Monster in the mirror

Sudah beberapa hari ini setiap malam aku merasa ada yang mengamatiku di dalam kamar. ketika lampu dimatikan dan aku akan siap untuk tidur aku bisa mendengar bunyi kaca yang diketuk-ketuk. Dan ketika ku bangkit dan menyalakan lampu, suara itu hilang. Hal ini sudah berlanjut berhari-hari, dimulai persis ketika aku mulai berada di posisi baru di kantor beberapa hari lalu.

Stress, itu kata teman-temanku ketika aku bercerita tentang perasaanku di awasi oleh seseorang ketika di kamar. Memang aku mendapat posisi yang sekarang dengan sedikit berbuat curang tapi itu kan biasa dalam dunia pekerjaan. Beberapa teman malah bercanda bahwa itu mantanku yang mengawasi dari balik jendela sejak aku putuskan beberapa minggu lalu. Aku hanya tertawa menjawabnya, dia memang beban yang sudah kubuang tetapi dia bukan orang yang seperti itu.

Setiap pagi aku selalu bercermin di depan pintu lemari dalam kamar. Di dalam cermin berukuran  setubuhku itu, wajahku terlihat semakin kusam, selalu ada lingkaran hitam di mataku. Setiap aku mencoba tersenyum yang terpantul adalah mukaku yang tersenyum picik.  Ketika aku bertanya kepada teman apakah ada yang berubah dengan diriku mereka bilang, aku baik-baik saja. Tetapi entah kenapa setiap aku bercermin aku merasa aku menjadi lebih suram.

Mungkin aku perlu perubahan suasana saja pikirku, akhirnya aku memutuskan untuk mengganti lampu kamar dengan yang lebih terang dan mengecat dinding dengan warna yang lebih cerah. Aku sengaja membeli cincin baru yang kata orang dapat membuka aura baik ku. Aku mengenakannya di jari tangan kiri. Tetapi pagi ini ketika aku bercermin, tetap tidak ada perubahan, wajahku masih kusam, mataku semakin gelap, tatapanku sangat kelam seperti orang yang berniat jahat. Kesal, aku pukul cermin tersebut dan baru aku tersadar suaranya mirip dengan bunyi kaca yang kudengar tiap malam.

…………

Setelah hari melelahkan di kantor, aku kembali ke rumah dengan pikiran yang masih bercampur aduk, aku langsung tertidur di kamar tanpa mengganti baju. Sekitar tengah malam aku kembali mendengar ketukan di kaca, aku langsung terbangun dan tidak seperti biasanya sekarang ketukan itu masih terdengar. aku langsung bangkit ke arah cermin karena aku sekarang yakin suara itu berasal dari sana. Dan benar saja cermin itu sekarang bergetar-getar.

Awalnya aku ragu untuk mendekati cermin, tetapi ketukan itu masih terus terdengar. Akhirnya aku memutuskan untuk menyalakan lampu dan melihat ada apa dengan cermin itu. Di dalam cermin aku melihat wajahku yang menghitam, lingkaran gelap mataku makin tebal.  Wajah dibayangan itu sangat jelek dan aku merasa itu bukan bayanganku lagi. Lalu tiba-tiba saja bayanganku di cermin memiringkan kepalanya dan tersenyum sendiri, dia tersenyum picik mengamatiku. Kakiku lemas melihatnya dan akupun jatuh terduduk.

Aku masih tak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Dengan memberanikan diri aku merangkak mendekat untuk memastikan. Dan benar saja Tiba-tiba Bayangan bangkit dari dalam cermin dan memandang ke bawah, ke arahku. Tatapannya sangat kelam, kemudian dia mendekatkan wajahnya kedepanku dan Seolah menyindir mulutnya mengucap “terima kasih”. dalam sekejap tanpa kusadari bayanganku sekarang bergerak keluar dari pantulan di dalam cermin. Semua ini sangat mengejutkan kepalaku mendadak pusing, pandanganku buram dan aku terjatuh pingsan.  

Ketika bangun aku masih berada di lantai, tidak butuh waktu lama untuk kembali mengingat kejadian bayangan bergerak tadi. Aku segera bangkit  dan mendekat ke depan cermin. Aku tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun karena Sekarang tidak ada bayanganku di dalam sana, cermin hanya memantulkan kamar kosong.  Aku menekan cermin dengan sekuat tenaga dengan tanganku. Tidak lama dan aku pun tersadar cincin yang kupakai di jari kiri sekarang berada di jari kanan. Aku mengangkat kedua telapak tanganku untuk memeriksanya, benar cincin itu sudah berpindah. Masih dalam kebingungan, Aku mencoba membalik badan dan seketika aku menjerit. aku bukan berada di kamar ku lagi, sekilas memang tidak ada yang  berubah dikamarku tetapi sekarang kiri menjadi kanan, dan kanan menjadi kiri.

