repetition

24 Juni 1979

“Ayah mana Bu? kok gak datang?” “Ada ibu disini, kok tanya Ayah, coba mana lihat rapotnya.. kamu rangking 1 lagi yah, selamat yah nak”

12 April 1984

“Apa mau kamu? masih SMA udah ngerokok, itu uang ayah yang kamu bakar!” “Apa peduli ayah? tiap hari pulang malam, ayah pikir ini baru pertama kali saya merokok?”  plaaaakk

3 September 1989

“Matikan rokok itu nak,nanti kena toga abunya” “tak apa bu,Tau apa si Tua itu, tak ada dia disini”

20 February 1994

“kenapa ibu menangis” “tak apa, ibu hanya berharap ayahmu ada disini, dia pasti sangat bahagia melihatmu menikah”

5 Desember 1995

“selamat datang di dunia nak.. aku berjanji aku akan menjadi ayah yang lebih baik dari bapakku dulu..  aku janji itu”

9 Juni 2000

“anak saya kenapa dok? dia nyaris tak bisa bernafas” “anak bapak memiliki asma, ini penyakit turunan, jangan panik, anda sudah terbiasa dengan situasi ini kan?”

24 Juli 2005

“Kamu dimana? Rian  naik kelas, rangkingnya bagus” “Tak bia aku lagi Golf sama teman, bilang saja selamat dan belikan dia mainan yang dia suka”

24 Mei 2008

“Rian,Kamu masih muda jangan biasakan merokok dulu” “terserah Rian dong yah, Ayah juga merokok dari kecil kan”

15 Juli 2011

“Saya mengulangi kesalahan bapak ku sendiri yah, aku sudah berjanji tak akan mengulangi itu, aku terlalu sibuk, membiarkan dia merokok, sampai seperti ini jadinya”

“bukan salah mu, kamu sudah mencoba menjadi ayah yang baik.”

“aku sudah berjanji menjadi lebih baik, tapi Tuhan mengingatkanku bahwa perbuatanku pada Ayah dulu adalah salah… Bangun Rian, lawan asma itu.. Ayah disini,janji ayah ketika kamu lahir akan ayah tepati mulai dari sekarang”

 

 

bukankah kita berbuat seperti apa yang kita lihat?

bukahkah kita belajar dari kesalahan?

coklat

Love need to be said.. love need to be heard..

keep it only to yourself, you are the one who gonna get hurt..

 

bagaimana? Enak yang coklat atau yang putih

sama aja, sama-sama manis, kalo mau special coba yang asin

gimana sih, mana ada  wedding cake yang asin, ngaco

lah…. kalo gitu terserah kamu saja dear…”  Wajah lita memerah sesaat Anto memanggilnya dear..

Kamu kenapa sih, biasanya ceria tiap nemenin aku, sekarang kok kayanya gak seneng, ada apa sih?

im busy, got plenty to do right.. for THE WEDDING” Anto sengaja mengeraskan suaranya dipenghujung kalimat.

gitu sih.. harusnya kan kita menimati prosesnya juga.. I just want this to be my one and only wedding.. jadi semua harus perfect.. like this cake.. I want my cake to be perfect.. .. mereka bilang wedding cake itu penting, rasa yang dinikmati tamu itu yang jadi nuansa rumah tangga nanti.. terlalu manis like this vanilla rumah tangganya bakal penuh argument. Too plain like this chocolate mereka bilang rumah tangganya bakal datar..

kita berdua sudah kenal sejak kecil Lita… I knew you like chocolate..

but i like chocolate because you like chocolate..” ada keheningan sesaat.. mereke berdua bertatapan, keduanya ingin mengatakan sesuatu.. bunyi telepon mencegah itu terjadi..

saya harus balik ke kantor, kamu pilih yang coklat saja yah.. no matter how the guest taste the cake, the sweetness of chocolate is gonna be the sweetness of your life……

Lita masih terdiam, senyum masih terlihat dibibirnya

Anto meletakan piring kue “saya yang ambil undangan besok,kamu gak usah ambil biar saya juga yang nyebarin.. pokoknya kamu tau beres.. saya balik kantor dulu yah

Ando sedikit berlari keluar dari toko kue, Telepon genggam masih berbunyi di tangan Lita..  Lita melihat nama di telepon dan menjawabnya

halo, ada apa Nia?

jadi gimana lo udah ngomong?

ngomong apa?”

ngomong perasaan lo sama dia.. sebelum…….. wedding lo

ngaco lo.. gw mau married sama dika bukan sama anto…

gw tau lo suka dia dari dulu lita.. kalo lo gak ngomong sekarang kapan lagi…

Dia temen terlama yang gw kenal, dia udah ngurusin bantu wedding gw dari awal.. gimana gw mau ngomong gw suka dia? if I don’t have the courage to tell him how can I deserve his love…….?

