aku mengikuti kemana dia pergi

Jam 4.30 pagi, weker berbunyi, Dia susah payah  bangun dari tempat tidur, kakinya sering kesemutan, dia sudah tidak semuda dulu. Dia nyalakan lampu, pria disebelahnya  masih tertidur, tak tega membangunkan dia hanya tersenyum. keluar dari kamar dia langsung menuju belakang rumah, membuka keran. Air di keran sangat dingin, Aku tak mau menyentuhnya tapi dia usapkan berulang kali ke mukaya, rambutnya, lengannya, sungguh dingin. Lalu dia kenakan kain putih diseluruh badannya. aku hanya terdiam tak bersuara , dia memenjamkan matanya, berdoa. seketika dingin itu lenyap aku merasakan kehangatan.

Dibukanya pintu kamar, 3 anak tertidur di ranjangnya masing-masing. semua masih terpejam. tak terbangun meskipun dia mendekat dan membelai kepala mereka satu persatu. dia bisikan beberapa kata di telinga anak-anaknya lalu mengecup kepalanya. Aku iri, aku ingin seperti mereka, merasakan kecupan dan mendengarkan bisikan itu. Tapi.. dia belum menyentuhku saat ini.

Dia memakai jilbab dikepalanya, di depan cermin dia merapihkan pakaiannya, kantuk masih terlihat dimukanya, tapi dia masih terlihat cantik, sangat cantik. Di saat itu pula dia tersenyum dan berkata kepadaku. “ayo berangkat” aku tak kuasa tapi hanya bisa membalas senyummya.

Pintu rumah sudah terbuka, udara dingin langsung menyerang kami. dia tetap berjalan dan sesekali melindungi dingin dari tubuhku dengan tangannya. Kami sudah berjalan selama 30 menit, keranjang di tangannya sudah penuh terisi sayuran dan macam-macam. sepertinya sangat berat, aku ingin mengangkatnya, tapi tak bisa, tangan kecil ini belum berarti apa-apa. dia tak mengeluh sudah bertahun-tahun dia kerjakan ini.

Matahari sudah tepat di kepala kami, sesampainya di rumah pria tadi sudah tidak ada, mungkin dia sudah diluar bekerja, tinggal anak-anaknya sudah rapih dengan seragam sekolah, menunggu wanita ini sampai dirumah. mereka pamit mencium tangan dia satu persatu. dia tersenyum, sepertinya dia sangat sayang sekali dengan mereka.

Akhirnya ada kesempatan untuk duduk. dia sangat lelah, kakinya bengkak, lengannya pegal, dia sudah tidak semuda dulu lagi, tapi dia tetap tersenyum, senyum yang selama 8 bulan ini selalu kurasakan. aku pun lelah aku ingin duduk istirahat, tak sadar ku tendangkan kakiku ke badannya. dia kaget dan tersenyum sambil berkata kepadaku.. “kamu lelah yah nak? sama seperti ibu, sabar yah.. satu bulan, lagi kamu akan lahir, kamu tidak perlu mengikuti ibu terus nanti”.

Senyum Ibu sangat hangat, dielusnya perut buncit itu. Aku tak sabar ingin memeluknya aku sangat menyayangi ibu, sampai aku lahir dan besar nanti aku akan selalu mengikuti kemana dia pergi…

*buat keponakan yang satu bulan lagi mau lahir.. semoga kamu sayang selalu sama ibumu yah 😀