Euthanasia

Jam 7 malam, hanya komputer di mejaku yang masih menyala. Sudah tidak ada orang lain lagi di ruangan ini. Aku melihat ke balik komputer, kau berdiri hanya  beberapa meter didepanku. Tahu aku melihatmu, Kau pun tersenyum ke arahku. Aku segera mematikan komputer dan mematikan lampu. Kau pun berjalan di belakang, mengikuti ku untuk pulang.

Hujan deras belum berhenti dari sejam yang lalu, aku berdiri di halte bersama beberapa orang lain. Kau berdiri di seberang jalan. Terus mengamatiku dari jauh. Beberapa orang berlalu dibelakangmu, tapi hanya kau yang menjadi perhatianku. Entah sudah berapa lama kau tidak pernah mengajakku berbicara, dulu kita biasa untuk saling menunggu pulang di halte ini.  makan malam bersama untuk menunggu jakarta beristirahat dari ribuan kendaraan yang lewat.

Di dalam  taxi, Aku duduk dan melihat kursi disamping yang sekarang kosong. Dulu kau selalu berada disana. Menggenggam tanganku, sambil terus mengajakku berbicara tentang hariku ataupun harimu. Kau selalu memberi perintah jelas pada supir taxi agar melalui jalan yang kau inginkan. Kau selalu punya komentar akan apa yang kau lihat  dan aku senang akan hal itu. Kau seolah selalu mengawasi dunia, tanpa pernah tau bahwa aku selalu memperhatikanmu.

Aku membuka pintu kamar, aku lupa kapan aku terakhir membereskan kamar ini. Semua berantakan seperti tidak pernah dihuni beberapa bulan. Mungkin sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi memperhatikan apa yang ada di kamarku ini. aku meletakan tas kerja, dan melihat keluar dari jendela, Kau berada di seberang sana. Wajahmu terlihat sangat lelah. Tapi tetap kau memaksakan untuk tersenyum.

Aku duduk di tepi kasur. Menundukan kepala, aku bingung harus berbuat apalagi. Setelah kejadian itu kau selalu menemaniku tetapi aku tetap merasa bahwa ada sesuatu yang hilang. Mau tak mau Aku harus mengambil keputusan. esok semua akan berubah.

…………………………….

Suasana rumah sakit sangat sepi. Aku tidak pernah menyukai rumah sakit. Tidak pernah ada rasa gembira setiap aku kembali dari sana. Tetepi sejak peristiwa itu aku berdamai dengan dinding dingin dan suasana yang kelam ini. mau tak mau aku harus kembali kesini setiap hari. Memaksakan diri melalui orang-orang yang tertidur lelah, orang-orang penuh iba yang berdoa sepanjang malam, orang-orang yang putus asa dan lupa caranya bersyukur.

Dokter memanggilku ke ruangannya, dia tetap bertanya apakah aku sudah merubah keputusanku. Aku hanya menghela nafas panjang dan diam. Aku sudah lelah menghabiskan waktu berdebat dengannya. menjelaskan bagaimana selama ini aku masih bisa melihatmu setiap malam, bagaimana kau masih bisa tersenyum kepadaku. Mereka menganggap itu hanya omong kosong. Semua perdebatan dengan mereka hanya menghasilkan keputusan bahwa kita harus berpisah.  Aku mengakhiri debatku dengan dokter. Aku keluar dari ruangan, form Euthanasia yang dokter berikan aku masukan kedalam saku celanaku.

Aku membuka pintu kamar, kau tertidur diatas kasur. Dengan lilitan selang yang membantu mu untuk bertahan hidup. Mesin penompang terus berbunyi disebelahmu. Aku duduk disebelahmu dan mengusap rambut panjang  yang menutupi wajahmu yang terlihat layu. Beratmu sekarang hanya 40 kg, jauh dari ketika kau sehat. Semua asupan makanan harus dalam bentuk cairan. Dulu dokter bilang dalam 3 hari kau akan bangun kembali, sekarang sudah lebih dari 3 bulan dan kau masih saja tertidur.

Kau terkena serangan asma, aku terlambat menyadari ketika kau jatuh sendirian di tengah malam. oksigen berhenti mengalir ke otakmu lebih dari 30 menit, sekarang 93% dari otakmu sudah berhenti bekerja. Kau hanya mampu tertidur tanpa memberikan reaksi apapun. Aku duduk disamping kananmu. Aku tundukan wajah dengan terus menggenggam tangamu, aku bingung harus berbuat apa lagi, aku sudah mencoba berbagai cara, agar kita tetap bersama.

“jangan paksakan genggamanmu”

Aku terhentak dan segera berdiri. Aku yakin itu suara mu yang kudengar. Aku melihat kau sudah tidak ada di atas kasur, kau sekarang berdiri di belakangku. Wajahmu sekarang cerah, tidak seperti orang sakit.

