the shadow (part 2)

Aku bersembunyi dibalik dinding, membuka dompet dan mencium foto Rita dan anakku yang baru berumur 1 tahun. Teman disebelahku mengangguk, dia sudah siap, dia yang akan berjaga di belakang. Aku meletakan dompetku kembali, mengambil nafas panjang, “doakan Ayah” ujarku dalam hati. Dan aku menendang pintu bertuliskan 315 itu sekuat tenaga.

“Angkat tangan!” ujarku ketika pintu terdobrak sambil menodongkan senjata, dan saat itulah kulihat mahluk berwarna hitam itu berada tepat di depan muka orang yang terduduk di lantai. Besar dan tinggi mahluk itu memalingkan wajahnya kearahku. Tak ada mata diwajahnya, hanya garis tipis seperti mulut yang seolah menyeringai. Dalam hitungan detik tiba-tiba mahluk berwarna hitam itu mengecil dan masuk kembali ke tanah menjadi bayangan hitam.

Aku terdiam, “Bapak Reza, anda kami tangkap!” suara temanku yang berteriak kepada orang yang terduduk tadi yang mengembalikan ku kepada realita. Aku mengedipkan mataku beberapa saat hingga temanku segera menahan orang tadi. Aku memeriksa sekeliling, tak ada orang lain di dalam kamar ini, uang yang dicuri oleh tersangka aku lihat masih berjatuhan di dekat tasnya. Tersangka berjalan di sebelahku, aku memperhatikan tangannya, ada luka iris, mungkin dia mencoba bunuh diri.

………………………………..

Sepanjang perjalanan ke kantor polisi aku terus berpikir tentang mahluk yang kulihat tadi. Aku ingat Kasus bayangan yang menjadi hitam secara tidak wajar. kasus ini menjadi besar karena sekarang hampir disetiap Negara banyak ditemukan orang yang memiliki bayangan hitam tersebut. Dan beberapa waktu lalu 3 orang pertama yang memilikinya mulai bunuh diri tidak lama setelah bayangan hitam itu muncul. Di Jakarta saja, semakin banyak orang yang memiliki bayangan itu dan sudah mulai panik. Aku melihat kebelakang dan orang tadi memang memiliki bayangan yang hitam tidak wajar. Dan yang terpenting mahluk apa yang kulihat tadi. Perasaanku tiba-tiba merasa terancam setelah melihatnya.

“gw baru dengar, sudah dimakamkan?” ujar temanku dari samping membuyarkan lamunanku.

“sudah, dua hari yang lalu” jawabku

“apa? lalu apa yang kamu lakukan dari kemarin bekerja?” Tanya temanku,

Aku diam tak bisa menjawab. Sulit untuk pulang ke rumah hanya untuk terus menerus mendengar isak tangis. Aku lebih baik bekerja daripada harus menghadapinya. Kehilangan seseorang tidak akan bisa dihapus hanya dengan isak tangis.

“hitam” ujar, orang bernama reza tadi dari belakang mobil tiba-tiba, lalu matanya kembali menerawang keatas, mulutnya terbuka. Aku merasa sudah tidak akan ada gunanya menginterogasi dia,dia masih shock.

………………………………..

Diatas meja kerja aku terus memeriksa beberapa berita mengenai bayangan hitam itu. sekarang seluruh dunia sedang membicarakannya. Orang-orang yang memiliki bayangan itu kini jumlahnya sudah ribuan dan orang belum mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Yang diketahui saat ini adalah banyak pemilik bayangan yang melakukan bunuh diri. Banyak teori yang memeriksa kesamaan dari korban, banyak teori aneh, tapi yang menurutku yang jelas hanya satu. Mereka tidak bahagia.

Terdengar suara dari telepon genggam. Aku berhenti memeriksa berita dan melihat nama dilayar. – Rita -. Hatiku seperti tertusuk perasaan dingin akan ada kejadian buruk dalam benakku. Suara Rita terdengar pelan dari telepon “Aldi, bayanganku……” aku segera menutup telepon, berlari keluar, Rita mungkin dalam bahaya.

………………………………..

Aku segera menuju kamar setelah sampai dirumah. Rita sedang berdiri memperhatikan kasur bayi. Aku melihat bayangannya dilantai kini sudah berubah menjadi hitam pekat. Persis warna yang sama dengan mahluk yang kulihat tadi. Aku masuk mendekat ke arahnya.

“are you ok?” Rita diam, tidak menjawab. Dia berbalik badan,wajahnya pucat, matanya merah. Dia tidak berani memangdangku dan menunduk

“kau, jangan berputus asa, dia sudah tenang dijaga malaikat di sana” ujarku langsung memeluknya.

“aku minta maaf aldi…” ucap Rita dalam isak tangisnya.

“aku tidak pernah dan tidak akan menyalahkanmu, Rita”

Rita menangis, menjerit, mengeluarkan semua beban dipundakku. Aku terus memeluknya, meyakinkan bahwa dia akan selalu dijaga olehku.

Sesaat aku melirik kebelakang melihat bayangan Rita. Bayangan hitam itu menjadi pudar, tak lagi hitam, perlahan menghilang tidak lagi menutupi kasur bayi yang kosong dibelakang.

