Dalam Doa

Lampu di jam tangan Ari menyala, 18.11 mengingatkannya bahwa adzan magrib sudah berkumandang. Dia mengetuk pintu kamar ayahnya. Tak lama ayahnya membuka pintu, wajah Ayah masih dalam lelah. Ari enggan untuk menggangu tapi Ayah memang minta dibangunkan untuk Shalat magrib. Ayah menepuk pundak Ari, dari gerakan bibirnya Ari tahu, ayahnya mengajaknya untuk segera mengambil air wudhu.

Sekarang Ari sudah berumur lebih dari 30 tahun, tetapi tiap hari selalu dia sempatkan untuk shalat bersama ayahnya. Ayah adalah sosok yang tertutup, sulit bagi Ari dan Ayah untuk menyampaikan perasaan masing-masing. Rambut ayah sudah memutih, kesibukan pekerjaan sudah mengambil masa muda Ayah. Pekerjaan yang harus dilakukannya untuk membesarkan Ari.  Ari kadang menyesal mengapa 13 tahun lalu ketika remaja dia tidak pernah mengajak berbicara ayahnya, tidak pernah menghargai, dan malah membenci ayahnya.

……………………….

“Apa tau ayah!?” Ari membanting helm yang sejak tadi di pegangnya ke lantai. Ari kesal, Ayahnya tiba-tiba melarang dia pergi.

“Tiap hari Ari terbangun dan tertidur, tidak pernah melihat ayah sedikitpun, Mana ada orang tua bisa seperti itu?”

“ini sudah malam Ari, besok saja” jawab Ayahnya.

“harus hari ini, untuk tugas sekolah” Ari berbohong

Ari menyalakan motornya, meninggalkan helm di lantai dan beranjak secepat mungkin. Sejak Ibu meninggal beberapa tahun lalu, Ari merasa sudah hidup bisa sendiri. Ayahnya tidak pernah ada dirumah. Ari sudah cukup mandiri, ayahnya hanya cukup memberinya uang.

Masih geram dengan ayahnya, Ari tidak lagi berkonsentrasi mengendarai motornya. Sehingga dia tidak menyadari ada lubang persis di depan jalur motornya. Lubang di jalan tidak terlalu besar, tetapi Ari terlalu cepat. Tak sempat menghindar Ari pun terpelanting dari motornya, kepalanya membentur aspal. Darah keluar dari telingar Ari.

Ari mencoba bangkit. Tetapi dengungan kencang yang tiba-tiba terdengar di kepalanya membuat dia kehilangan keseimbangan, kepalanya pusing, dia tak sanggup lagi mendengar dengungan itu.

……

Ari terbangun dan mendapatkan dirinya sudah di atas kasur, dari pakaian dan kabel infus di lengan, dia tahu dia sedang berada di rumah sakit. Tak lama suster menghampirinya dan mengajaknya berbicara, tetapi Ari tidak bisa mendengar suaranya. Wajah ari yang kebingungan membuat suster panik. Suster pergi dan kembali dengan membawa seorang dokter.

Dokter itu terus mengajak Ari berbicara dan menjentikan kakinya di depan muka Ari. Tetapi Ari hanya bisa melihat gerakan mulut dan jarinya, tetapi tidak mendengar suaranya. Ari menjadi lebih panik dan mencoba menjerit sekeras  mungkin, dia bingung dengan apa yang sudah terjadi. Ari menjerit semakin keras, tetapi tetap tidak ada suara sedikitpun yang bisa dia dengar.

……

Dua minggu setelah kecelakaan, tengah malam Ari masih terduduk diatas kasur. Dia memegang dua sendok yang terus dia adu, berharap dapat mendengar sesuatu. Tetapi tetap, tidak ada yang bisa dia dengar. Dia menjadi Tuli. Dokter menyampaikan bahwa dia kemungkinan telah kehilangan pendengaran secara permanen.

Setiap hari dia tidak bisa tidur, dia kesal, marah, dan terus menyalahkan Ayahnya atas kejadian ini. Ari ingat ketika di di rumah sakit, dia menyerang dan memukul ayahnya, dalam hati Ari berharap bahwa jika saja ayah yang pergi bukan ibu, dia tidak akan mengalami hal ini. Ayahnya diam ketika Ari memukulnya. Tak ada airmata yang keluar dari matanya, tak ada permohonan maaf, Ari yakin ayahnya memang tidak pernah peduli kepadanya.  

“Ampun yang aku pinta dalam semua doa adalah untuknya”

Ari terkejut, dia yakin dia mendengar seseorang berkata-kata. Dia melihat sekeliling memastikan siapa yang telah mengatakan hal itu. tetapi tidak ada seorang pun disana. Suara yang dia dengar sangat perlahan dan dia tahu suara itu seperti dalam tangis. Ari mencoba berteriak ingin bertanya siapa disana? Tapi percuma ,dia sendiri tidak bisa mendengar suaranya.

