Biar Kenangan Bercerita

Jika saja Intan putri yang sudah remaja tidak meminta tolong mencarikan foto bayinya untuk scrap book, aku tidak akan berada di gudang mencari kotak-kotak lama berisi album foto. Sejak pindah rumah aku tidak pernah melihat kotak-kotak ini lagi. Kotak berisi masa lalu itu sekarang berlapis debu, sengaja kubiarkan seperti itu agar aku tidak tergoda untuk melihatnya.

Aku segera menemukan foto yang Intan minta, foto ketika aku menggendongnya ketika dia baru saja berumur beberapa hari di rumah sakit. Aku menggendongnya dengan selimut biru, disebelah kiriku  Randi berdiri dengan pakaian kantornya,dia selalu rapi, senyumnya lebar, sepertinya dia sungguh bahagia. Disebelah kananku Eka berdiri dengan wajah tegang, dia memakai koas hitam dan celana jins robek favoritnya.  Meski rambutnya gondrong hingga sebahu tapi tetap tidak bisa menutupi wajah paniknya. Dua pria itu memang bertolak belakang, tetapi Dua pria itulah yang hadir di hidupku.

“siapa itu bu” Tanya Intan, menunjuk salah satu pria di dalam foto.

“itu ayah mu, masa kamu tidak mengenalinya?” Intan menggelengkan kepalanya

“lalu itu siapa, bu?”Aku terdiam sesaat sebelum menjawab. “itu…….”

 

Biar Kenangan Bercerita

12 tahun lalu Aku berdiri dibelakang ratusan remaja yang sedang berteriak. Mereka semua menghadap ke panggung mengikuti gerak-gerik seseorang yang sedang bernyanyi bersama bandnya. Semua lagu mereka nyanyikan dengan sempurna. Mereka seperti menatap kagum seorang idola mereka. Sama pertama kali aku mengenalnya 5 tahun lalu. Eka memiliki kharisma berbeda ketika dia di atas panggung. Seperti seorang pemimpin yang sedang mengarahkan pasukannya.

Aku masih menunggu Eka untuk keluar ketika tiba-tiba dia menelepon untuk memberitahu bahwa dia masih lama untuk bisa pulang, dan menyuruhku pulang sendiri.  Memang ketika dia mulai lebih dikenal , Eka menjadi lebih sibuk. Aku bingung bagaiamana cara pulang karena aku datang ke tempat ini diantar oleh Randi. Aku mencoba mencari taxi diluar, jalan sangat penuh dengan remaja yang baru saja keluar. Belum aku berdiri lebih dari satu menit, Aku merasakan tepukan di bahuku. Aku menoleh dan melihat Randi disana.

“ayo kita pulang” ujarnya. Aku terkejut dan menjawab “kamu masih disini?”

“aku menunggumu”

Tidak hanya kali ini Randi menungguku pulang. Satu tahun sudah aku mengenalnya dan Hampir tiap hari ketika aku harus kerja hingga malam, Randi sudah menunggu di depan kantor. Dia selalu bersikeras harus mengantarku pulang. Bukannya aku tidak menyukai dia mengantarku pulang, tapi aku hanya takut bahwa aku sudah member harapan lebih kepadanya. Dan aku pun lebih takut  jika ada perasaan yang tiba-tiba tumbuh di hatiku.

Dalam perjalanan pulang aku kadang diam-diam memperhatikannya, aku tahu dia memiliki wajah yang tegas, tetapi dalam kesehariannya dia adalah orang paling tenang yang pernah ku kenal. Bahkan dalam perdebatan kerja dia selalu menjadi orang yang menang argument dengan tanpa meningkatan volume suaranya.

“kenapa kau menungguku?” ujarku memecah keheningan dalam mobil

“karena aku ingin”

“tapi aku tak berharap untuk kamu menungguku” lanjutku

“tak apa, aku memilih menghabiskan waktu bersamamu dibanding menghabiskannya bersama orang lain”

“kesempatan sekecil apapun untuk bisa bersamamu, aku akan mengambilnya”  lanjutnya sambil tersenyum.

Aku terdiam.

Memang semakin sering aku menghabiskan waktu dengannya aku semakin tahu bahwa Randi adalah pria yang sangat baik. Dengan segala yang dia miliki dan dia tunjukan aku yakin banyak gadis yang akan mengejarnya. Dan untuk dia mau menghabiskan waktunya untukku aku merasa sangat beruntung.

Pagi harinya aku membuka hp dan kesal. Tak ada satupun pesan permohonan maaf Eka dari semalam, aku enggan memulai hari dengan perasaan kesal seperti ini, tetapi baru saja ketika aku membuka pintu untuk keluar, Eka sudah berdiri di samping pintu.