Aku bangkit dan segera memelukmu,

“I miss you so much, Na……” aku tak kuasa menahan tangis

 “kau harus izinkan aku pergi….. “ kau berbisik di telingaku.

tangisku semakin keras dan aku semakin erat memelukmu.

Entah berapa lama kau seperti membiarkanku memelukmu. Rasa hangat yang tidak pernah kudapatkan selama beberpa bulan ini datang kembali. Seluruh beban yang ada di pundakku seolah kau angkat. Kau memberikan kesempatan untuk ku mengucapkan selamat tinggal

“maaf, aku tidak ada saat kau membutuhkanku, Na..”

Kau mengecup keningku. Seolah kau memaafkanku. Kau menghapus tangisku dengan tangan kananmu. Dan memberikan senyum untuk yang terakhir. Perlahan-lahan rasa hangat itu menghilang, kau kembali menjadi udara hampa di depanku.

Aku berdiri untuk beberapa menit, mencoba menerima semua yang terjadi. Aku mengambil nafas panjang dan mengeluarkan kertas yang tadi dokter berikan kepadaku, aku membacanya dan yakin inilah jalan yang terbaik.

 

*euthanasia = a good death

Bandung – February 2016

Still

Aku berdiri menghadap pintu rumah, kakiku ingin bergerak keluar, tapi aku tetap bertahan. Aku ingin semua selesai sekarang. Aku melihat sekeliling,kini semua semua ruangan sudah diwarnai kuning keemasan yang bergerak seperti menari, sungguh indah.

……………………..

Berawal ketika dia mengajakku bertemu teman lamanya, saat kami semua sedang makan malam dia mencoba untuk berkata-kata serius, lalu aku membuat lelucon atas kata-katanya. Semua temannya tertawa dan dia pun tertawa. Dalam perjalanan pulang dia hening tidak mengajakku berbicara. Tetapi tepat ketika mobil berhenti ,aku hendak turun dan membuka pintu dia memegang tanganku dengan kencang. “mengapa kau permalukan aku di depan teman-temanku?” tanya dia. Aku hanya menjawab bahwa itu hanya bercanda. Mukanya tampak begitu merah, aku bingung apakah dia sedang bercanda atau marah, selanjutnya hanya dengungan keras yang dapat kudengar, tamparannya sangat keras hingga aku terjatuh dari mobil. Esoknya ketika dia berangkat kantor dia tetap mencium keningku, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Berikutnya kadang hanya berupa ancaman, kata-kata kasar yang dia ucapkan ketika aku membuat kesalahan sepele. Baju yang kurang rapih, minuman yang terlalu panas, atau makanan yang dingin. Tetapi lama-lama berubah menjadi doroangan dan tamparan. Aku kadang masih terkejut mengapa dia bisa berubah. Sebelum menikah tidak ada kata-kata seperti ini. Aku sekarang tidak bisa menebak apa yang ada dipikirannya, lembut keras, sayang benci, hangat dingin semua dapat berubah seketika.

Dua bulan setelah kejadian pertama, aku masuk rumah sakit untuk pertama kali. Dia mendorongku jatuh dari tangga setelah mendengar aku sering bercerita tentangnya kepada ibu tetangga didepanku. Dia tak ingin apa yang terjadi dirumah ini diketahui orang lain. Aku berpikir untuk meninggalkannya tetapi aku dapat lari kemana, aku yatim piatu tanpa sanak saudara. Bertahun-tahun aku mencurahkan hidupku untuknya, aku meninggalakan semua temanku hanya untuk dia.

Berbulan-bulan aku terus berdoa agar dia berubah, pasti ada alasan Tuhan membawa dia masuk kedalam hidupku. Berulang kali aku mencoba menguatkan diriku untuk berkata cerai kepadanya. Karena Aku tahu bercerai itu halal, tetapi aku juta tahuTuhan sangat membencinya. Lalu apa yang sudah aku siapkan sehingga aku siap untuk di benciNya?

Suatu malam dia menangis dalam tidurnya, aku mencoba mengajak bicara dan akhirnya dia pun mau berkata jujur, mengenai hutang yang sudah menumpuk , dan kantor yang baru saja memecatnya. Aku terkejut, semua harta yang kami miliki bersama tak akan mampu untuk menutup semua hutang yang dia buat. Aku hanya bisa memeluknya dan berkata bahwa kami bisa melalui ini bersama, dia menangis sekencang yang dia bisa. Untuk sesaat aku merasa inilah titik balik dari hubungan kami bersama.

