tak mampu..

“aku hamil mas..”

Aku masih terdiam kaget, masih tertegun dengan kata-kata tersebut, satu yang membuatku kembali ke realita hanya senyum dan betapa bersinarnya wajah istriku..

Aku tersenyum… “akhirnya…”

“sudah kau periksa? Sudah berapa bulan?” sembari mengingat dimana koper itu kutaruh

“sudah 3 bulan sepertinya” jawab istriku

“jadi ketika perayaan ulang tahun pernikahan kedua kita?” aku berhenti mencari koper

“iya” jawab istriku  sambil menunduk. ternyata malam paling bahagiaku bersamanya  juga malam terbahagia untuknya tapi tidak bersamaku.

“aku ikut senang…” kusembunyikan seluruh perasaanku dalam-dalam.

koper lama itu kutemukan,kumasukan semua baju yang kurasa perlu, Lama tak ada pembicaraan diantara kamis, sampai semua selesai kurapihkan baru kuperhatikan lagi wajah istriku

“kurasa sudah saatnya..” perlahan air mata turun di pipi istriku.. “jangan menangis” ujarku.. “memang harus seperti ini, sejak 2 bulan lalu kau sampaikan keinginamu untuk memiliki anak dari darah dagingmu sendiri keputusanku sudah bulat” kusentuh pipinya untuk terakhir kali.

“aku pergi sekarang, surat cerai segera kuurus..” aku tak ingin istriku melihat wajahku sekarang…

kubalikan badan memunggunginya. “maafkan suamimu ini yang tak mampu…… tak mampu memberimu keturunan”

isak tangis terdengar dari belakang, tak ingin kupalingkan mukaku.. dia bahagia hanya itu yang ada di benakku..

 

 

 

 

How far will you go for the one you realy love?