Honeymoon

Pintu Utama hotel terbuka, dua wanita cantik masuk dengan membawa tas travel mereka. Salah satu dari wanita itu mendekati meja receptionist. Petugas receptionist  bangkit dari duduknya sambil tersenyum.

“selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”

Wanita cantik itu berbaju merah dengan rok pendek hitam, membuka kaca mata hitamnya dan meletakan tasnya di meja.

“saya sudah pesan kamar, atas nama Nina Suryadireja”

“baik saya periksa dulu yah mbak….. nah ini dia pesanan mbak Nina, kamar honeymoon deluxe?”

“betul, itu saya.”

“baik, kamar sudah disiapkan, bisa pinjam kartu identitasnya mbak?”

Nina membuka tasnya, mencari kartu identitas didalamnya, beberapa saat dia tiba-tiba memanggil wanita lain yang daritadi duduk di kursi lobby. “Va, KTP aku ada sama kamu yah?”

Wanita yang tadi menunggu di kursi Lobby memeriksa tasnya, mengambil dompet di dalamnya dan berjalan mendekat

“you left your purse on my bag, remember?”

Nina tersenyum dan mengambil KTP yang disodorkan Tiva,

“sorry mas, ini KTPnya”

Petugas reception mengambil KTP dari tangan Nina, mempersiapkan adminintrasi  sambil mencoba mengajak bicara Nina

“Kamar Honeymoon deluxe kami menghadap pantai dan ada private pool, mbak bisa melihat sunrise tepat dari tempat tidur, Hotel kami sangat bangga dengan kamar tersebut”

“saya tahu, makanya saya book kamar itu jauh-jauh hari”

Petugas receptionist membereskan seluruh persiapan sambil berbicara . “ baik ini kunci kamar mbak, lantai dasar nomor 112, oiya apakah suami mbak akan segera menyusul?”

“Suami saya?” suara Nina tiba-tiba meninggi

“ oh tidak-tidak, saya tidak jadi menikah dengan pria berengsek itu, dia pergi satu hari sebelum hari pernikahan, bersama wanita lain! Seluruh persiapan sudah selesai dan dia pergi begitu saja, kenapa?? karena memang seluruh pria itu berengsek! Dan karena saya sudah bayar kamar ini jauh-jauh hari, saya tidak ingin kamar ini tidak terpakai! Masalah?!”

Suara Nina yang cukup keras mengisi seluruh ruangan lobi, karena Nina berbicara sangat cepat, petugas receptionist belum sempat berbicara apapun dan hanya bisa bengong  menelan ludah. Tiva cepat-cepat mendekat dan menarik Nina menjauh dari meja receptionist.

“maaf, dia tidak bermaksud membentak mas, ini kunci kamarnya yah, terimakasih atas bantuan mas yah” Tiva mengambil kartu dari petugas receptionist sementara petugas itu masih terdiam dan tidak bisa berkata-kata

 

…………

 

Didalam kamar sesaat setelah pintu kamar dikunci, Tiva tiba-tiba berbicara

“why do you have to lie? Aku gak suka kalo kamu harus berbohong seperti itu dan apakah kamu lihat muka petugas receptionist tadi ketika kamu berteriak kamu batal menikah? Kamu itu sudah menikah!”

Nina meletakan tasnya dan berjalan ke arah Tiva, senyum simpul terlihat dibibirnya “The world is not ready for our love, so lets play by their rules and fool them..  beside its more fun this way” bisik Nina lembut sebelum merangkulkan kedua tangannya di bahu Tiva

Tiva tertawa pelan, “that is so you.. ok, lets play your game and ow….. happy honeymoon dear” sebelum  memegang pinggang Nina sambil mencium bibirnya.

Advertisements

Di Perempatan Itu

Satu tahun lalu dengan kemeja rapih, sepatu hitam dan tas kerja terbaikku aku menyebrang di perempatan ini. Seperti umumnya pekerja kantoran selagi berjalan sendiri, banyak yang lewat dipikiranku, kapan gajian, cicilan motor, pekerjaan yang belum beres hingga calon istri. Banyak yang mengisi dipikiranku hari itu hingga aku tidak sempat melihat mobil yang mencoba menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi, hingga mobil itu menabrakku.

Sekarang setiap hari aku masih berada di perempatan jalan ini. Mengamati orang-orang yang berjalan, menyebrang ataupun kendaraan yang menunggu lampu merah. Mereka sepertinya sudah tidak melihatku sebagai manusia, mereka menganggap sekarang aku sudah tidak setara dengan mereka. Memang kini bagian tubuhku sudah tidak lengkap, sebelah kaki hilang, mungkin itu alasan mengapa aku tidak terlihat untuk mereka.

Setiap aku melihat laki-laki yang menenteng tas kerja berjalan  di depanku , aku selalu teringat hidupku sebelum ini. Dulu sekeras apapun aku bekerja, di kota besar ini aku tidak akan pernah dapat memenuhi kebutuhanku, Kaum menengah kebawah yang selalu mengeluh setiap hari. Berupaya memenuhi kebutuhan berdasarkan gaji bulan ke bulan. Mungkin aku perlu bersyukur berkat kecelakaan itu hidupku kini berubah. Lebih tenang, tanpa stress, tanpa usaha, tanpa hidup dari kacamata orang-orang itu.

Setiap hari di perempatan ini ratusan orang melempar apa yang anggap sampah ke arahku, meludah, bahkan terkadang melangkahiku. Ketika lampu merah dari balik mobil terkadang mereka melirik kearahku, membuka jendela, dan melempar yang mereka anggap sampah kearahku. Sampah, karena mereka memang tidak membutuhkannya. Kadang yang mereka lempar mengenai kepalaku, memantul sebelum terjatuh ke tanah.

Seperti hantu aku tidak pernah bergerak di tempat ini ataupun berbicara. Dari pagi hingga malam, kawanku hanya matahari yang lewat tepat di atasku. Angin kencang, hujan, terik panas, kakiku tidak bergerak, karena disini memang tempatku.

Tetapi Jika sudah tengah malam, ketika sudah tidak ada orang yang lewat disini. Aku berdiri mengambil kaleng tempat mereka melempar apa yang mereka anggap sampah ke arahku.  Sampah bernilai ratusan hingga ribuan rupiah yang mereka buang karena kasian jika mereka melihatku. Ku hitung sampah-sampah itu mulai dari kertas ribuan hingga koin ratusan. 756.300, kubuang sampah ratusan terakhir, aku tidak membutuhkannya. Telepon genggam yang kusembunyikan dibalik celana robekku berbunyi. Ku angkat “Pa,udah beres di perempatannya?” “sudah, mau pulang, ngemis diperempatan sini dapetnya banyak, sebulan cukup kayanya buat DP rumah baru”

 

Hidupku kini mungkin sudah tak terlihat, tapi penghasilanku pasti  lebih banyak dari milikmu.

http://id.berita.yahoo.com/penghasilan-pengemis-di-jakarta-lebih-besar-dari-manajer-213100005.html