“Kumohon hapuskan keraguan yang telah meliputi jiwanya”

Ari kembali mendengar suara itu. Ari turun turun dari kasurnya, dan bertekad untuk mengetahui siapa yang mengucapkan kata-kata itu.  tak ada seorang pun dalam rumah. Dia bisa melihat hanya lampu kamar ayahnya yang masih menyala. Dia membuka pintu kamar ayahnya untuk memastikan

“bangkitkan dia dari keterpurukannya saat ini”

Ari mendapatkan ayahnya sedang diatas sajadah. Suara ayahnyalah yang dia dengar sejak tadi. Bukan suara Ayah, tetapi Doa Ayah. Ari kebingungan apa maksud semua ini.

“Aku tahu derai air mata dalam setiap sujudku tak akan pernah cukup untuk menjaganya tapi jangan butakan hatinya, agar dia selalu berada dalam lindunganMu”

Ari terduduk.  Menatap Ayahnya yang bersujud. Dia mengerti, mungkin alasanTuhan telah menutup pendengarannya, agar dia bisa mendengar apa yang Ayahnya panjatkan disetiap shalatnya.

…………………………

18.45, Ayahnya menutup Quran dan melepas kacamatanya, lalu memejamkan mata, Ari tau saat ini Beliau sedang memanjatkan doa. Ari pun ikut menutup mata, rindu mendengar satu-satunya suara yang bisa dia dengar sejak 13 tahun lalu. Suara doa tulus yang dapat menghapus kehampaan Ari. Banyak doa yang telah ayahnya ucapkan didalam sujud. Tetapi kali ini dia betul-betul tak bisa menahan tangis, mengerti apa yang ada dalam hati ayah selama ini.

“Karuniakan lah dia keluarga yang barokah… agar suatu hari dia akan mengerti, siapa yang paling mencintai”

Diatas sajadah, Ari menghapus air matanya dan menoleh kepada istrinya dibelakang yang sedang merasakan tendangan dari dalam perutnya.

 

buat papah

SCBD – Jakarta, Maret 2014

 

Advertisements

Cindy

Malam yang indah, begitu jika dijabarkan oleh kata-kata. Cindy berjalan dengan gaun putih yang sangat indah, di kepalanya sebuah tiara dengan  batu permata menambah kecantikan wajahnya yang sempurna. Di kakinya dia menggunakan sepatu kaca yang berkilauan, tidak banyak orang yang memiliki kesempatan menggunakannya. Sepatu kaca itu membuatnya seperti berjalan dalam awan menuju istana.

Andai seperti ini setiap hari pikirnya. Gaun putih, tiara dan sepatu kaca baru dipakainya malam ini. sehari-hari dia hanya menggunakan baju lusuh, celemek dan sandal jepit ketika harus membantu di warung keluarganya. Dia bertugas berbelanja, memasak, mencuci piring, mengepel, dan membereskan meja . Sementara kedua kakaknya bertugas hanya di belakang kasir. Meskipun demikan Cindy tidak pernah mengeluh.

Pekerjaan Cindy sangat menghabiskan banyak waktu, dia selalu berada di belakang mempersiapkan semua, hingga akhirnya dia tidak memiliki teman. Bahkan untuk bertemu tamu warungpun dia tidak pernah, ibu tirinya selalu mengingatkan bahwa dia terlalu kotor untuk dilihat tamu. Cindy tidak juga mengeluh, karena dia sebenarnya sudah memiliki teman untuk diajak berbicara, seekor tikus putih. Tikus yang tidak jadi dia buang ketika menangkapnya mencuri makan. Tikus itu dia taruh di kotak bekas dan  selalu dia beri makan setiap hari. Cindy selalu mengajaknya berbicara disela-sela pekerjaannya. yang membuatnya dia senang bahwa tikus putih itu selalu menatapnya ketika dia berbicara, seolah mengerti.

Cindy selalu bercerita tentang hal-hal yang ingin dia kerjakan ketika dia punya waktu nanti kepada tikus putih. bagaimana dia sangat ingin melihat fountain di tengah kota, sungai yang mengelilingi kerajaan, Istana yang megah dan terlebih dia sangat ingin melihat Pangeran. Pangeran yang selalu diceritakan oleh kedua kakaknya. Bagaimana pangeran yang tak hanya tampan, tapi juga berani dan murah hati kepada rakyatnya. Bagaimana matanya yang biru seperti dapat melihat isi hati siapapun yang melihatnya. Cindy betul-betul sangat ingin melihatnya.

Suatu sore ketika dia sedang membuang sampah dia melihat ada kertas putih yang terselip didalamnya, dia mengambil kertas itu dan membaca tulisannya. Kertas itu adalah undangan dari pangeran bagi seluruh warga kerajaan untuk hadir di pesta dansanya. Cindy tertunduk membaca undangan itu, pantas saja ibu tiri dan kedua kakanya memaksa dia menutup warung lebih cepat dan menyuruh Cindy menjaga rumah, karena mereka pasti akan berangkat ke pesta tersebut. Cindy tertunduk lemas, dia ingin sekali pergi ke pesta dansa tapi tidak mungkin, dia tidak memiliki apa-apa, ibu tirinya betul dia terlalu kotor untuk dilihat orang. Cindy tidak kuasa menahan tangis, dia berbaring menatap dinding dan terus menangis hingga akhirnya dia kelelahan karena tertidur.