“hai” ujarnya. Dia tiba-tiba menarik tanganku membawaku ke mobilnya “Ayo, nanti kau bisa terlambat”

Mau tidak mau aku mengikuti kearah mobilnya. Aku tidak ingin berkata apa-apa sepanjang perjalanan masih ada perasaan kesal di benakku. Hingga akhirnya Eka memulai berbicara.

“maaf aku tidak mengantarmu semalam, aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu tetapi aku sedang berusaha agar menjadi seseorang, agar aku………”

“agar kau apa?” tanyaku, ketus

 “agar aku pantas disisi mu”

aku terdiam

Baik dan buruknya Eka, aku sudah menerimanya sejak 5 tahun yang lalu.

Di kantor aku terus memikirkan keduanya. Dua sisi yang berbeda. Eka hadir terlebih dahulu seperti pagi hari yang dapat menyemangati ku. dan Randi datang berikutnya seperti malam yang datang menenangkan. Aku tahu tidak bisa terus seperti ini, aku harus segera mengambil keputusan. Aku  yakin semakin lama aku menundanya maka aku yakin semakin sulit aku untuk membuat keputusan. Dan semakin sulit keputusan itu akan dapat diterima olehnya.

………………………

Bel pintu rumah berbunyi dua kali. Aku menghentikan ceritaku kepada Intan dan memintanya untuk membuka pintu. Tak lama intan memanggil memintaku ke ruang tamu karena rupanya tamu itu mencariku. Aku segera beranjak kesana dan betapa  tertegunnya aku ketika membuka pintu depan. Baru saja aku bercerita tentang kenanganku pada Intan, dan dia sudah berdiri didepan pintu rumahku.

Dia berdiri dengan menggenggam lengan kedua anaknya, istrinya yang memakai jilbab berdiri disebelahnya  tersenyum, cantik, persis dengan anak kembar yang sibuk memainkan baju mereka.

“wah.. ini betul-betul kejutan, ayo masuk” ujarku

“maaf,kalo kami datang tiba-tiba..” ujarnya sambil tersenyum, senyum yang lebar.

Senyum yang selalu dia tunjukan kepadaku meskipun ketika aku tidak memilihnya.

……………………….

 “aku lebih baik darinya” Randi masih menundukan wajahnya setelah aku menyampaikan keputusanku kepadanya.

“aku tahu” jawabku.

“tapi…….. jika aku memilihmu karena kau lebih baik darinya, suatu saat aku pun bisa meninggalkanmu untuk yang lebih baik”

Randi mengangkat wajahnya menatapku, dia tahu bahwa yang kusampaikan benar. Aku memilih untuk  menghargai komitmen yang sudah ku buat.

“kau akan bahagia, aku janji itu. tapi tidak denganku…. untuk itu, aku memohon maaf”

Randi tersenyum, senyum yang kuharap tak akan pernah meninggalkan wajahnya.

 

 

SCBD – Jakarta, February 2014

30 Desember

Dalam jalanan gelap ini Kulihat kebelakang melalui kaca spion dan tak ada apapun disana.  Hujan semakin besar aku terdiam sesaat, ketakutan mengambil alih dan akupun menginjak pedal gas sekencang mungkin.

…………………

Aku terbangun dari tidur, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhku. Aku masih menggunakan pakaian kerjaku dari semalam. Terasa sakit di kepalaku,  Jantungku masih berdetak kencang, tak yakin apakah kejadian semalam adalah mimpi buruk.

Tak membutuhkan waktu lama dari aku terbangun hingga kini sudah berada di kantor, Satu hari aku habiskan penuh dengan lembaran kertas, pemeriksaan dan menandatangani berkas, tak ada hentinya. Aku melihat kalender dimejaku, “masih tanggal 30” ujarku dalam hati. Rutinitas ini benar-benar seperti mencoba membunuhku perlahan-lahan, setiap hari semua terlihat sama, membosankan. Aku terkadang lupa tanggal dan hari jika aku tidak betul-betul memperhatikannya, aku berani bersumpah aku seperti sudah bekerja selama 4 hari, tetapi tetap saja ini masih tanggal 30. Akhirnya ku coret tanggal 30 di kalender, agar esok aku tidak akan lupa lagi.

Pekerjaan yang sepertinya sama terus menumpuk,  aku terus berpikir di benakku tak apa harus lembur asal bisa berlibur melepas penat nanti ditahun baru. Jam menunjukan jam 9 malam ketika semua pekerjaan akhirnya aku bisa selesaikan.