 

 

Maybe the monster in the mirror is the real you..

Permata Hijau – Jakarta, Desember 2013

I’m Not..

Suara alarm membangunkanku dari tidur, Kepalaku masih pusing karena  harus begadang semalam, bau alkohol masih menempel di bajuku. Pelan-pelan ku angkat kepala dan badanku, tetapi usahaku sia-sia, tanganku masih berada di balik punggungnya. Aku mencoba menarik tanganku tetapi  badannya menindih tanganku dan aku tak mau membangunkannya. Aku membersihkan kedua mataku dengan sebelah tangan, menekan dahiku dengan dua jari dan mencoba mengingat kejadian semalam.

 

“temenin gw minum yuk” Rita tiba-tiba sudah berdiri didepan meja kerjaku.

“kenapa lagi sekarang?” ujarku sambil merapihkan meja, aku memang bersiap untuk pulang.

“si Ferdi, ribut lagi gw, eh kenapa lo beres-beresnya pake kardus segala?”

“gak ada apa-apa, lo tunggu di mobil gw aja, ini kuncinya, gw ntar turun”

Saat semua sudah rapih, aku melirik frame foto di meja. Foto setahun lalu Aku, Rita dan Ferdi berdiri didepan sebuah restoran dengan view citylight bandung, tepat setelah Ferdi melamar Rita.

………

“lo gak minum?” ujar Rita sambil menyalakan rokok

“gak, salah satu dari kita harus sadar untuk nyetir pulang”

“Have it your way” balasnya

 badannya bungkuk  duduk  di kursi berhadapan dengan  meja bar, terus memegang gelas di tangan kanannya. Aku tidak bisa melihat sedikitpun kebahagian di wajahnya, seperti  matahari yang tenggelam semuanya hilang tertelan begitu dia menegak minuman.

………

Aku membantu Rita masuk ke mobil, dia meracau karena mabuk, dia terus berbicara tanpa dia sadari, Memohon maaf kepada Ferdi, mengatakan betapa dia sangat menyayangi Ferdi. Sepanjang perjalan pulang itu saja yang dia bicarkan tanpa sadar. Ferdi betul-betul laki-laki yang sangat beruntung.

Akhirnya aku sampai di kamar kos Rita, aku membuka sepatunya,membantunya berjalan ketempat tidur dan merebahkannya, tepat ketika aku hendak berbalik Rita menarik tanganku hingga aku terduduk.

“jangan pergi Fer, temani gw dulu sebentar” ujar Rita masih dengan mata sedikit tertutup menyangka aku sebagai Ferdi, Rita menarik tanganku hingga aku terpaksa berbaring, dia merebahkan kepalanya di tanganku dan memelukku.

Jantungku berdetak cepat, aku bingung harus berbuat apa. Aku terdiam memperhatikan wajah Rita selama beberapa menit, Rita masih tetap cantik sama seperti pertama kali aku melihatnya dua tahun lalu. Aku ingin bangkit dan meninggalkan Rita tetapi entah kenapa berat rasanya badan ini untuk bergerak . Semua logika dibenakku menjadi  buram dan akupun akhirnya memberanikan diri untuk mengecup kening Rita. “just give me till then, and I’ll give up this fight”  bisikku sebelum menutup mata untuk tidur.

 

Rita terbatuk, bau alkohol menyengat keluar dari mulutnya, badannya berguling ke kiri dan aku bisa menarik tanganku. Aku bangkit, merapihkan pakaian yang tidak kuganti dari semalam, memungut beberapa barangku yang terjatuh dan menghampiri meja kerja Rita. Ku ambil pena di mejanya mencari selembar kertas dan mulai menulis.

Ta, gw balik. Gw gak balik kantor hari senin nanti, Gw udah resign dan pindah kerja ke bandung. lo baik-baik sama Ferdi, tinggal sebulan lagi hari wedding lo, apapun masalah kalian, kalian pasti bisa melaluinya berdua, I’ll always pray for you both… .… dan satu hal lagi, lo gak perlu kirim undangan ke gw, im not….

Aku tak bisa melanjutkan menulis, aku bangkit dan berjalan ke arah pintu. Tanganku berhenti sesaat sebelum menutup pintu kamar Rita. Aku hanya ingin melihat wajahnya untuk terakhir kali, benar-benar untuk yang terakhir kali.

 “I’m not…  strong enough, Ta” dan pintu itupun kututup.

 

Bandung – Desember 2013

Bis Malam

“maaf mbak, tapi tidak ada reservasi atas nama Dina”

“tapi mas saya sudah pesan, dan ada konfirmasinya”

“mohon maaf mbak, hal seperti ini hanya terjadi jika di cancel oleh mbaknya, dan kursi sudah penuh semua, apa mbak mau menuggu di waiting list?”