Suara jam dinding  membangunkan Cindy, dentangan sebanyak 7 kali. Dia terbangun dari tidurnya dan mencoba duduk, kertas undangan tergeletak diatas kotak tikus putih. Tiba-tiba Cindy menjerit terkejut, ketika dia menyadari bahwa ada gaun putih, sepatu kaca dan tiara berada di atas mejanya. Dia memegang gaun itu dan kebingungan siapa yang meletakan barang-barang itu di dalam kamarnya. Dia melihat jendela dan diluar sebuah bintang jatuh baru saja melewati langit. Cindy berpikir apakah ini keajaiban yang selalu ada dalam dongeng –dongeng itu? apakah doanya sudah terkabul? Cindy akhirnya mengambil keputusan untuk memakai gaun dan berangkat ke istana, karena dia berpikir kesempatan untuk melihat pangeran ini tidak akan datang lagi. Hingga akhirnya dia sekarang berada di depan gerbang istana, dengan gaun putihnya siap untuk ke pesta dansa.

Cindy berjalan masuk ke dalam Istana, dan di tangga teratas dia dapat melihat pria tampan berpakaian putih mengamatinya, tersenyum. Cindy tersipu malu dan segera menundukan kepalanya. Cindy kembali melihat keatas dan pria itu masih tersenyum kepadanya. Mata birunya seolah dapat melihat kedalam dirinya, Cindy tiba-tiba tersadar apakah dia sang pangeran? Cindy sudah berdiri di tangga teratas ketika pria itu menghampirinya. Cindy masih terus mengamati wajah tampan pangeran dan mata birunya, lamunannya terbuyarkan ketika pria itu berkata

“maukah kau berdansa denganku?” Cindy terdiam masih terpukau dengan ketampanan pangeran dan mata birunya. Cindy hanya bisa menganggukan kepalanya, dia sudah yakin bahwa pria itu sang pangeran.

Detik-detik berikutnya terasa berlalu dengan sangat cepat oleh Cindy. Ketika pria itu menarik dirinya ke pesta dansa, membungkuk dan mencium tangan Cindy.  Ketika mereka mulai berdansa seluruh tamu terdiam mengamati mereka. Ketika mereka berdiri di taman bersenda gurau tentang keinginan-keinginan Cindy dan bagaimana pria itu bisa mengetahui semua tentang Cindy. Semuanya terlalu indah, seperti mimpi. Cindy yakin pria ini adalah belahan jiwanya.

Malam semakin larut dan Cindy masih memegang lengan pria itu. Cindy berasa ini seperti dongeng indah yang menjadi kenyataan, dan dalam dongeng Cindy tau, setelah ini pangeran akan menciumnya.

“kenapa kau tidak menciumku?” ujar Cindy.  Pria itu menunduk dan menjawab “aku hanya tak ingin malam ini berakhir karena aku menciummu”

Cindy kecewa dan mencoba membalikan badannya, tetapi tiba-tiba pria itu menarik tangannya dan menarik pinggang Cindy ke arahnya.

“malam bagaimanapun pasti berakhir dan aku akan membuatnya berakhir dengan sempurna” dan mereka pun berciuman,  hangat dan indah, ciuman pertama yang tidak pernah akan Cindy lupakan

Jam Istana  mulai berdentang menunjukan tengah malam, Cindy tersadar dia harus segera pulang, Cindy segera melepas pelukan pria itu.

“aku tak bisa menjelaskan tapi aku harus segera pulang, aku harap bisa bertemu kamu lagi” ujar Cindy, sebelum mencium pipi pria tadi. Cindy setengah berlari mendekati gerbang Istana. Dia membalikkan badannya dan memandang pria impiannya untuk terakhir kali. Dalam benaknya dia berpikir bahwa dongeng impiannya telah terjadi. Dia pun tersenyum dan berbalik pulang, hilang dibalik gerbang istana.

Jam istana terus berdentang sebanyak 12 kali. Pria tadi masih berdiri ditempatnya  tidak bergerak mengamati Cindy yang sudah hilang dibalik gelap malam. Tepat ketika dentingan jam yang kedua belas, seorang wanita  berwajah bijaksana muncul tiba-tiba dari udara hampa menghampiri pria itu.

“kau sudah siap?” ujar wanita itu. pria itu menghela nafas panjang, mengamati gerbang dimana Cindy tadi berdiri dan mengangguk.

jika saja dia memohon untuk bertemu cinta sejatinya dan bukan memohon untuk bertemu pangeran, mungkin kalian berdua memiliki peluang untuk berbahagia”  ujar wanita itu memaksakan senyum, kemudian mengibaskan tongkatnya.

Sebuah dentuman kecil dan asap muncul menutupi pria itu. Tak lama seekor tikus putih keluar dari kepulan asap tadi dan berjalan mengikuti arah Cindy pulang.

 

 

SCBD – Jakarta, Maret 2014

Ladies… is it true that you only dream for a prince charming in shining armor?