02.30 aku terbangun karena terasa sulit bernafas, aku melihat cahaya warna kuning dari bawah pintu kamar. aku cepat bangkit dan mencoba membuka pintu kamar tetapi pandanganku terhenti pada lemari pakaian yang terbuka dan kini hanya terisi separuh, seluruh pakaian dibagian lemari suamiku sudah kosong. Laci lemari yang berisi perhiasan dan uang terakhirku kosong dan terjatuh dilantai. Koper diatas lemaripun sudah hilang. Aku tertunduk lemas, aku tahu apa arti semua ini. Untuk beberapa saat aku hanya mampu duduk ditepi kasur dan terus bertanya, mengapa dia sampai setega ini.

Aku berjalankeluar kamar dan berdiri menghadap pintu rumah, kakiku ingin bergerak keluar, tapi aku tetap bertahan. rangka kayu di sampingku mulai berjatuhan menimpa foto perkawinan. Sengaja ku tunggu hingga api membakar fotoku perlahan-lahan. Aku mempehatikan api yang mulai membakar foto ku, aku berpikir mungkin ini yang pantas untukku. Aku ingin semua selesai sekarang. Aku melihat sekeliling,kini semua semua ruangan sudah diwarnai kuning keemasan yang bergerak seperti menari, sungguh indah. Aku terbuai dengan warna kuning yang terus menari mendekat ke arahku, hingga aku melupakan asap pekat yang mulai membuatku sulit bernafas.

Aku merasakan rasa hangat di kulitku dan sekarang aku bisa tersenyum, setidaknya aku pergi dengan merasakan sesuatu kehangatan mendekapku, meski itu datang dari api yang membara. Aku rasa ini sudah saatnya, tidak ada artinya lagi aku didunia ini. Aku dapat mendengar suara kayu yang jatuh dibelakangku, tidak lama lagi rumah ini akan rubuh, Sudah saatnya.

Tiba-tiba Sekejap cahaya putih bersinar terang didepanku arahnya berasal dari pintu depan. Kedua kakiku tidak sanggup menahan berat badanku, dan akhirnya akupun terjatuh.

Kini aku seolah berada dalam ruangan yang tidak berdinding, hanya ada cahaya putih terang disekitarku, dan cahaya paling terang berada didepanku. Semua hening untuk beberapa saat hingga tiba-tiba terdengar suara dari depan

“Mengapa kau tetap bertahan” aku mendengar suara yang pelan dari cahaya itu.

Aku diam tak ingin menjawab, tetapi rasa aman yang seolah diberikan cahaya itu membuatku membuka mulut.

“aku….. takut”

Cahaya di depanku sepertinya meredup, aku merasa dia kecewa akan jawabanku. Sesungguhnya akupun kecewa dengan diriku sendiri. Rasa takut membuatku membiarkan semua ini terjadi. Mataku terasa berat, aku tak kuasa menahan tangis. Aku terus bertanya “Mengapa?” kepada Tuhan diatas, padahal aku sudah tahu, jawabannya. Ini terjadi karena aku membiarkannya, tak akan ada pertolongan yang akan diberikan jika aku sendiri tidak mencoba berubah

Aku merasa sangat kecil, aku berpikir aku tak akan pantas diberikan kesempatan kedua. Tapi aku tetap ingin mencoba hidup jiika Tuhan mengizinkan. “kapan rasa sakit ini berhenti?” aku ingin tahu apakah ini saatnya aku pergi untuk selamanya

Cahaya didepanku pun menjawab.

“ketika kau bangun dan membuka mata”

……………………

Beberapa orang berlarian didepanku, asap hitam masih keluar dari dalam rumahku, sepertinya semua orang di sekitar sedang mencoba membantu untuk mematikan api dari dalam rumah. Aku sekarang tertidur di teras rumah depan, seorang ibu yang sudah beruban, menahan kepalaku dipahanya dan terus memelukku. Sudah lama aku tak merasakan rasa amanseperti ini. Rasa sakit menyebar di seluruh tubuhku, karena luka bakar. Air mata terasa dipipiku. Aku tak dapat menahan tangis, bukan karena aku masih merasa sakit. Tetapi aku lega, cahaya itu benar, semua hilang ketika aku membuka mata.

 

Jakarta – January 2016

 

it matters

Kedua tanganku menggengam stir mobil, tapi aku masih enggan untuk menyalakan mesin. Aku rasa sudah satu jam duduk didalam sini. Sudah beberapa kali terdengar bunyi pesawat yang terbang ke udara.

Aku menghela nafas panjang dan memutuskan untuk pulang, tepat ketika aku menyalakan mobil dan melihat kebelakang, aku melihat amplop di kursi samping. Untuk beberapa saat aku hanya melihat ampop tersebut, enggan untuk membukanya.

 

……………………….

“5 tahun” ujarmu dengan tetap melihat ke depan.

jelas kau enggan untuk melanjutkan percakapanmu kepadaku.

“setelah lulus, apakah kau akan kembali ke Indonesia?”

Kau menggelengkan kepalamu.