Jalan pulang sangat gelap, tak ada satu lampu jalan yang menyala. Aku tahu aku harusnya berjalan lebih lambat tapi aku hanya ingin cepat pulang sehingga ku injak pedal gas kembali. tetapi tepat ketika hujan mulai turun, aku melihat sekelebat bayangan melintas dan tiba-tiba kurasakan benturan di mobilku. Panik, aku injak rem sekencang mungkin, hingga kepalaku terantuk ke stir.

Nafasku terengah-engah. Aku mencoba memberanikan diri untuk keluar tapi kaki ini seperti berat untuk beranjak. Aku melihat kebelakang melalui kaca spion dan tak ada siapapun disana. Hujan semakin deras dan aku tak ingin berlama-lama di tempat ini. Dalam ketakutan aku tak mau mengakui aku telah menabrak seseorang. Sifat pengecutku muncul, aku segera menyalakan mobil dan pergi.

…………………..

Ketika alarm pagi menyala, aku terbangun dengan keringat dingin, baju kantor masih menempel di badanku. aku merasakan kembali sakit di kepalaku, aku bangkit dan langsung segera lari ke toilet untuk menggosok gigi, aku terlambat.

Selama dikantor  aku hanya membayangkan apa yang akan kulakukan di tahun baru beberapa jam lagi. Jam sudah menunjukan jam 8 malam ketika hanya ada aku dan Raya, stafku yang ada di kantor. Setelah selesai semua aku segera beranjak pulang , melewati meja Raya.  

“selamat tahun baru Raya..”  ujarku

Raya seperti kebingungan, “tahun baru masih dua hari lagi Pak” jawabnya

“ini tanggal 31 kan?”

“bukan Pak, ini tanggal 30” jawabnya.

aku terdiam, aku tak mungkin salah, hari ini tanggal 31 seharusnya. Aku memeriksa  tanggal di handphone ,  fax dan  Koran di meja Raya. Masih tak percaya, aku kembali ke ruanganku. Kupandangi kalender di dinding dan tak ada coretan di tanggal 30.

Aku terjatuh, dengan cepat semua kejadian beberapa hari ini melintas dibenakku. Aku bisa melihat kembali bayangan yang tertabrak mobilku berkali-kali, aku yang menandatangani pekerjaan yang sama setiap hari,  memakai baju yang sama ketika terbangun dari tidur. Aku menundukan kepala, ini tidak masuk akal, tetapi aku mengerti mengapa hal ini bisa terjadi.

…………………………

Waktu berjalan lambat, aku menunggu jam  menunjukan angka 9 malam sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Lewat Jam 9 malam, aku sudah berada di jalan mengendarai mobilku perlahan, jantungku berdetak kencang, Aku terus berdoa sepanjang jalan agar apa yang kubayangkan tidak menjadi kenyataan. Tetapi tepat ketika kulewati jalan itu, tepat ketika hujan mulai turun, bayangan itu kembali terlihat. Mobilku kembali seperti menabrak sesuatu. Kepalaku kembali terbentur ketika mobil berhenti dengan tiba-tiba. Aku terus terdiam memegang stir dengan kedua tangan. Aku menyesal mengapa aku mengambil tindakan yang salah ketika hal ini terjadi sebelumnya.

Aku keluar perlahan dari mobil, kakiku bergetar ketika ku injak jalan. Aku dapat melihat kaki yang tak beralas melintang di belakang ban mobil ku. Aku berjalan menghampirinya,  Jantungku berdetak kencang, tak ingin meyakini apa yang sudah jelas dimataku. Hingga akhirnya aku melihat badan seorang wanita yang terbaring dengan kepala yang terluka, darah mengalir seiring dengan air hujan di aspal.

Aku mendekat ke arahnya. Aku terduduk, melipat kakiku dan kuangkat kepalanya untuk berbaring dipahaku. “aku mohon maaf, seharusnya aku……..” ujarku  tak bisa berhenti menangis.  Sebelum aku bisa melanjutkan untuk berkat  ,wanita itu membuka matanya dengan kesulitan, dia memaksakan untuk tersenyum. “tak apa” ujarnya. “jangan biarkan keluarga tidak tau saya ada dimana” airmata turun membasahi pipinya. “namaku Rahma Risma”  kata-kata terakhirnya sebelum menutup mata.

…………………….

Pagi hari aku terbangun, pakaian kerja masih menempel di badanku. Aku bangkit dari kursi plastik rumah sakit yang kujadikan tempat ku tidur. Tidak membutuhkan waktu lama sebelum kejadian semalam melintas dibenakku. Aku bangkit dan lekas menuju kamar UGD. Setengah perjalanan aku tersadar ada hal yang belum terjawab. Aku berhenti berjalan, perlahan mengeluarkan handphone dari saku bajuku. Jantungku seperti berhenti berdetak ketika kulihat tanggal 30 masih terpampang disana.

Bandung, February 2014