Jalan Pulang

Hujan turun dengan tiba-tiba tetapi aku tidak ingin berteduh, aku hanya ingin segera pulang. Entah mengapa saat ini hanya anak dan istriku saja yang ada dibenakku. Ingin sekali aku segera bertemu mereka. Akupun melanjutkan berjalan dibawah guyuran hujan. Sebuah rumah di sebelah kiri jalan menarik perhatianku. Meski dalam guyuran hujan aku bisa meihat dengan jelas bahwa rumah itu lebih terang dibandingkan dengan yang lain. Sepertinya seluruh lampu di rumah itu menyala.

Aku memperhatikan rumah itu. Rumah satu lantai dengan atap pelana, dengan dinding bata yang di expose. Penuh dengan tanaman dan pot, rumah itu memiliki suasana yang menenangkan. Cahaya lampu dari rumah itu melewati pohon rindang yang di depannya, indah, ujarku dalam hati. Aku terus menatap rumah itu sambil berjalan, semakin aku melihatnya semakin aku ingin segera pulang.

……………

Sama seperti kemarin, aku melalui jalan yang sama untuk pulang. Aku kembali melihat rumah itu, masih tetap terang, sepertinya pemilik rumah membiarkan lampunya terus menyala meskipun masih ada cahaya matahari sore dilangit. Suara anak bermain dan tertawa terdengar dari dalam rumah, aku kembali mengingat tawa Alfa, anakku. Sepertinya baru kemarin aku melihat dia tertawa tapi rasanya ingin aku memeluknya saat ini.

Aku terus berjalan dan melihat rumah yang sangat terang itu, aku membayangkan keluarga yang tinggal didalamnya. Sama seperti rumah yang kubangun dari nol beserta istriku. Tempat aku mencoba untuk membina keluarga seperti mimpiku. Tempat aku merasa semua lelah bisa hilang saat melihat istri dan anakku tersenyum. Tempat kami didunia ini.

Suara gerbang yang dibuka dari seberang rumah tadi membuyarkan lamunanku. Aku berhenti berjalan dan menoleh kebelakang. Aku baru tersadar, sudah sering aku melihat rumah itu, tapi tak seorang pun pernah kulihat ada orang didalamnya.

……………

Seperti saat ini, sudah berhari-hari aku sudah melalui rumah itu, dan rumah itu terus masih terang meskipun siang hari. Setiap aku melihat rumah itu semakin aku penasaran mengapa aku tidak pernah melihat keluarga yang tinggal di rumah itu dan mengapa rumah itu selalu terang. Seperti membiarkan lampu rumah terus menyala. Sama seperti mercusuar yang harus terus bersinar untuk mengarahkan kapal untuk pulang.

Aku berhenti berjalan dan tersadar apa arti semua ini, aku segera berlari dan mendekat ke pagar rumah itu. aku memperhatikan semua detail dari rumah itu dan merasa bahwa ini semua sangat aku kenali. Aku menutup mata dan menuggu suara tawa anak kecil yang sering kudengar. Jantungku terasa berhenti berdetak ketika akhirnya kudengar suara tawa dari dalam, kini aku yakin bahwa itu tawa dari Alfa, putriku.

Aku memberanikan diri untuk membuka pagarnya. Perlahan aku melangkah ke teras dan akupun tersadar tidak ada lampu yang menyala di rumah ini. di teras, dihalaman maupun dari dalam tidak ada lampu yang menyala. Cahaya terangyang selama ini kulihat hanya berasal dari rumah ini sendiri.

Aku berdiri di depan pintu tertegun melihat cahaya ini, hanya membutuhkan waktu sesaat agar aku bisa mengumpulkan keberanian untuk masuk. Dan ketika suara anak itu terdengar kembali, tanganku secara langsung mengetuk pintu coklat itu. Tak lama seorang anak kecil dengan wajah yang sangat kukenal membuka pintu. Dia tersenyum menyapaku. “Ayah pulang” ujarnya. Seketika kakiku lemas melihatnya.

Dari belakang seorang wanita dengan wajah kelelahan muncul. “kenapa kau buka pintu fa?”

“Ayah pulang” ujar Alfa kembali menunjuk ke tempat aku berdiri diluar.

Istriku memperhartikan alfa yang menunjuk ke balik pintu yang kosong, dia tertegun, wajahnya memaksakan senyum, tak lama dia menghampiri Alfa dan menggendongnya. Sendu terdengar ketika dia mulai berkata seolah aku berada di hadapannya. dia bisa merasakan bahwa aku ada dihadapannya.

“aku lega kau sudah tidak tersesat mas…… tapi jalan pulangmu bukan ke rumah ini lagi” dan istriku pun mulai tak kuat menahan air matanya.

Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena tau mereka pun tidak akan bisa mendengarku. tapi kerinduanku akan mereka sudah terhapus, aku berada dirumah yang selama ini aku cari. Perasaanku sekarang tenang, aku tahu sekarang istri dan anakku baik-baik saja.

“setidaknya kami sekarang sudah tau untuk sepenuhnya merelakanmu”

Cahaya terang dirumah ini seolah menjadi petunjuk untukku, tetapi kini angin sejuk berhembus diluar seolah menjemput. Aku melangkah mundur dan terus menatap mereka, hingga angin membawaku pulang.

 

SCBD – Jakarta, Mei 2014

Advertisements