Diluar anto kembali ke mobilnya, duduk sejenak memandang toko kue  sebelum menyalakan mobilnya, dalam senyum dia berkata.. “coklat…

Lita menutup telepon gengammnya,pemilik toko kue menghampirinya bertanya “jadi bagaimana nona Lita, kue coklat atau vanilla”

Kini tanpa ragu lita menjawab…. “Vanilla..”

GUILT

“Saya sudah tidak tahan, jika kau sempat membaca ini, tepat jam 12 siang nanti mungkin saat terakhir kau melihatku, kutunggu ditempat kita pertama bertemu..”

Dia akan bunuh diri! itu yang terlintas pertama kali dipikiranku, segera aku  keluar, Gedung BRI hanya itu tujuanku.

aku berusaha berjalan secepat mungkin tapi Jalanku sudah tak seperti biasa, kaki pincang ini sangat menghambat, setiap beberapa langkah aku harus berhenti menahan sakit di kaki kananku. sakit yang terus kurasakan sejak tertabrak mobil itu, bodohnya aku harus meloncat ke arah mobil yang akan menabrak seorang wanita, wanita itu selamat.. aku yang tertabrak

Bukan waktunya untuk merasakan sakit ini, aku harus ke gedung itu, gedung pertama kali aku dan dia bertemu. dulu aku masih bekerja disana dan dia pegawai baru. Dari awal dia pendiam dan entah kenapa hanya dengan ku dia bisa bebas menjadi dirinya sendiri, masih ingat dimana kami pertama bertemu diatap gedung ketika dia sedang merokok sendirian. disini kami tertawa, bercerita hingga pertama kali ku nyatakan cinta kepadanya.. di atas gedung itu.. pasti dia ada diasana..

Sudah 2 tahun kami bersama, sejak itu pula kesusahan selalu melanda kami, dari aku di pecat perusahaan, lalu sakit kepala yang mengharuskan aku berobat dengan biaya yang luar biasa hingga kaki ini yang selalu menghambat aku mendapat pekerjaan, tapi dia selalu berada di sampingku. bagai batu yang menopang, tapi batu itu memutuskan untuk hancur, aku tak mengerti.. harusnya aku yang menyerah bukan dia.. aku yang mengalami luka dikepala.. bukan dia.. aku yang sisa hidupnya tinggal sebentar.. bukan dia.. semua gara-gara kecelakaan sialan itu, semua di mulai disana.

Mungkin malaikat pun memiliki rasa lelah, dia malaikatku, dan dia memutuskan sudah cukup. dia sudah lelah hidup susah denganku, sudah lelah menyemangatiku, sudah lelah dengan sakitku.. baru aku sadar apakah aku pernah membuatnya bahagaia. pernahkah aku membuatnya senang bersamaku.. tak pernah kupikirkanitu, hingga sekarang baru aku sadar ketika dia akan bunuh diri.

Akhirnya aku di gedung BRI, masih 11.45 masih sempat.. aku susah payah menaiki tangga untuk ke atap, berupaya secepat mungkin keatas untuk mencegahnya.. pintu menuju atap sudah didepanku aku dorong pintu itu dan dia… tidak ada… Apa aku terlambat? tidak, tidak mungkin. aku melihat kesekitar tak ada apa-apa.. aku terduduk di sebelah pintu dan disanalah aku melihat surat yang terhimpit batu.. aku buka surat itu dan…

“sudah kuduga kau akan berada disini, maaf tapi aku tak akan bertahan dengan rasa bersalah ini, aku bisa bersamamu mengarungi apapun, tapi aku tak mau melihatmu mati kesakitan lagi.. aku sudah pernah melihatmu kesakitan di jalan, tertabrak mobil yang harusnya menabrakku.. aku harusnya menolongmu tapi tidak aku lari.. sekarang aku tak akan membiarkanmu menolongku..”