 

Aku kembali mengalihkan perhatian ke jalan tol di depan, perjalanan masih cukup panjang dari bandung hingga bandara soekarno-hatta. Kau sengaja memilih perjalanan malam agar jalan cukup sepi. Ketika aku memaksa untuk menghabiskan malam terakhir bersama kau tetap bertanya “untuk apa?” tapi tetap kau melakukan keinginaku. Pesawatmu berangkat beberapa jam lagi, dan ini adalah saat-saat terakhir kau bersamaku.

 

“semua terasa begitu mendadak Na, baru seminggu lalu kau bilang padaku mengenai masalah ini, dan sejak tadi kau hanya terdiam, Bagaimana jika ini adalah malam terakhir kita bersama? Tidak kah kau ingin mengingatku?”

Kau melihatku dan menjawab

“Mengapa malam ini penting? Mengapa malam terakhir ini harus berkesan untukmu? Mengapa? tidak akan ada bedanya kita berpisah satu minggu lalu atapun hari ini!”

Suaramu mulai meninggi

“It matters, Na.. because…..”

“Karena kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa kita akan berpisah” ujarmu memotong kata-kataku

 

Aku terdiam, aku ingin menjawab karena aku merasa setelah ini aku tidak akan pernah mencintai orang lain lagi. Tapi kau tidak perlu tahu itu.

 

“you hurt me and im not sure time will heal this wound” ujarku

“jangan naif, waktu tidak akan mampu memperbaiki hal ini, kau harus menerima kenyataan bahwa waktu akan menghapus semua kenangan mu denganku”

esok, dua hari lagi, atau satu bulan lagi… pada saatnya ketika kau bangun, kau akan lupa denganku”

 

Kau tetap pada pendirianmu, kau menolak untuk melanjutkan hubungan ini. Kau berkata, semua text, telepon atau apapun cara kita berkomunikasi akan sia-sia jika kita tidak bertemu. Kata-kata terakhirmu “Its different Ge, not able to touch you even if we see each other is going to break my heart even more”

 

Seolah kau ingin benar-benar kulupakan

 

Pintu gerbang bandara sudah terlihat ketika kau tiba-tiba bertanya

“mengapa tidak kau yang ikut denganku?

“aku tidak bisa meninggalkan kedua orang tua ku, Na”

“Lucu sekali, keluarga adalah hal yang membuatku ingin segera pergi dari sini dan keluarga adalah hal yang mengikatmu disini”

Kami berdua terdiam, jika menyangkut masalah ini kami berdua tahu, tidak ada solusi yang dapat membahagiakan kami berdua.

 

Beberapa saat berlalu kini dan kami sudah berada di parkiran bandara

kau merelakan tanganmu untuk terus kupegang sejak aku mematikan mesin, aku tidak berani memandangmu, ataupun berkata.

“sudah saatnya.. selama apapun kita habiskan malam ini bersama, tidak akan pernah cukup…..”

Kau menarik lenganku dan mencondongkan badanmu kedepan.

Wajahmu sangat cantik tapi meskipu hanya dengan cahaya lampu parkir seadanya aku masih bisa melihat kesedihan di matamu..

“lupakan aku” kau berbisik di telinga kiriku

Kau menutup matamu, dan menciumku

 

………………………..

Aku membuka amplop yang kau letakan di kursimu,

Satu lembar tiket untuk pergi ke tempatmu dengan tanggal yang belum ditentukan

selembar kertas kecil jatuh dari dalam amplop, ku ambil dan kulihat kertas tadi bertuliskan beberapa kata ditengahnya

 

“waktu akan menghapusku, tapi kau bisa buktikan bahwa aku salah”

 

Aku menghela nafas panjang, menaruh amplop di depan ku dan memandang keluar, sebuah pesawat persis sedang bergerak keatas dengan langit yang sangat terang karena cahaya bulan berada dibelakangnya.

Aku menyalakan mesin mobil, dan memandang amplopmu yang kuletakan di dashboard

“waktu tidak akan pernah bisa menghapusmu.. tapi kau benar, satu malam bersamamu tak akan cukup untuk kubawa hingga 5 tahun nanti”

 

Bandung, Januari 2015

Creep

“Kamu mau makan?”

Minum?” aku bertanya kembali

Kamu masih terdiam, duduk diatas kursi. Tidak mengalihkan sedikitpun pandanganmu dariku

“kamu harus makan sesuatu, kita akan berada disini untuk waktu yang lama”

Kamu tidak berkedip, dadamu bergerak naik turun, mencoba bernafas melalui kain yang kuikat menutup mulutmu agar kau tidak berteriak.

“kamu harus tahu alasanku…….”

“Aku hanya ingin…..”

Terdengar suara dobrakan keras dari pintu dibelakangku. Sial.. semua harus berakhir sebelum aku menjelaskan alasanku.

……………………………………….

