan sama sepertiku, selalu mengingat masa lalu. Karena tak ada yang bisa kau harapkan di masa depan hingga melihat ke belakang adalah satu-satunya yang bisa dilakukan. Seiring waktu, keriput dimata ini sudah tidak terhitung. Tetapi mata ini masih mampu melihatmu dengan jelas tanpa bantuan kacamata. Kau yang bermain mata di depanku, hanya melihat dari ujung mata dan menoleh ke arah lain ketika balas ku perhatikan. Kau tidak pernah bertambah tua, sama seperti pertama bertemu. Wajahmu sama seperti ketika janjiku terucap untuk menemanimu selalu. Tak terasa 50 tahun kemudian, janji itu masih dapat ku penuhi.

Ketika berumur 60 aku sering berkunjung ke pemakaman. Dari pertama rumput di sekitar hijau, hingga daun kamboja itu kering aku sering berdiri mengahadap peristirahatanmu. Mungkin jika kenyataan ini berbalik kau tidak akan pernah mengunjungi makamku. Tidak pernah ku duga umur kita bersama sesingkat ini. Mungkin Tuhan ingin bermain dengan perasaan ku, sekuat apa aku bisa menepati janji yang kubuat. Aku masih ingat melihatmu terus berjuang hidup dengan bantuan mesin-mesin. meski kau terpejam aku selalu berharap kau tahu, aku selalu berada disebelahmu. Kau yang selalu bermain dengan hidup, melakukan semua yang kau suka sedari muda, kini terasa kecil ketika harus bernafas melalui selang. Aku kira kau akan bermain dengan sakitmu dan kembali sehat lagi. Tapi Kau curang, kau memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.

Ketika berumur 50 aku bahagia melihatmu menggendong cucu pertama. Kau senang ada garis keluarga yang meneruskan namamu. Wajahmu yang tua terasa kembali menjadi muda ketika kau bermain dengan bayi kecil. Kau bangga berhasil mendidik putramu dengan benar, berhasil hingga dia membina keluarga dengan istrinya. Semua yang diajarkan kedua orangtuamu, kau ajarkan kembali kepada putramu. Kau sekarang sudah tenang tidak ada lagi beban, putramu sudah mampu berdiri sendiri memimpin keluarganya.

Ketika berumur 40 aku sering menunggumu di depan kantor pada saat jam pulang. 10 tahun perkawinan tidak membuat cintamu berubah. Kau masih ingin segera pulang untuk menemui keluarga ketika pekerjaanmu sudah selesai. Kau masih mengangkat telepon dari keluargamu meski sedang meeting besar, kau tahu keluarga harus menjadi prioritasmu. dan aku masih berharap kau tahu kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku.

Ketika berumur 30 kau terlihat cantik diatas pelaminan. Aku yakin tidak ada yang akan menolak ketika kau memilih siapapun sebagai pendamping hidup. Ratusan orang datang hanya untuk memberi selamat atas kebahagianmu. Kau selalu tersenyum, kau tahu kehidupanmu tidak akan berubah tapi kebahagiaanmu akan terus bertambah. Sesaat aku yakin kau tersenyum ke arahku, senyum yang tidak pernah kau berikan lagi sejak 10 tahun yang lalu.

Ketika berumur 20, satu jam sudah kau menangis didepanku. Matamu merah tapi tak satupun kata keluar dari mulutmu. Aku tahu kau sangat kecewa. “jadi kau akan memilihnya?” Ujarmu dalam suara yang sangat pelan. Aku ingin menjawab, tapi rasanya percuma karena ini harus kulakukan. Akhirnya tanpa kata lagi berjalan meninggalkanku. Sejak langkah pertamamu pergi, aku berjanji. Biar aku saja yang menyayangimu, sekarang atau 50 tahun lagi.

 

Bandung, Juni 2014