 

SCBD – Jakarta, April 2014

Advertisements

The Shadow

Aku mengawasi keadaan diluar dari balik jendala kamar hotel, kadang aku sampai menempelkan hidung ke kaca hanya untuk benar-benar memastikan tidak ada yang lewat dari pandanganku. aku tak ingin ada orang yang menghampiri kamarku. Tidak dalam keadaanku saat ini.

Telepon genggamku berbunyi, “kantor, boss” di layarnya. aku terdiam dan terus melihat kearah telepon hingga tidak berbunyi. Lambang telepon merah di puncak layar sekarang berubah menjadi 10X. aku bangkit dari meja, kepalaku terasa berat memikirkan semua ini. tak sadar aku menendang tas yang aku simpan di sebelahnya, puluhan ikat uang berjatuhan beserta Bilyet deposito atas nama perusahaanku. Berjongkok, Aku mengambilnya kertas bilyet itu dan saat itulah aku sadar bayanganku sekarang berwarna sangat hitam. Warna hitam yang sangat gelap, tidak wajar seperti bayangan seperti biasanya.

2 hari lalu aku sempat membaca tentang bayangan ini. Catatan pertama orang yang mengalaminya di temukan di Panama, seorang wanita berumur 27 yang baru saja ditinggal mati suaminya tiba-tiba memiliki bayangan yang jauh lebih hitam dari orang lain. Berikutnya seorang pengacara di Washington, pelajar SMU di Osaka lalu seperti epidemic kasus ini menyebar sangat cepat di seluruh dunia. Orang-orang tersebut memiliki bayangan yang secara tiba-tiba jauh lebih hitam dibandingkan dengan bayangan pada normalnya, meski tidak ada cahaya.

Aku berdiri dan mematikan lampu kamar hotel, cahaya menjadi redup karena sekarang hanya berasal dari jendela. Aku melihat bayanganku di belakang, dan benar bayanganku tetap memiliki warna hitam pekat yang sama.

………………………….

Tiga hari sudah, aku mengurung dikamar hotel ini, telepon genggam sudah kumatikan, text terakhir yang kubaca adalah ancaman dari boss untuk segera mengembalikan uang kantor. Aku memegang pisau dari piring makan siang yang kusimpan dilantai dan terus memainkannya. Tak sengaja pisau mengiris lenganku tetapi aku tidak merasakan apa-apa.

Aku membersihkan luka di wastafel, darah sudah mulai berhenti keluar dari luka iris tadi ketika aku mendengar suara dari televise. Berita di televisi bahwa wanita di Panama yang memiliki bayangan hitam itu ditemukan telah meninggal di rumahnya. Dia telah meminum terlalu banyak obat tidur dan polisi telah menyelidiki segala kemungkinan, dan menyatakan bahwa dia melakukan bunuh diri.

Jantungku seolah berhenti berdetak ketika pembawa berita kemudian melanjutkan beritanya. Tak hanya itu pelajar di Osaka juga sudah ditemukan terapung disungai tidak bernyawa, dan Pengacara di Washington ditemukan dengan luka tembak di kepala.

Aku berlari ke arah televisi dan mencoba mencari berita yang sama di saluran lain. Tak lama waktu yang aku butuhkan untuk mencari karena seluruh channel tv sekarang memberitakan hal yang sama. Orang-orang di seluruh dunia yang memiliki bayangan hitam mulai panik dan mengunci diri didalam rumah mereka masing-masing. Aku menutup mulutku seolah tak percaya apa yang terjadi, karena aku sendiri memiliki bayangan hitam aneh itu.

Tiba-tiba ada perasaan dingin yang menggangguku setelah kumatikan tv, aku merasa aku sedang terancam. aku melihat sekeliling dan tak ada apapun yang bisa melindungiku selain pisau tadi. Aku berdiri dan mengambil pisau dari meja. Aku segera memastikan bahwa pintu sudah terkunci dan menutup jendela ketika tiba-tiba terdengar suara dari belakangku

“sudah, lakukan saja”

Aku segera menoleh ke belakang tapi tidak ada siapapun disana. aku baru tersadar siapa yang mengeluarkan kata-kata itu hanya setelah aku melihat kebawah.

“aku tahu kau memikirkan untuk bunuh diri sejak kau ambil uang itu bukan?”

Suara itu terdengar kembali. Terkejut Pisau yang aku genggam terjatuh dan bayanganku sekarang mulai membesar hingga melewati dinding dan langit-langit. Warnanya sangat hitam dan menutupi seluruh bagian dinding yang dilaluinya. Aku mencoba berteriak tapi tidak ada satupun suara keluar dari mulutku. Aku memperhatikan bayanganku dan tak hanya semakin besar, tapi seolah ada sosok yang keluar dari dalamnya.

“Jika kamu mau mensia-siakan hidupmu, boleh aku mengambilnya?”

sebuah muka hitam tiba-tiba muncul dari dalam bayanganku, kata-kata itu kudengar berasal darinya. Wajahnya hitam, tanpa mata hanya garis tipis putih seperti mulut yang melengkung seolah tersenyum dingin berada diwajahnya. Wajah itu bergerak semakin mendekat kearah wajahku sendiri. Aku tak bisa bergerak dan Belum sempat aku berkata-kata apa-apa, bayangan hitam itu tiba-tiba bergerak cepat kearah wajahku, menyerang.

SCBD – Jakarta, April 2014