Pertama kali melihatmu adalah ketika kau datang sebagai pegawai baru dikantor. Meski datang dengan blouse putih dan rok hitam, kau tetap tampak berbeda. Semua ingin berkenalan denganmu. Bukan karena mereka ramah, tapi karena kau memang orang yang menarik, seperti lebah pada bunga, kami semua sibuk mengitari dirimu.

“Dewi” katamu ketika berjabat tangan denganku. Aku tak berani menatap ke arah matamu, karena aku sangat malu untuk memperlihatkan mukaku yang biasa ini. Kau tidak banyak berbicara banyak padaku yang hanya diam. Kau pun berlalu dan ketika kau berjalan kau tidak melangkah, tapi melayang seperti bulu yang tertiup angin, sangat mulus.

Setiap hari aku hanya dapat mengamati mu dari jauh dan entah mengapa setiap ku melihatmu kau selalu seperti bercahaya, seolah ada cahaya yang terpancarkan darimu. Dan hari ini satu tahun sudah aku mengenalmu. Kau sekarang sudah menjadi bagian dari manajemen, kau cepat sekali menaiki tangga karirmu. Dan tampak tidak ada satupun orang dikantor ini yang keberatan. Kau sangat istimewa, aku berharap aku juga seistimewa kamu.

Tiap hari sejak pertama bertemu aku selalu memikirkanmu. Banyak yang aku inginkan darimu. Aku ingin kau lebih memperhatikanku, aku ingin kau tahu ketika aku tak ada. Aku ingin kau selalu berada disampingku.

Sial, Aku tak tahan lagi, aku harus memlikimu sekarang, aku tak perduli jika ada yang terluka. Aku ingin tubuh yang sempurna. Tidak… aku lebih ingin jiwa yang sempurna.

Malam hari selepas jam kantor aku sengaja menunggu mu pulang. Kau selalu lembur dan ini adalah kesempatanku. aku membuntuti mu dari belakang. Di tempat parkir, Saat kamu lengah aku segera membungkam mulutmu dengan kain yang sudah diisi chlorofom. Seketika kau terjatuh lemas, aku segera menahan tubuhmu dari belakang. Sebisa mungkin aku tidak akan membuatmu terluka. tak ada niatku untuk mencelakaimu, aku hanya ingin melihat keindahanmu setiap saat.

Aku hanya ingin….. kontrol.

……………………………………………

Aku berpaling ketika melihat beberapa orang polisi masuk setelah mendobrak pintu apartemenku.

“turunkan pisaumu sekarang!” teriak salah satu polisi

Semua terasa begitu cepat ketika aku mundur ke arahmu sambil membawa pisau yang kugenggam dari tadi, aku berniat untuk melindungimu

Ledakan peluru itu terdengar begitu keras. Tidak sakit, hanya saja tiba-tiba kakiku terasa sangat lemas, dan aku pun terjatuh, badanku lemah tak dapat digerakan. Beberapa polisi bergerak ke arahmu, aku tidak bisa menggerakan leherku hingga yang dapat kulihat hanya kaki dan sepatu polisi-polisi tadi lewat di depanku

Hanya dalam Beberapa saat, mereka berhasil membebaskan ikatanmu. Polisi –polisi tadi sepertinya mencoba menuntunmu keluar. Dan kau berjalan diantara mereka. Kau pura-pura jatuh terjongkok, sesaat kamu melihat ke arahku, dan aku berani bersumpah bahwa kau tersenyum

Kau bangkit berdiri dan sayap dibelakangmu pun mulai terbuka seolah siap terbang. Dan entah mengapa sepertinya hanya aku yang melihat wujud aslimu ini.

 

Bandung, November 2015

pada satu titik

tesssss

Aku berdiri didepan jendela kaca yang besar di depan sebuah restoran. Tepat di depanku di dalam restoran seorang wanita sedang duduk. Dia sedang menunggu seseorang. Wanita itu berkemeja putih rapih, sepertinya dia baru saja pulang kerja. Tak lama seorang pria masuk dan langsung duduk didepan wanita tadi. dia langsung meminta maaf karena terlambat. Lalu mereka berdua kembali bercakap-cakap selama beberapa menit sebelum wanita tadi berdiri untuk ke membersihkan diri.

Setelah memastikan wanita itu berada di toilet. Pria tadi lalu mengeluarkan kotak merah kecil dari sakunya dan membukanya. Setelah melihat cincin didalamnya, dia menoleh ke arahku. Entah mengapa perasaanku berharap pria itu tidak melakukan ini. Aku melihat iba dan menggelengkan kepala mencoba membuat pria tadi membatalkan niatnya. Tapi Pria itu hanya mengepalkan tangannya dan kembali menggengam kotak kecil tadi.

Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali ke tempat duduknya. Lalu secara tiba-tiba pria itu menyodorkan kotak merah berisi cincin diatas meja. Untuk sesaat aku bisa melihat ekspresi wanita itu seperti kecewa, lalu dia merubah ekspresinya menjadi terlihat sangat bahagia. Pria itu tersenyum sangat lega. Setelah memasangkan cincin dijari manis wanita tadi, mereka kembali bercakap-cakap, dan aku tetap berdiri diluar jendela mengamati.

Setelah beberapa saat mereka keluar dari restoran dan berjalan menyusuri jalan besar dibawah lampu jalan. Selama 20 menit aku terus membuntuti dari belakang. Mereka bergandengan tangan, dari belakang terlihat mereka diciptakan untuk berpasangan, tapi siapa yang dapat tahu masa depan mereka seperti apa. Tak lama mereka sampai disebuah rumah besar. Setelah berdiri saling berhadapan selama beberapa menit pria itu lalu mencium kening wanita tadi dan berlalu, sepertinya dia pamit untuk pulang.

Untuk beberapa saat wanita itu masih berdiri di tempatnya, dan tidak masuk ke dalam. Aku terus memperhatikannya, sepertinya dia sedang memastikan bahwa pria tadi sudah pulang. Tiba-tiba wanita membuka tas dan mengambil handphonenya. Beberapa detik kemudian wanita itu sudah berbicara di telepon.

“sayang, kamu kemana aja? Aku kangen nih…” wajahnya terlihat sangat berbeda dari sebelumnya, kali ini dia terlihat ceria dan antusias

“aku beru beres makan malam, kamu jemput ya sekarang?” wanita itu memindahkan telepon ke tangan kiri, dengan cincin yang masih terpasang di jarinya

Aku membalikan badan dan berjalan, Kata-kata berikutnya sudah tidak ingin ku dengar. Kasihan pria tadi, dia melompat untuk mendapatkan kebahagian, hanya untuk mengetahui kebahagiaan itu sudah didapatkan pria lain.

……………………………….

“Hi.. maaf aku terlambat”

Kau hanya tersenyum seolah berkata tidak apa-apa.

“kau tampak cantik sekali hari ini dengan berbaju putih”

Aku duduk dan mencoba mengajakmu menceritakan kabarmu hari ini. sambil terus memegang kotak di saku. Ketika kau beranjak untuk pergi ke toilet, aku mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan membukanya. Aku melihat kembali cincin yang sudah aku siapkan sejak tahun lalu. Aku menoleh keluar dan melihat aku yang berdiri diluar jendela kaca. Aku yang berada diluar sepertinya mengamati dari awal aku duduk disini. tiba-tiba aku yang berada diluar menggelengkan kepalanya dengan wajah iba, seolah melarangku untuk melakukan hal yang sudah kupersiapkan sejak satu tahun lalu.

Kau kembali ke duduk dikursi, dengan wajah yang sangat cerah. Aku pun memberanikan diri dan meletakan kotak berisi cincin itu diatas meja. Wajahmu sangat terkejut, untuk sesaat kau tampak kecewa meski kemudian kaupun langsung terlihat sangat bahagia. Aku bernafas lega dan melirik kearah aku yang berdiri diluar jendela. Tekadku sudah bulat…

Karena pada satu titik, meskipun kau tahu bagaimana ini akan berakhir kau tetap akan melakukannya.

Bandung – Juni 2015

Lift

Aku tidak pernah menyukai lift. Ruangan sempit yang bergerak naik turun membuatku sering pusing. Kadang untuk 3, 4 lantai aku lebih memilih untuk naik tangga saja. Sama seperti sekarang saat aku harus menjaga mama yang sedang di rawat inap di lantai 5 rumah sakit pemerintah di Bandung. Aku memilih untuk menggunakan tangga untuk naik turun.

Setelah beberapa hari menjaga mama di Rumah Sakit. Aku sudah hapal dengan beberapa Dokter yang merawatnya. Tapi hanya satu yang menarik perhatiannku. Dokter Rita, warna kulitnya putih, matanya sipit dan rambutnya sepundak. Aku belum resmi berkenalan dengannya hanya aku sempat memperhatikan nametag di baju dokternya. Namanya Rita Dania.

Seperti malam-malam sebelumya, jika aku bosan dikamar menemani mama, aku biasa duduk di depan lift, di selasar yang mengarah ke ruangan inap. Karena mama diruangan nomor 1 aku masih bisa mendengar mama jika beliau memanggilku.

Sudah beberapa menit aku duduk di depan lift, belum ada satu pun yang keluar dari dalam lift, aku sebenernya berharap Dokter Rita yang keluar dari lift. Karena beberapa kali aku melihatnya aku memperhatikan dia belum mengenakan cincin di jari manisnya, jadi siapa tahu terbuka peluangku untuk berkenalan. 10 menit berlalu dan masih tidak ada orang yang keluar dari lift, aku terus menunggu sambail mempeharikan handphone, agar pesan kaka tidak terlewat olehku. Kakak tadi memberitahu bahwa dia akan membutukan bantuan membawa barang ketika dia akan menggantiku menjaga mama.