“udah gak usah mas, makasih”

Dina segera keluar dari ruang travel, dia masih kesal dan tidak habis pikir kenapa kursi travel bisa tidak terbooking. Jam sudah menunjukan pukul 8 malam dan Sekarang dia harus berlari menuju transjakarta yang akan mengantarkannya ke pool bis Jakarta-Bandung. Dia sangat terburu-buru hingga tidak melihat seorang pria bertopi mengamatinya sejak keluar dari pool travel.

Dalam bus transjakarta, dina mencoba menghubungi Anto, laki-laki yang sudah mengisi hari-harinya selama 3 tahun ini. Teman lama dari SMA yang secara tidak sengaja bertemu lagi di Jakarta ketika dia harus bekerja disana. Dina coba menghubungi beberapa kali tetapi tetap tidakada jawaban dari HP Anto. Menyerah, Dina pun akhirnya hanya mengirim pesan singkat “Yang, aku jadinya pake primajasa, kamu dimana?”’

Setelah melewati kemacetan Jakarta di Jumat sore, Dina akhirnya sampai, tepat ketika dia turun dia melihat ke pintu belakang, seorang pria bertopi dan berjaket hitam turun beserta ketiga temannya. Dina tidak sempat melihat mukanya tetapi entah mengapa dia merasa pria itu mengamatinya sejak dia naik Transjakarta tadi.

Dina bergegas keluar dari halte menuju tangga penyebrangan, tepat diluar halte Dia melihat 4 orang memakai jaket dan bertopi berdiri menghadap jalan, tiga orang itu seperti membuang muka setelah Dina mendekat. Dina mengacuhkan mereka dan sedikit berlari, dia harus segera menuju pool bus untuk segera ke Bandung. Sambil berlari Dina terus melirik HP ditangannya berharap ada jawaban dari Anto, biasanya hampir selama 3 tahun ini Dina selalu bersama Anto untuk pulang ke Bandung, baru kali ini dia pulang sendiri. Dia mencoba menelpon Anto kembali dan tidak ada jawaban.

……

Dina tiba dalam bis, beberapa baris kursi depan masih kosong, tapi ketika dia mencoba duduk, orang disamping segera berbicara bahwa kursi itu sudah ditempati terpaksa dia duduk dikursi paling belakang. Dina sangat terkejut ketika tak lama, 8 orang yang berjaket dan bertopi itu masuk dan duduk dibangku depan yang kosong tadi. Dina tidak sempat melihat satupun muka dari mereka.

 Orang-orang itu sangat mencurigakan, Dina bertekad tidak akan tidur, dia takut orang-orang tadi memiliki niat buruk. Sepanjang perjalanan Dina mencoba terbangun meski dia sudah sangat lelah. Dia selalu memperhatikan gerak gerik orang-orang berjaket itu. Mereka sesekali melirik ke belakang melihat Dina, sayang lampu di dalam tidak membantu untuk melihat wajah mereka.

……..

Tidak terasa bis sudah tiba di Bandung, akhirnya dia bisa bernapas lega tidak terjadi apa-apa. Dan tepat ketika sudah dekat dengan rumahnya Dina bangkit dari kursinya  tapi tiba-tiba lampu bis menyala seluruhnya. Dan bus tiba-tiba berhenti tepat di depan rumah dina tanpa harus diminta berhenti.

Tiba-tiba terdengar  into lagu “We found love” dari speaker bis. seiring dengan hentakan musik Dina melihat kakaknya tiba-tiba berdiri dari lima bangku di depannya, lalu kemudian di susul rekan kerjanya di bangku seberangnya. Dina sangat terkejut, berturut-turut teman dekat dan keluarganya berdiri dari kursi-kursi di depannya, mereka  masing-masing memegang bunga mawar dan tersenyum. Ternyata mereka yang selama ini memakai jaket hitam dan topi yang membuntuti Dina dari awal.

“Shine a light trough an open door, love and life I will divide

Turn away because I need you more, feel the heartbeat in my mind”

 

Dina berjalan perlahan dengan masih kebingungan dengan apa yang terjadi, saat dia mendekati pintu keluar, seluruh kerabat menyerahkan bunga mawar itu satu persatu kepada Dina. Dari jendela , diluar dia bisa melihat Ayah dan Ibunya melambaikan tangannya kepada Dina.

Akhirnya lagu itu berhenti dan yang berada di kursi paling depan adalah Anto sudah berdiri memegang kotak kecil. Dina berdiri didepannya masih tidak mampu berbicara hanya memegang erat bunga-bunga yang diberikan oleh kerabat-kerabatnya.