“ding” suara pintu lift terbuka dan Dokter Rita keluar dari dalam lift menuju ke arahku duduk. Aku sangat senang dan segera tersenyum dan menyapanya “dok”

Dokter Rita tersenyum balik ke arahku dan meneruskan jalannya dan berjalan masuk ke arah ruang mama. Aku tadinya mau bergerak ke ruangan mama dan mengajak dokter Rita berbicara untuk lebih mengenalnya.

Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk dari handphoneku. Rupanya ada pesan masuk dari Kaka

“KAKAK DIBAWAH, CEPAT TURUN PAKE LIFT AJA!”

Aku bangkit, Sambil membaca pesan kakak, aku berjalan ke lift dan menekan tombol turun. Tidak berapa lama pintu lift terbuka dan aku pun segera masuk ke dalam dan menerkan tombol 1 sambil terus tertunduk membaca pesan kakak. Dan pintu lift pun tertutup

“sendiri aja?”

Aku terkejut karena tiba-tiba terdengar suara dari belakangku, aku teringat tadi ketika masuk aku memang berjalan menunduk. Aku menoleh ke arah suara tadi dan melihat Dokter Rita sedang berada di bagian kiri lift.

“oh dokter Rita. Iya dok…. Ini…… mau…… tu…run”

Semua kata-kataku semakin terdengar kecil. Aku teringat bahwa sebelum aku didalam lift ini, Dokter Rita baru saja keluar dari lift dan masuk ke dalam ruangan mama

Seketika hatiku berdegap kencang. Aku segera membalikan badan ke arah pintu lift. Dan menekan tombol buka berulang-ulang. Sedangkan angka di lift baru menunjukan angka 4.

“kok buru-buru mau keluar? Mau kemana?”

Aku tertawa canggung, bingung mau menjawab apa kepada suara dibelakangku. Keringat dingin mulai bercucuran dari kepalaku. Dan angka di lift baru saja menunjukan angka 3

Suasana di dalam lift tiba-tiba menjadi sangat hening dan lebih dingin dengan tiba-tiba, aku bahkan bisa mendengar gerakan kaki yang digeser dari belakangku. Aku melihat angka baru saja berubah menjadi 2

Aku menutup mata dan mencoba berdoa, berdoa apapun yang aku ingat. Aku nyaris berteriak ketika aku merasakan tepukan di bahu kiriku. Aku memutuskan untuk menutup mata dan berdoa hingga terdengar bunyi pintu terbuka dan segera berlari keluar

Detik-detik berikutnya terasa sangat lama dan aku masih bisa meraskan hingga sekarang dinginnya tangan yang menepukku dari belakang, aku berpikir mengapa aku bisa sesial ini. Hingga tiba-tiba terdengar bunyi “ding” dari pintu lift. Aku tahu bahwa aku sudah sampai di lantai 1 dan pintu lift akan segera terbuka

Aku memberanikan membuka mata dan mendorong pintu lift agar terbuka lebih cepat. Aku berhasil keluar dari lift dan berlari tanpa melihat ke belakang. Tetapi Belum juta tiga langkah berlari aku menghentikan langkahku. Karena aku baru saja tersadar aku keluar lift masih dilantai 5. Tampaknya aku beberapa saat lalu hanya diam di dalam lift dengan mahluk apa entah dibelakangku.

Tanpa berpikir mengapa aku masih di lantai 5 aku segera berlari masuk ke ruangan mama dan untungnya Mama masih terbangun, terkejut dengan kehadiranku yang terengah-engah.

“Ma, apa tadi dokter Rita masuk ke dalam ruangan?” ujarku tanpa mempedulikan nafas yang masih terengah-engah

“Dokter Rita? Dokter Mama namanya Dokter Ari”

“Dokter Rita, Ma. Dokter yang selalu masuk ke ruangan ini Yang rambutnya sebahu”

“Dokter Ari rambutnya pendek”

“yang kulitnya putih Ma”

“kulitnya coklat”

“yang matanya sipit”

“dia pake kacamata”

Ibu tiba-tiba memotong kata-kataku.

“kulit putih, rambut sebahu, mata sipit” maksudmu seperti perempuan itu?” ibu menunjuk ke arah pintu dibelakangku

Aku terdiam dan menelan ludah, mencoba mengingat apa pernah aku melihat Dokter Rita memeriksa mama, yang aku tahu dia hanya keluar masuk ruang mama, dan apa aku pernah melihatnya mengobrol dengan orang lain selain aku.

pelan-pelan aku menoleh ke belakang, memberanikan diiri untuk membuktikan kata-kata ibu. Seketika lututku menjadi lemas, karena diarah ibu menunjuk hanya ada pintu yang kosong.

Bandung, Maret 2015

would you rather be hurt?

Dia tidak cantik, wajahnya tidak menonjol diantara teman-temannya. Tingginya tidak semampai, kulitnya tidak putih, hidungnya tidak mancung. Tetapi yang kutahu Ica adalah orang yang baik dan itu yang membuat dia menjadi istimewa.

Aku mengenal dia sudah hampir 6 tahun. Sejak pertama bertemu karena dikenalkan teman di kampus. Awalnya aku tidak begitu memperhatikannya. Tetapi sikap dia yang tanpa cela dalam bertingkah laku membuatku terus semakin tertarik kepadanya. Setiap aku mencoba berbicara kepadanya dia selalu mendengarkan dengan serius, dia membuat aku seperti penting didepannya.

Hingga saat lulus, aku dan ica berpisah kota. Tetapi aku tidak pernah berhenti mengaguminya. Setiap dia berganti profile picture di BBM aku pasti berhenti beberapa menit untuk mengamati fotonya. Lalu otakku bekerja dengan cepat, menebak dimana foto itu diambil, dengan siapa, kapan, dan apa yang ada dalam pikiran Ica. Terlalu jauh memang, Tapi mau bagaimana lagi, Aku sudah menyukainya.

Setelah bertahun-tahun hanya berkomunikasi dengan pesang singkat, hanya sekadar basa-basi menanyakan kabar. Akhirnya kesempatan mengetuk kepadaku. Aku dipindah tugaskan ke kota yang sama dengan Ica. Tanpa pikir panjang aku pun memberitahu kabar ini kepada Ica dan dia merespon dengan sangat sopan dan seperlunya. Tetapi entah mengapa untukku ini seperti perayaan tahun baru, natal dan paskah yang digabung menjadi satu, aku sangat senang.

Akhirnya setelah aku berada di kota asalku aku memberanikan diri untuk mengajak Ica bertemu

“Ca, weekend kemana? Ada acara gak?”

“gak ada Ga, emang kenapa? Mau jalan?”

“yuk? Jam 9 Ya besok? Kampus?”

“ok”

Hari itu aku habiskan dengan sempurna bersama Ica. Seperti semesta mendukung. Percakapan kami mengalir tanpa ada yang perlu ditutupi. Aku semakin tahu mengenai keluarga, pekerjaan, hobi, hampir semua dia ceritakan. Seperti apa kata semua orang, waktu pasti akan berlari ketika kau bersenang. Sekarang Pukul 10 malam aku berada diluar rumah Ica. Dia berterima kasih atas weekend yang menyenangkan dan berharap bisa melakukannya lagi.

Setelah 10 menit berbicara didepan pintu gerbang, ica pun mengucap kata pamit dan masuk kedalam halaman.

Aku yang berdiri dibelakang akhirnya memutuskan untuk memanggil dia kembali.

“Ca”

Ica menoleh dan menjawab dengan senyuman.

Senyum manisnya itu Dalam sekejap sudah membawa lamunanku di atas pelaminanan, rumah pertama, ruang bersalin, anak pertama kami yang belajar berjalan.

“ya?” ujar ica membuyarkan lamunanku

Untuk sesaat lidah ini ingin segera bertanya berbagai hal, tapi Dalam benakku aku memikirkan kembali apa yang aku inginkan. Aku berharap terlalu tinggi, aku sangat tidak menginginkan dia berkata tidak.

Would I risk a chance of getting hurt?or… never know at all?

Aku hanya menunduk. Harusnya penolakan itu hal biasa, tetapi entah mengapa mendengar kata tidak dari dia pasti akan sangat menyakitkan.

Aku terdiam terlalu lama. Ica pun akhirnya berkata

“kalo gak ada apa-apa lagi, aku masuk yah Ga”

Ica membalikan badan dan mulai berjalan. Ketidak beranian ku memang hanya pantas dihargai dengan memandang ica dari belakang. Tidak akan ada yang berubah selama tidak ada yang ku ucapkan. Tapi aku rasa lebih baik seperti ini. biar aku mengagumi dari jauh saja.

………………

Undangan itu tidak mewah, tidak disertai tinta emas, tidak disertai amplop plastik,tidak ada foto indah kedua mempelai. Sangat sederhana, tetapi nama Ica diatas sana yang membuat itu istimewa.

Ku bolak balik undangan itu masih tidak percaya. Lalu tiba-tiba muncul lah rasa sakit di dalam dada. Seperti sesak yang aku tahu ini bakal akan selalu kupendam seumur hidup. Aku sadar ini lah Penyesalan. Karena ternyata selama ini aku salah……. tidak mengetahui perasaanmu jauh lebih menyakitkan dari pada penolakan.

Bandung, Maret 2015