 

“Halo cantik…maaf yah harus seperti ini, saya batalkan travel kamu dan memaksa kamu naik bus ini, agar teman, keluarga, orangtua mu bisa menyaksikan kebahagian ini”

“Ingat ketika kita pertama bertemu 3 tahun lalu di perjalanan pulang ke bandung? Perjalanan bersama kamu memang sederhana dan saya sendiri tidak bisa menebak kapan perasaan ini tumbuh. Tapi saya yakin itu adalah awal perjalan saya bersama kamu yang seterusnya akan kita jalani bersama”

“Saya sudah meminta izin Ayahmu, dan Jika kamu izinkan saya ingin kamu menjadi suara terakhir yang Saya dengar sebelum tidur dan wajah pertama yang saya lihat ketika bangun”

“Cantik, Dina … maukah kau menikahiku?”

Anto berlutut membuka kotak hitam kecil itu dan menunjukan sebuah cincin. Dina,tak kuasa menahan airmata bahagianya dan menjawab …

 

Hope you like it @dinabumble

The Bear and The Cub

There’s a bear walking alone in a cold dark of the night. The winter wind blow so hard it makes impossible for anyone to walk. But the bear keeps walking on the white thick snow even though his feet are swelling. He has made up his mind. He has got to walk away from darkness behind him, from the haunted past of rejection, from the one who left him.

Spring..

After a while the bear reaches to this large green hill, where the flower just started to bloom, it was the first month he was alone. The beauty of the hill makes him remember the time he felt happy with his mate. Suddenly he has doubt. Maybe, he should turn around so he can go back to his mate. He denied that things have already gone. He didn’t want to accept the reality that things are over.

He was so blinded so that he didn’t know, there’s a cub that’s been following him since he started to walk.

Summer..

The sun was right above his head when he think he should rest for a while. The weather is so hot he can’t even think a thing. But the heat is nothing compare to the anger he felt inside. He felt why is this happening to him? Why he has to be the one who hurt like this and not his mate? The anger has consumed him, He was too tired and nearly faint just as he saw the cub.

At first, he thought, he only imagining his mate that look just like the cub in front of him.  But when the cub offers his paw to help him stand, the bear knew the cub was real. Then He slap the cub paw, he didn’t trust the cub. The anger makes him growl so loud at the cub. He blames the cub for even just being there, disturb him. The cub pull his paw, it seems injured by the bear.

Autumn..

Leaves start to fall and the Cub still following the bear. They never talk, The bear always make sure the cub never get near him. His mind is still full with thought about his mate. now he think he should bargain with her. Maybe if he’ll do anything for her, she will come back. Maybe if he begs, Maybe if he just surrender. Maybe if he just stays. But deep down he knows all of that has no use now.

Hunger makes him stop, he decide to look for fish in the river. With the entire thing stuck on his mind, the bear cannot catch any fish at all. Then the cub jumps to the river and catch some fish even with one injured paw. The chub shared it with the bear, and then they stood in silence eating the fish. After a while the bear start to think that he might need some company after all.

Winter..

Winter comes again, and this time it was worse than before. The bear has to walk side by side with the cub, just to keep them warm. He was so depressed, he start to ask why bother walking forward if he still going to hurt like this? He nearly stops but the cub keeps forcing the bear to move.

Inch by inch, feet by feet the bear moves, he knew the cub was right. He cannot stay here forever, he need to move on.

 …

A year has passed. The bear and the cub are now standing in front of a huge lake. Surrounded by tree, the lake was a quiet and peaceful. The bear walk into the edge of the lake and try to look at his reflection on the water. Sudden fear comes; he scared with what he sees. He saw there’s a hole in his left chest, it was a wound he never realizes before. He shocked and panicked what could happen that cause something like this. He turns and shows his wound to the cub that was standing behind him and wonders why the cub hasn’t act surprise at all.

 The cub stand in front of the bear and slowly said “I thought you will never notice”. The cub slowly opens his injured paw and shows a glowing blue stone. When the bear looked at it, it was shaped like a half of a heart. Apparently the cub never gets injured, he just held on to this stone all this time.

The cub put his paw in the bear chest, “things will be better now”

The bear close his eyes and accept what the cub has to offer, right after that he felt this warm feeling in his chest. He felt somebody just lift up his heavy burden from this pass year. He accepted that things are hard, but he also believes things are going to be OK now.

Wind blow at his face and bring him back to reality. He looks for the cub because there so many questions he wants to ask. But suddenly the cub was nowhere to be found.  It’s like The Cub vanishes in to thin air. He looked back and sees where the cub leave by the cub’s footprint lead, only to find there’s only one footprint, and it was his…

 

Only you can help yourself. When and how? That’s your call.

SCBD – Jakarta, December 2013